Selasa, 24 Januari 2012

Paulus

PAULUS

Tokoh yang satu ini memang layak untuk dipelajari. Dari seluruh kitab dalam Perjanjian Baru separuhnya ditulis oleh Paulus. Dia lahir dalam keluarga mapan dan terdidik, dia lahir ki kota Tarsus, yaitu kota perdagangan dan kota dimana penduduknya sangat suka sekali dengan ilmu pengetahuan.
Penduduk yang tinggal di kota Tarsus bukan hanya satu suku bangsa, tetapi terdiri dari berbagai-bagai bangsa yang berbeda, itu sebabnya tidaklah mengherankan jika Paulus memiliki dua kewarganegaraan, yaitu sebagai orang Yahudi juga terdaftar sebagai warga negera Romawi.
Paulus termasuk sosok yang cukup cerdas, itu sebabnya ketika dia dikirim oleh keluarganya ke Yerusalem untuk belajar di sekolah kerabian, dia mendapat kesempatan untuk secara langsung dididik oleh Gamaliel guru besar dalam sekolah tersebut dan dari situlah dia menjadi seorang Farisi yang terkemuka dan dikenal oleh banyak orang.

Petrus

PETRUS

Tokoh pertama dalam Perjanjian Baru yang akan dipelajari adalah Petrus. Tokoh ini memiliki peranan yang penting dalam kehidupan kekristenan, kisah kehidupannyapun juga cukup menarik untuk dipelajari.
Nama Petrus memiliki arti batu karang, nama panggilan lainnya adalah Simon dan memiliki arti mendengarkan. Ia berasal dari kota Betsaida daerah Golan yang terletak di tepi danau Galilea, itulah sebabnya aktifitas atau pekerjaannya sehari-hari adalah sebagai nelayan dan menangkap ikan.
Berikut ini adalah rincian perjalanan hidup Petrus :
1.      Penjala ikan menjadi penjala manusia
“Dan ketika Yesus sedang berjalan menyusur danau Galilea, Ia melihat dua orang bersaudara, yaitu Simon yang disebut Petrus, dan Andreas, saudaranya. Mereka sedang menebarkan jala di danau, sebab mereka penjala ikan. Yesus berkata kepada mereka: "Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia."” (Matius 4:18-19).
Sebagai seseorang yang dilahirkan dilingkungan nelayan, tidaklah mengherankan jika setelah dewasa Petrus menjadi nelayan dan menjala ikan di danau Galilea bersama dengan saudaranya Andreas.
Saat sedang asik-asiknya Petrus mencari ikan dan mulai menebar jalanya, Yesus yang sedang lewat dan melihat dua bersaudara tersebut memanggilnya, bukan untuk minta ikan atau membeli ikan tetapi untuk maksud dan tujuan yang tidak pernah diduga oleh Petrus sebelumnya.
Saat Yesus melihat Petrus dan saudaranya Andreas, DIA memanggil mereka berdua untuk mengikuti Yesus. Mendengar ajakan Yesus mereka berdua secara spontan langsung meninggalkan jala mereka dan kemudian mengikuti Yesus untuk memberitakan Injil (kabar keselamatan).

Sabtu, 21 Januari 2012

Rut

RUT

Tokoh yang satu ini sangatlah istimewa. Hal tersebut dikarenakan Rut sebenarnya bukanlah orang Yahudi, sebab dia adalah seorang perempuan Moab. Namanya tercatat dalam Alkitab, bahkan kisah kehidupannnya dibukukan dan menjadi salah satu bagian dari Alkitab, karena dari keturunannyalah nanti pada akhirnya Daud yang merupakan nenek moyang Yesus lahir.
Berikut ini adalah rincian perjalanan hidup dari Rut :
1.      Pernikahan Rut pertama kalinya
“Keduanya mengambil perempuan Moab: yang pertama bernama Orpa, yang kedua bernama Rut; dan mereka diam di situ kira-kira sepuluh tahun lamanya.” (Rut 1:4).
Rut sebenarnya adalah orang Moab. Kisah pernikahannya dengan orang Yahudi dimulai saat terjadi kelaparan di Israel dan ada satu keluarga Yahudi mengungsi ke daerah Moab dan menetap disana. Keluarga tersebut adalah Elimelekh dan Naomi dan kedua anak laki-laki mereka.
Setelah Elimelekh meninggal kedua anak mereka menikah dengan perempuan Moab, yang pertama dengan Orpa dan yang kedua dengan Rut. Setelah beberapa tahun menikah dan belum memiliki keturunan kedua orang tersebut meninggal juga.

Daniel

DANIEL

Dari semua tokoh yang ada di Alkitab, Daniel adalah salah satu tokoh yang istimewa dan patut untuk dipelajari perjalanan hidupnya. Ia adalah satu-satunya tokoh yang tercatat dalam Alkitab yang mengabdi pada empat penguasa yang berbeda, yaitu Nebukadnezar, Belsyazar, Darius dan Koresh. Pada masing-masing masa/penguasa Daniel memiliki kedudukan dan peranan penting dalam setiap kerajaan dimana dia bekerja dan mengabdikan dirinya.
Berikut ini adalah rincian perjalanan hidup dari Daniel :
1.      Kehidupan Daniel saat pemerintahan raja Nebukadnezar
a.      Daniel bekerja di istana Nebukadnezar
“Dalam tiap-tiap hal yang memerlukan kebijaksanaan dan pengertian, yang ditanyakan raja kepada mereka, didapatinya bahwa mereka sepuluh kali lebih cerdas dari pada semua orang berilmu dan semua ahli jampi di seluruh kerajaannya.” (Daniel 1:20).

Ester

ESTER

Ester adalah salah satu dari sedikit wanita yang pernah tercatat dalam sejarah Alkitab. Namanya tercatat dalam Alkitab karena dia (Ester) memiliki peranan penting dalam kelangsungan hidup bangsa Israel. Oleh karena dialah seluruh bangsa Israel di pembuangan tidak jadi dimusnahkan dan tetap hidup serta bisa beranak cucu sampai mereka bisa kembali ke negeri mereka.
1.      Kejatuhan ratu Wasti
“Tetapi ratu Wasti menolak untuk menghadap menurut titah raja yang disampaikan oleh sida-sida itu, sehingga sangat geramlah raja dan berapi-apilah murkanya.” (Ester 1:12).
peta


Yusuf anak Yakub

YUSUF
Tokoh pertama dalam Alkitab yang akan kita pelajari adalah Yusuf. Ia adalah sosok yang luar biasa dan memiliki karakter yang baik dan patut dicontoh oleh setiap orang percaya.
Hal itu bukan berarti Yusuf tidak penah memiliki masalah dalam hidupnya. Semenjak dia masih kanak-kanak, ia sudah dibenci oleh saudara-saudaranya. Mereka membenci Yusuf karena merasa Yusuf mendapatkan perlakuan yang khusus dari orang tuanya.
1.      Yusuf menjadi anak kesayangan orang tuanya (Kejadian 37:3)
“Israel lebih mengasihi Yusuf dari semua anaknya yang lain, sebab Yusuf itulah anaknya yang lahir pada masa tuanya; dan ia menyuruh membuat jubah yang maha indah bagi dia.” (Kejadian 37:3).
Yusuf mendapatkan perlakuan yang sangat istimewa dari ayahnya Yakub/Israel karena Yusuf lahir pada masa tuanya. Selain itu Yusuf juga merupakan anak pertama dari istri yang paling dicintai oleh Yakub yaitu Rahel (Kejadian 29:30 dan 30:22-24).

Jumat, 20 Januari 2012

Renungan Harian, 31 Januari 2012

Kasih yang Nyata
2 Samuel 9:1-13; Lukas 6:35
“Kemudian berkatalah Daud kepadanya: "Janganlah takut, sebab aku pasti akan menunjukkan kasihku kepadamu oleh karena Yonatan, ayahmu; aku akan mengembalikan kepadamu segala ladang Saul, nenekmu, dan engkau akan tetap makan sehidangan dengan aku.” (2 Samuel 9:7)
Hari ini kita belajar dari satu tokoh dalam kebenaran firman. Tokoh itu adalah raja Daud. Dia adalah seorang raja yang luar biasa yang sangat dikasihi oleh Allah. Ia begitu dikasihi oleh Allah, karena sikap dan kararternya yang luar biasa.
Raja Daud walaupun di masa lalunya sangatlah dibenci oleh Saul, bukan karena raja Daud berbuat suatu kesalahan, tetapi karena iri hati, ia sampai dikejar-kejar oleh raja Saul dan menjadi buronan kerajaan, bahkan Saul beriktiar untuk membunuh Daud. Namun dalam beberapa kesempatan emas dimana Daud bisa dengan leluasa untuk membalas dan membunuh Saul, namun ia tidak melakukan hal tersebut. Hal itu dikarenakan, selain Saul adalah mertuanya sendiri, Daud juga orang takut akan Allah dan mengerti akan kebenaran. Ia tidak mau menjamah orang yang dikasihi oleh Allah.
Walaupun raja Daud tidak diperlakukan dengan baik oleh keluarga Saul, namun sama sekali Daud tidak dendam kepada keluarga Saul bahkan tidak juga kepada keturunannya. Hal itu ditunjukkan oleh Daud dengan memperhatikan anak dari Yonatan dan cucu dari Saul. Anak itu adalah Mefiboset. Daud mengambil Mefiboset dan memberikan dia sejumlah fasilitas yang dibutuhkan dan ia mendapat kehormatan untuk selalu makan semeja dengan raja Daud seumur hidupnya. Suatu hal yang luar biasa.
Melalui kisah raja Daud yang kita pelajari saat ini, kita belajar tentang kasih yang sejati. Kasih yang buka “jika” tetapi kasih yang “walaupun” apa yang orang lakukan kepada kita, kita tetap mengasihi orang tersebut, walaupun orang tersebut memusuhi kita.
Yesus sendiri mengajarkan tentang kasih kepada sesama. Ia juga berkata kasihilah musuhmu (Luk 6:35). Ketika Yesus berkata demikian Ia sendiri telah memberikan teladan pada setiap kita orang percaya. Pada waktu ia disiksa, Ia sama sekali tidak membalas, padahal bagi Dia adalah perkara yang sangat mudah untuk membinasakan manusia, sebab Ia adalah Allah.
Renungan :
Biarlah melalui renungan hari ini, kita diingatkan akan pentingnya hidup dalam kasih. Biarlah kasih itu menjadi nyata dalam kehidupan saudara, sehingga nama Yesus dipermuliakan dan tercermin melalui kehidupan saudara.
Kasih adalah identitas orang percaya

Renungan Harian, 30 Januari 2012

Hal Menghakimi
2 Samuel 4:1-12; 2 Tesalonika 1:5
“Kepala Isyboset itu dibawa mereka kepada Daud di Hebron dan mereka berkata kepada raja: "Inilah kepala Isyboset, anak Saul, musuhmu itu, yang ingin mencabut nyawamu; TUHAN pada hari ini telah membiarkan tuanku raja mengadakan pembalasan atas Saul dan atas keturunannya.” (2 Samuel 4:8)
Semenjak manusia jatuh dalam dosa, tabiat dosa mulai masuk dalam kehidupan manusia. Manusia mulai kehilangan tanggung jawabnya sebab gambaran Allah dalam diri manusia telah rusak. Manusia mulai saling mempersalahkan satu sama lain.
Hal semacam itu sudah muncul ketika Allah datang mendekat kepada manusia (Adam dan Hawa) di taman Eden setelah manusia memakan buah pengetahuan dan jatuh dalam dosa. Ketika Allah bertanya kepada Adam tentang keberadaannya sekarang, Adam mulai menyalahkan Hawa, demikiannya halnya dengan Hawa ketika ditanyai oleh Allah ia menyalahkan ular (Kej 3:9-13). Perbuatan itu berlanjut pada keturunannya Kain yang membunuh adiknya Habel gara-gara ia iri terhadap adiknya karena persembahannya tidak diterima oleh Allah (Kej 4).
Sebagai akibat dosa manusia telah kehilangan Kebenaran di dalam dirinya. Sehingga segala pola pikirnya tidak ada yang benar seturut kehendak Allah. Itulah sebabnya Yesus datang menyatakan kebenaran tersebut kembali kepada manusia, sebab Ia adalah kebenaran yang sejati (Yoh 14:6).
Itu sebabnya sebagai orang percaya kita perlu untuk senantiasa menaklukkan segala pikiran kita kepada Kristus. Sebab dengan demikian kita mengijinkan kebenaran itu menuntun kita dalam mengambil setiap keputusan di dalam kehidupan (2 Kor 10:5).
Ingatlah bahwa penghakiman bukanlah hak kita. Itu sebabnya dalam memandang orang lain kita harus meminta Roh Kudus untuk senantiasa menuntun kita, sehingga kita tidak salah persepsi terhadap seseorang dan salah tuduh. Hal tersebut selain dapat menimbulkan dosa bagi diri kita sendiri juga dapat mengakibatkan kepaitan dari orang lain.
Dengan terus menjaga kehidupan kita dengan cara terus bersandar pada Kristus dan menaklukkan pikiran kita sepanjang umur hidup kita pada Kristus dan membiarkan Roh Kudus menuntun kita dalam mengambil keputusan, maka kita telah menjaga diri kita dari penghakiman terhadap orang lain.
Renungan :
Biarlah melalui firman Tuhan hari ini saudara diingatkan akan pentingnya untuk terus menaklukkan diri kepada Kristus dan membiarkan Roh Kudus bekerja menuntun kehidupan saudara dalam mengambil setiap keputusan
Pikiran adalah alat penggerak kehidupan

Renungan Harian, 29 Januari 2012

Jaga Lidah
2 Samuel 1:1-27; Yakobus 3:1-12
“Dan Daud berkata kepadanya: "Kautanggung sendiri darahmu, sebab mulutmulah yang menjadi saksi menentang engkau, karena berkata: Aku telah membunuh orang yang diurapi TUHAN.” (2 Samuel 1:16)
Jika mendengar tetang lidah, tidak seorang pun yang asing dengan kata ini. Sebab setiap orang pastilah memiliki lidah. Lidah adalah bagian dari tubuh yang walaupun kecil tetapi memiliki arti penting. Kehilangan lidah berarti ada banyak hal yang tidak bisa orang lakukan.
Orang kalau mau makan, untuk menelan makanan yang telah dikunyah pastilah membutuhkan bantuan dari lidah. Terlebih lagi dalam lidah terdapat enzim yang membantu dalam proses pencernaan. Kemudian seseorang juga tidak bisa bicara jika orang tersebut tidak memiliki lidah.
Walaupun lidah adalah bagian tubuh yang kecil, tetapi ia memiliki fungsi yang sangat penting dalam kehidupan kita, terutama dalam berkomunikasi dengan orang lain. Itulah sebabnya firman Tuhan juga menaruh perhatian terhadap organ yang satu ini. Di dalam Perjanjian Lama dan Baru ada ± 103 kata lidah dan satu perikop khusus yang membahas tentang lidah.
Bahkan karena begitu pentingnya lidah, firman Tuhan mengingatkan kepada setiap orang percaya bahwa “hidup dan mati” seseorang dikuasai oleh lidah (Ams 18:21). Sehingga salah sedikit saja kita dalam berkata-kata maka akibatnya akan kita sesali seumur hidup kita jika kita tidak berubah dan bertobat.
Yakobus mengumpamakan lidah sebagai alat kemudi dalam sebuah perahu yang besar. Walaupun alat kemudi itu sangatlah kecil, namun alat tersebut dapat menggerakkan perahu yang besar dan yang beratnya mencapai ratusan ton untuk berbelok ke kanan atau ke kiri (Yak 3:4-5).
Penulis Yakobus juga mengumpamakan lidah sebagai sumber api yang kecil. Walaupun demikian kecilnya ia bisa membakar hutan yang luasnya mencapai jutaan hektar (Yak 3:5-6).
Dengan mengerti dan menyadari, bahwa kehidupan kita sangat dikuasai oleh lidah, maka kita perlu sekali memperhatikan setiap perkataan yang keluar dari mulut kita. Sebab firman Tuhan mengatakan bukan apa yang masuk tetapi apa yang keluar itu yang menajiskan kita.
Renungan :
Biarlah melalui firman Tuhan hari ini membuat saudara sadar akan pentingnya menjaga setiap perkataan yang keluar dari mulut saudara. Biarlah hanya kata-kata yang memberkati orang lain yang keluar !
Jagalah lidah untuk menjaga kehidupan saudara

Renungan Harian, 28 Januari 2012

Jadilah Terang
1 Samuel 22:1-23; Matius 5:13-16
“Berhimpunlah juga kepadanya setiap orang yang dalam kesukaran, setiap orang yang dikejar-kejar tukang piutang, setiap orang yang sakit hati, maka ia menjadi pemimpin mereka. Bersama-sama dengan dia ada kira-kira empat ratus orang” (1 Samuel 22:2)
Selama manusia hidup di dunia ini, Allah tidak pernah menjanjikan pada manusia untuk lepas dari permasalahan hidup. Hal tersebut juga berlaku bagi setiap orang percaya. Hal itu berarti selama orang percaya tinggal dan hidup di dunia ini tantangan dan permasalah hidup itu pasti menjadi hal keseharian.
Walaupun demikian, bukan berarti kita akhirnya memiliki alasan untuk tidak menerapkan hidup dalam kasih di dalam kehidupan kita, sebab kita sendiri masih banyak permasalahan yang perlu untuk diselesaikan.
Ketika Allah memanggil setiap orang percaya menjadi milik-Nya, hal itu juga berarti setiap orang percaya telah menjadi anggota dari kerajaan Allah. Sebagai anggota dari kerajaan Allah, maka setiap orang percaya harus mencerminkan kehidupan sebagai anggota masyarakat kerajaan Allah.
Hal utama yang mencerminkan kehidupan dalam kerajaan Allah adalah kehidupan di dalam kasih. KASIH adalah ciri utama dari masyarakat kerajaan sorga. Itulah sebabnya mengapa Yesus berkata : “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi” (Yoh 13:34-35).
Allah tidak pernah berkata kita hanya boleh mengasihi orang yang mengasihi kita, sedangkan dengan orang yang membenci kita kita tidak perlu mengasihi. Malahan justru Allah menyuruh setiap orang percaya untuk mengasihi orang lain walaupun orang itu tidak mengasihi kita, bahkan kepada orang yang memusuhi kita sekalipun.
Yang Allah inginkan kita memancarkan sinar kemuliaan Allah dalam kehidupan kita, tidak perduli apakah kita memiliki masalah atau tidak, itu adalah kodrat kita sebagai orang percaya. Sama seperti yang digambarkan oleh raja Daud, walaupun ia sedang dalam masalah besar yang mengancam nyawanya, tetapi ia tetap bisa jadi berkat bagi orang disekelilingnya. Itulah sebabnya Daud menjadi orang yang sangat dikasihi oleh Allah.
Jika setiap kita rindu untuk menjadi orang yang sungguh-sungguh dikasihi oleh Allah, biarlah terang kita bersinar dan kita menggarami dunia dengan terang firman Tuhan melalui kehidupan kita yang memancarkan kasih Allah yang nyata dalam kehidupan kita.
Renungan :
Sadarlah bahwa saudara adalah terang dan garam dunia. Sebagai terang tugas saudara menerangi dunia sehingga orang bisa melihat Yesus melalui kehidupan saudara dan saudara menjadi berkat bagi orang lain !
Biarlah terangmu bersinar memancarkan kemuliaan Allah

Renungan Harian, 27 Januari 2012

Kaca Mata Allah
1 Samuel 16:1-23; Lukas 5:22
“Tetapi berfirmanlah TUHAN kepada Samuel: "Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati." (1 Samuel 16:7)
Kita sebagai manusia senang sekali menilai seseorang dari tampak luarnya, walaupun kita belum benar-benar mengenal orang tersebut kita sudah mengambil suatu kesimpulan orang itu baik dan orang yang ini jahat.
Sebagai suatu illustrasi, jika kita berjalan-jalan ke Mall dan bertemu dengan dua orang yang berbeda, yang satu pakaiannya kayak preman, berkumis tebal, wajah menyeramkan, dan yang seorang lagi berpakaian rapi, berdasi dan membawa tas koper. Semua orang, termasuk kita jika bertemu dengan orang yang demikian pasti mengambil kesimpulan bahwa orang yang berpakaian preman dan berwajah seram tadi adalah orang yang jahat dan sama sekali tidak ramah, dan kita harus berhati-hati terhadap dia. Sedangkan dengan orang yang berpakaian rapi dan membawa tas koper kita mengambil suatu kesimpulan bahwa orang tersebut adalah seorang pengusaha kaya yang baik hati dan tidak perlu kuatir kalau dekat dengan dia.
Namun sering kali kita salah tebak orang. Padahal orang yang kita kira jahat sebenarnya adalah seorang polisi yang berpakaian preman, sedangkan orang yang berpakai rapi yang kita duga sebagai pengusaha kaya yang baik hati justru dia adalah seorang pencopet yang sedang menyamar supaya tidak diketahui keberadaannya.
Setiap orang pernah melakukan kesalahan dalam menilai seseorang. Hal tersebut juga terjadi pada Samuel. Pada waktu Allah menyuruh Samuel untuk mengurapi salah seorang anak Isai untuk menjadi raja menggantikan Saul, ia hampir saja mengambil keputusan yang salah sebab ia menyangka bahwa Eliab anak pertama dari Isai adalah anak yang cocok untuk diurapi sebagai raja menggantikan Saul. Hal itu disebabkan perawakan dari Eliab sangatlah pas sebagai raja. Namun seketika itu juga Allah berbicara kepada Samuel bahwa bukan Eliablah orangnya. Allah menegur Elia bahwa bukan apa yang kelihatan oleh mata yang berkenan kepada Allah sebab Allah melihat hati (1 Sam 16:7)
Hari ini kita belajar untuk melihat dari kaca mata Allah dalam memandang seseorang. Biarlah setiap kita dalam memandang sesama kita bukan berdasarkan penampilannya, tapi biarlah setiap kita memiliki hati Kristus yang memandang seseorang jauh dalam hatinya. Mintalah pada Yesus untuk membimbing saudara dalam menilai seseorang, sehingga setiap penilaian saudara terhadap orang lain dibenarkan di mata Allah.
Renungan :
Jika saudara hari ini sadar, bahwa seringkali saudara menilai orang lain hanya dari penampilan, biarlah mulai hari ini kita gunakan hati kita dan selalu bersandar pada Allah dalam memberi penilaian terhadap orang lain.
Hati adalah cerminan hidup seseorang

Kamis, 19 Januari 2012

Renungan Harian, 26 Januari 2012

Dipanggil dan Diperlengkapi

Keluaran 3:1-22; Kisah Para Rasul 1:8

“Lalu firman-Nya : “Bukankah Aku akan menyertai engkau ? Inilah tanda bagimu, bahwa Aku yang mengutus engkau : apabila engkau telah membawa bangsa ini keluar dari Mesir, maka kamu akan beribadah kepada Allah di gunung ini” (Keluaran 3:12).

Reaksi Musa pada waktu pertama kali Tuhan panggil, merupakan gambaran dari reaksi setiap kita pada  waktu permulaan Tuhan panggil kita untuk melayani Dia. Seringkali ketika Tuhan memanggil kita untuk melayani Dia, selalu timbul alasan “siapa aku” dan “apa yang harus aku katakan.” Alasan yang sama dipakai oleh Musa, ketika Allah memanggil dia (ayat 11 dan 13).
Selain Musa, ada beberapa tokoh lain dalam Alkitab, ketika Allah memanggil mereka, mereka merasa tidak layak. Yesaya, ketika Tuhan memanggil dia untuk berbicara kepada bangsa Israel, ia berkata “celaka aku” (Yesaya 6:5). Yeremia, ketika Tuhan memanggil, dia beralasan “aku ini masih muda” (Yeremia 1:6).
Seringkali ketika Tuhan memanggil kita, ada saja alasan yang kita berikan untuk menolak panggilan tersebut. Kita perlu menyadari, ketika Allah memanggil seseorang, Allah tidak pernah iseng dan karena kekurangan orang maka Ia memanggil kita. Ketika Allah memanggil, Allah tahu pasti siapa yang Dia panggil, bukan karena iseng. Ketika Allah memanggil, Ia adalah Allah yang bertanggung jawab, yang melengkapi setiap pribadi yang dipanggil-Nya, sehingga dapat memenuhi tugas dan panggilannya untuk melayani Allah.
Ketika Allah memanggil Musa, Yesaya dan Yeremia, Allah tidak pernah meninggalkan mereka sendiri, tetapi Allah memperlengkapi mereka dengan kuasa-Nya, sehingga mereka dapat memenuhi tugas pelayanannya. Demikian halnya ketika Allah memanggil kita untuk melayani Dia, Ia tidak pernah membiarkan kita sendiri, tetapi Ia menyertai dan memperlengkapi kita dengan Roh dan kuasa-Nya, sehingga kita dapat memenuhi tugas dan panggilan yang Tuhan berikan kepada kita (Yohanes 14:16; Kisah Para Rasul 1:8; Markus 16:17-18).
Dengan demikian, sebenarnya tidak ada alasan bagi kita untuk menolak panggilan Allah dalam hidup kita. Apakah itu dengan alasan “siapa kita”, “apa yang dikatakan” atau pun “aku masih muda”, sebab ketika Allah memanggil, Allah pasti memperlengkapi kita. Kita yang susah bicara dan takut, Tuhan sanggup ubahkan menjadi fasih lidah dan pemberani. Hal itu nampak jelas dalam pribadi Petrus. Petrus sebelumnya hanya pandai bicara namun penakut, sampai-sampai menyangkal Yesus tiga kali. Namun setelah menerima Roh Kudus, ia menjadi pribadi yang luar biasa. Dalam khotbah perdananya, tiga ribu orang bertobat, bahkan ketika diperhadapkan pada Mahkamah Agama, ia dapat memberikan jawaban yang lantang.
Oleh sebab itu, ketika Allah memanggil kita, jangan merasa takut, sebab ketika Ia memanggil, Ia memperlengkapi kita dengan Roh yang membangkitkan dan kuasa untuk memberitakan kebenaran firman-Nya (2 Timotius 1:7-8).

Renungan :
Jika saat ini Tuhan memanggil saudara untuk mengambil bagian dalam pelayanan. Jangan pernah bimbang, merasa kecil hati, dan merasa tidak mampu. Percayalah, ketika Allah memanggil saudara untuk melayani Dia, Ia akan memperlengkapi saudara untuk melakukan tugas pelayanan saudara.

Sebagai Allah yang bertanggung jawab, Ia memanggil, Ia juga melengkapi

Renungan Harian, 25 Januari 2012

Bapa Terbaik

Kejadian 49:1-33; Ibrani 10:34

“Kemudian Yakub memanggil anak-anaknya dan berkata : “Datanglah berkumpul, supaya kuberitahukan kepadamu, apa yang akan kamu alami di kemudian hari” (Kejadian 49:1).

Yakub merupakan contoh dari figur seorang bapa yang baik. Sebagai bapa yang baik, ia senantiasa perhatian kepada anak-anaknya. Ia tahu apa yang diperlukan oleh anak-anaknya dan memenuhi keperluan anaknya tersebut. Hal itu pula yang membuat Yakub di masa tuanya, sebelum ia meninggal, memanggil dan mengumpulkan anak-anaknya untuk memberkati dan memberi harta waris kepada anak-anaknya.
Demikian halnya juga kita, sebagai bapa di dunia ini. Kita pasti rindu untuk memberikan yang terbaik bagi anak-anak kita. Makanan yang terbaik dan paling bergizi, sekolah yang terbaik dan semua kebutuhan anak pasti kita berikan yang terbaik. Terlebih lagi Bapa kita yang di sorga, Ia adalah Bapa yang terbaik dari yang terbaik dan tidak ada yang lebih baik dari Bapa kita.
Sebagai Bapa yang terbaik, Ia tahu kebutuhan kita sebagai anak-anak-Nya. Ia tahu kebutuhan kita yang paling mendasar, yaitu keselamatan. Karena dosa, manusia jauh dari Allah, sedangkan Allah rindu setiap orang dekat dengan-Nya. Oleh sebab itu, Ia memberikan milik-Nya yang Terbaik untuk menebus kita, supaya kita beroleh keselamatan (Yohanes 3:16).
Oleh kematian-Nya (Yesus), kita mendapatkan harta waris yang kekal, yang tidak akan habis dimakan oleh waktu. Berbeda dengan bapa di dunia, sekaya apa pun bapa tersebut, harta warisannya pasti bisa habis. Tetapi Bapa kita memberikan yang terbaik, sesuatu yang kekal dan tidak habis dimakan oleh waktu (Ibrani 10:34).
Hal pertama yang Ia berikan dalam penebusan, ialah kehidupan yang kekal (Lukas 18:28-30) dan kita diangkat sebagai anak-Nya (Yohanes 1:12). Sebagai Bapa terbaik, Ia juga memberikan kepada kita tempat tinggal yang kekal yang tidak bisa rusak dan tidak bisa lapuk, yang tidak memerlukan perawatan serta tidak memerlukan perbaikan (2 Korintus 5:1).
Yang paling luar biasa yang kita terima sebagai anak-anak Allah, harta yang terbesar dan melebihi segalanya, kita menerima Pribadi Allah sendiri. Tanpa menerima Pribadi Allah sebagai harta terbesar dalam kehidupan kita, maka tidaklah mungkin kita menerima bagian yang lainnya. Oleh sebab itu, sebagai anak-anak Allah, Kristus hendaknya menjadi pusat perhatian dalam kehidupan kita. Dengan demikian kehidupan yang kita jalani di dunia ini, kita isi dengan terus berusaha untuk mengenal Kristus dan memperoleh Kristus, yang akhirnya membuat kita juga memperoleh bagian dalam kehidupan yang kekal (Filipi 3:10-11).

Renungan :
Bapa yang kita miliki adalah Bapa yang terbaik yang telah memberikan yang Terbaik pula bagi kita anak-anak-Nya. Oleh sebab itu, tidak ada alasan lagi bagi kita untuk kuatir dan cemas akan masa depan kita, sebab Ia tahu masa depan kita, yaitu masa depan yang penuh dengan pengharapan dan penuh dengan kemenangan.

Sebagai Bapa terbaik, Ia memberikan yang Terbaik – Nyawa-Nya bagi kita

Renungan Harian, 24 Januari 2012

Berserah pada Allah

Kejadian 43:1-34; Yakobus 1:2-4

“Allah Yang Mahakuasa kiranya membuat orang itu menaruh belas kasihan kepadamu, supaya ia membiarkan saudaramu yang lain itu beserta Benyamin kembali. Mengenai aku ini, jika terpaksa aku kehilangan anak-anakku, biarlah juga kehilangan !” (Kejadian 43:14).

Sebagai orang percaya, tentunya kita hidup oleh percaya dan bukannya dengan melihat. Hidup yang kita jalani adalah kehidupan oleh iman percaya kita kepada Yesus Kristus sebagai pengharapan kita, penolong dan penyelamat kita.
Terkadang dalam menjalani kehidupan kita sebagai orang percaya, ada hal yang tidak kita duga datang dalam kehidupan kita. Ada masalah yang datang dalam kehidupan kita tanpa kita ketahui sebabnya. Memang ada masalah yang timbu oleh karena kesalahan kita. Jika memang demikian, tentunya kita harus segera sadar dan bertobat serta minta pemulihan dari Allah. Tetapi ada kalanya masalah itu timbul tanpa kita ketahui alasannya. Di saat seperti itulah kita harus bersandar dan berserah kepada Allah.
Bisa jadi masalah dan pencobaan yang kita alami adalah suatu proses pengujian iman kita. Apakah kita benar-benar percaya, berserah dan bersandar pada Allah atau tidak ? Oleh sebab itu, Yakobus dalam suratnya memberikan nasehat kepada kita supaya ketika ada pencobaan datang dalam kehidupan kita, kita berbahagia, sebab ujian atas iman kita tersebut akan mendatangkan ketekunan, sehingga kehidupan setiap kita semakin disempurnakan (Yakobus 1:2-4). Ia juga mengingatkan setiap kita, ketika pencobaan itu datang, jangan pernah menuduh Allah sebagai sumbernya, sebab Allah tidak mencobai siapa pun (Yakobus 1:13).
Oleh sebab itu, ketika masalah datang dalam kehidupan kita, hendaknya kita bersikap tenang dan tidak kebingungan. Sebab ketika kita tidak tenang, setiap tindakan yang kita lakukan malah justru membuat masalah itu semakin besar. Kita hendaknya belajar dari sikap Israel (Yakub), ketika ia menghadapi permasalahan dan tidak tahu jawabannya, ia bersandar sepenuhnya pada Allah, sehingga tindakan yang diambilnya bukanlah didasari sikap terburu-buru, tetapi merupakan sebuah langkah iman.
Firman Tuhan mengatakan, “pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia” (1 Korintus 10:13). Dengan demikian, hendaknya kita sadar, ketika Allah mengizinkan permasalah terjadi dalam hidup kita, Ia adalah Allah yang Mahatahu yang mengetahui batas-batas kemampuan kita, sehingga Ia tidak akan pernah mengizinkan permasalahan yang terjadi melebihi kemampuan kita untuk dapat menanggungnya.
Yang perlu kita lakukan ketika masalah terjadi dalam kehidupan kita, ialah berserah dan bersandar sepenuhnya pada Allah dalam iman kita. Allah kita adalah Allah yang setia dan adil yang tidak akan pernah membiarkan kita sendiri, apalagi meninggalkan kita. Jika nyawa-Nya saja Ia berikan bagi kita, supaya kita turut ambil bagian dalam keselamatan, apalagi ketika kita ada masalah, Ia pasti memberikan pertolongan dan memberikan jalan keluar atas setiap masalah yang kita hadapi.

Renungan :
Jika hari-hari ini ada masalah dalam kehidupan saudara, jangan gelisah, apalagi menyalahkan Allah. Serahkan semuanya dalam tangan Allah yang Mahakuasa, Ia pasti menolong dan memberikan jalan keluar. Hanya, berserah saja pada Allah!

Berserah pada Allah adalah awal dari langkah iman

Renungan Harian, 23 Januari 2012

Sadar dan Bertobat

Kejadian 38:1-30; 1 Yohanes 1:9

“Yehuda memeriksa barang-barang itu, lalu berkata: “Bukan aku, tetapi perempuan itulah yang benar, karena memang aku tidak memberikan dia kepada Syela, anakku.” Dan ia tidak bersetubuh lagi dengan perempuan itu” (Kejadian 38:26).

Kehidupan kekristenan merupakan kehidupan yang dinamis dan terus bertumbuh. Proses pertumbuhan tersebut terus berlangsung sampai mencapai taraf kerohanian yang sejati dan merupakan proses seumur hidup. Sebab selama kita masih hidup, proses itu terus berlangsung dan membawa kita semakin tumbuh dewasa dalam pengenalan akan Allah.
Proses pertumbuhan rohani tidak selalu berjalan dengan mulus. Terkadang di tengah-tengah proses tersebut kita dapati kerikil yang licin dan dapat membuat kita jatuh terpeleset. Yesus sendiri mengajarkan kepada kita bahwa jalan yang benar yang harus kita lalui adalah jalan yang melalui pintu yang sesak dan jalan yang sempit, bukan pintu yang luas dan jalan yang lebar (Matius 7:13; Lukas 13:24).
Paulus menyatakan bahwa kehidupan kekristenan merupakan perjuangan dalam melawan hukum dosa, sehingga kita perlu setiap harinya untuk diperbaharui supaya kita menjadi pribadi yang tangguh (2 Korintus 4:16).
Ada kalanya dalam mengiring Kristus kita terpeleset dan jatuh. Sama halnya dengan anak yang belajar berjalan atau belajar naik sepeda, pertama kali mencoba, pasti jatuh. Tetapi anak itu tidak menyerah dan tidak mau belajar, anak itu bangkit dan terus mencoba, sampai akhirnya bisa berjalan dan anik sepeda dengan lancar. Demikian juga dengan kita, ketika kita jatuh, kita harus bangkit dan jangan tinggal dalam kejatuhan kita.
Ketika kita sadar, bahwa ada tindakan kita yang salah, kita harus ambil keputusan untuk bersikap jujur dan mau mengakui kesalahan kita dihadapan Allah. Sebab ketika kita mau bersikap jujur dan mengaku dihadapan Allah akan kesalahan kita, Ia adalah Allah yang baik yang mau mengampuni dan memulihkan kehidupan kita (1 Yohanes 1:9). Allah sangatlah menghargai orang yang jujur dan mau mengakui kesalahannya.
Saat Yehuda menyadari kesalahannya, ia mengaku bahwa ia telah berbuat kesalahan, maka kehidupannya dipulihkan. Bukan saja dipulihkan, bahkan namanya tercatat dalam sejarah sebagai leluhur dari Juruselamat kita, Yesus Kristus (Matius 1:1-3). Dari keturunan Yehuda lahir Daud, seorang raja yang luar biasa. Dari keturunan Daud lahirlah Yesus Sang Juruselamat.
Jangan pernah menyembunyikan kesalahan, sebab hal tersebut bisa mengakibatkan celaka (Amsal 28:13). Seperti yang dilakukan Ananias dan Safira, karena tidak jujur, mereka mendapat celaka, yaitu kematian (Kisah Para Rasul 5:3-11). Oleh sebab itu, jangan pernah sembunyikan kesalahan kita dari hadapan Allah, sebab Ia Mahatahu. Bersikaplah jujur, mengaku dan bertobat. Ketika kita mau jujur, maka Allah mau mengampuni dan memulihkan kehidupan kita.

Renungan :
Jika saat ini saudara sadari ada sesuatu hal yang salah dalam kehidupan saudara. Bersikaplah jujur dihadapa Allah dan akui segala kesalahan saudara supaya ada pemulihan. Sebab jika kesalahan itu ditutupi dan tidak dibereskan, akan menimbulkan kesalahan lainnya yang membawa saudara semakin jauh dari hadapan Allah.

Kejujuran adalah awal dari proses pemulihan

Renungan Harian, 22 Januari 2012

Sebuah Peringatan

Wahyu 2:1-7; Ibrani 12:5-8
“Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula.” (Wahyu 2:4)

Firman yang terdapat dalam Wahyu 2:1-7, merupakan penglihatan jemaat yang pertama yang Tuhan perlihatkan kepada Yohanes diantara ketujuh jemaat yang ada.
Pada mulanya, melalui penglihatan yang diterima oleh Yohanes, Allah bangga dengan jemaat di Efesus. Allah bangga dengan jerih lelah dan ketekunan mereka (ayat 2).
Allah bahkan sangat bangga kepada mereka, karena mereka sabar menghadapi pendusta dan penyesat, membenci mereka dan bahkan mereka rela menderita karena nama Tuhan (ayat 3, 6).
Dari semua penyataan yang ada sebenernya jemaat di Efesus bukanlah jemaat yang tersesat, atau bahkan berdosa kepada Allah. Akan tetapi kemudian Allah menegor dengan keras sebab mereka telah meninggalkan kasih mereka yang semula (ayat 4).
Dikatakan dalam ayat tersebut bahwa Allah “mencela” mereka. Hal tersebut merupakan sebuah peringatan dan teguran dari Allah yang tidak bisa diremehkan.
Firman ini bukan hanya ditujukan bagi jemaat di Efesus saja, tetapi bagi setiap orang percaya.
Seperti firman Tuhan katakan, bahwa ketika Allah memperingatkan dan menegor, bukan berarti Tuhan benci, tetapi justru karena Allah mengasihi anak-anak-Nya (Ibrani 12:5-6).
Melalui firman Tuhan hari ini, Tuhan mau memperingatkan setiap orang percaya agar tidak meninggalkan kasihnya yang semula.
Mungkin saat ini memang benar saudara masih tetap pada iman saudara, tetap datang ke gereja, ke persekutuan-persekutuan atau bahkan melayani Tuhan. Tetapi tanpa sadar semuanya itu hanya menjadi sebuah rutinitas sebagai seorang kristen – hal itu tidak Tuhan inginkan.
Tuhan mau kehidupan kekristenan setiap orang percaya tidak hanya menjadi sebuah rutinitas dan kehilangan kobaran kasih mula-mula.
Tuhan mau sama seperti ketika setiap orang percaya menerima Kristus pertama kali dalam hidupnya. Kehidupan yang diubahkan yang bergantung kepada Allah sepenuhnya dan mau melakukan apa saja dan taat kepada Allah dengan sungguh-sungguh dengan kerelaand ari dalam hati.

RENUNGAN :
            Perhatikan hidup saudara hari ini dan sedikit menoleh kebelakang ketika pertama kali menerima Kristus, masihkah kasih itu berkobar ?, jika tidak segeralah bertobat dan perbaharui  hubungan saudara dengan Allah.

Jangan biarkan api kasih itu redup, tetaplahj menyala-nyala dalam Tuhan

Renungan Harian, 21 Januari 2012

Rahasia Hidup Bahagia

Wahyu 1:1-3; Matius 5:6
“Berbahagialah ia yang membacakan dan mereka yang mendengarkan kata-kata nubuat ini, dan yang menuruti apa yang ada tertulis di dalamnya, sebab waktunya sudah dekat.” (Wahyu 1:3)

Hari-hari ini dunia mengalami depresi yang cukup berat. Sebagai akibat resesi dunia dan krisis moneter global semuanya serba tidak menentu.
Krisis kali ini tidak hanya berdampak pada masyarakat kelas bawah, tetapi sudah mencakup seluruh lapisan masyarakat. Bahkan perusahaan-perusahaan besar tidak sedikit yang kolaps gara-gara krisis tersebut.
Di Amerika perusahaan otomotif raksasa seperti GM dan Ford sangatlah terpengaruh dan terancam tutup. Di Jepang sebuah perusahaan elektronik besar seperti Sony yang tidak pernah mengalami kerugian dilaporkan akhir tahun 2008 dan awal tahun 2009 mereka mengalami kerugian.
Demikian halnyua dengan anak-anak Tuhan. Jika anak-anak Tuhan menaruh pengharapan dan kehidupannya pada harta di dunia ini, pastilah akan mengalami kekecewaan, depresi, kehilangan sukacita dan damai sejahtera.
Oleh sebab itu, firman Tuhan melalui Yohanes berkata “berbahagialah ia yang membaca, mendengar dan menuruti” firman Tuhan.
Sepintas jika anak- anak Tuhan membaca ayat ini, mungkin bertanya-tanya. Apakah dengan membaca, mendengar dan menuruti firman Tuhan segalanya langsung berubah ? Harga-harga l;angsung turun dan ekonomi membaik, sehingga tidak perlu pusing-pusing.
Memang benar ketika setiap orang percaya mau merenuhngkan firman Tuhan, tidak serta-merta keadaan secara otomatis membaik, apalagi mengharapkan dunia ini membaik, itu tidaklah mungkin. Sebab memang dunia yang ada saat ini sedang menuju kesudahannya. Yesus sendiri telah menyatakan hal tersebut. (Matius 24-25).
Dengan senantiasa membaca dan merenungkan firman Tuhan, terlebih lagi mentaatinya, hal tersebut akan merubah paradigma dan pola pikir yang selama ini salah.
Alkitab dan setiap firman yang ada didalamnya merupakan penutun kehidupan setiap orang percaya selama masih di dunia ini. Dengan senantiasa membaca dan merenungkan firman-Nya maka setiap orang percaya semakin kuat dalam iman, mengetahui rencana besar Allah dalam hidup setiap orang percaya dan hidup berbahagia.

RENUNGAN :
            Sebagai anak-anak Tuhan, hendaknya kehidupannya tidak bergantung pada apa yang terjadi di dunia, tetapi hidup bergantung dan bersandar pada Allah dengan senantiasa merenungkan firman Tuhan siang dan malam.

Kebahagiaan tidak dipegnaruhi oleh keadaan dunia, tetapi seberapa kita mau percaya dan bersandar pada Allah

Renungan Harian, 20 Januari 2012

Tahan Uji
Roma 5:1-11; 1 Korintus 3:14
“Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan.”  (Roma 5:3-4)

Setiap orang yang telah percaya kepada Kristus adalah orang-orang yang telah dibenarkan dihadapan Allah. Dan sebagai orang yang telah dibenarkan, Allah menghendaki setiap orang percaya hidup dalam kebenaran tersebut, sebab kebenaran bukanlah sebuah norma atau nilai tetapi Pribadi (Yoh 14:6), yaitu Kristus sendiri.
Allah tidak pernah menjanjikan ketika orang percaya hidup dalam kebenaran, maka kehidupannya akan senantiasa berjalan mulus tanpa ada tantangan sedikitpun. Dalam kehidupan mengikut Kristus tantangan, ujian dan permasalahan itu tetap masih ada. Tetapi dalam hal ini Allah ada dipihak orang percaya, menyertai dan memberikan kemenangan.
Di dalam kehidupan kekristenan ada saat-saat dimana pengujian itu datang. Kehidupan kekristenan seperti sebuah emas yang baru ditemukan dari sebuah penambangan. Emas yang baru ditemukan tidak serta merta langsung mengkilat dan bisa dipakai, tetapi emas itu masih kotor dan butuh proses yang panjang dan lama untuk menghasilkan emas yang murni dan bisa dipakai.
Demikian halnya kehidupan orang percaya setiap ujian yang dihadapi bukanlah dengan maksud untuk menghancurkan kehidupan orang percaya, namun untuk membawa orang percaya semakin murni dan berkenan dihadapan Allah. Sebagaimana emas yang diuji dalam api dengan suhu yang tinggi, dimurnikan, ujian pun memurnikan kehidupan orang percaya.
Ketika ujian itu datang dalam kehidupan kita, janganlah kita menjadi bimbang dan cemas tetapi senantisa berharaplah kepada Allah. Tuhan menjanjikan pada setiap orang percaya, saat sudah melewati ujian ada upah yang menanti. Itulah sebabnya saat ujian datang jangan lekas menyerah dan menyalahkan Tuhan, tetapi anggaplah ujian tersebut sebagai suatu tantangan yang membuat setiap orang percaya semakin dekat dengan Allah.
Renungan :
Biarlah melalui firman Tuhan hari ini saudara semakin diteguhkan dan dikuatkan. Ingatlah janji Tuhan bahwa setiap ujian yang datang tidak akan pernah melebihi kekuatan saudara. Tetap kuat di dalam Tuhan dan jadilah pemenang yang timbul sebagai emas yang murni.
Ujian adalah sarana untuk menunjukkan bahwa saudara benar-benar di jalan Allah!

Renungan Harian, 19 Januari 2012

Mau Dibentuk
Roma 12:1-8
“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. " (Ezra 1:3)

Setiap orang percaya pasti tidak asing dengan kata dibentuk. Kata ini digunakan untuk membentuk sesuatu dari yang tidak ada bentuknya sama sekali menjadi sebuah bentuk yang indah dan dapat dikenal.
Dalam Alkitab kata ini digunakan untuk seorang penjunan yang sedang membentuk tanah liat menjadi sebuah bejana dan benda-benda lain yang berharga. Proses tersebut dimulai dari pemilihan tanah, pembersihan tanah dari kotoran, diproses dengan air, dibentuk dan diselesaikan.
Kehidupan kita orang percaya adalah seperti tanah liat di tangan Allah. DIA adalah sang Maestro yang menghasilkan karya-karya yang terbaik bahkan tidak satu pun dari seniman di dunia ini yang dapat menyamai karya-Nya. Ditangan DIA kita akan dibentuk menjadi sesuatu yang sangat berharga dan mempermuliakan Allah kita Sang pembentuk kehidupan kita.
Firman Tuhan yang kita baca hari ini mengingatkan kepada setiap orang percaya, bahwa di dalam pembentukan karakter Kristus di dalam kehidupan orang percaya perlu adanya kerja sama antara Allah sebagai Pribadi yang membentuk dan kita orang percaya sebagai pribadi yang dibentuk oleh Allah.
Tanpa adanya kemauan dari kita, maka pembentukkan itu tidak akan terjadi, sebab Allah bukanlah Pribadi yang memaksakan kehendak. Itulah sebabnya Rasul Paulus mengingatkan setiap kita orang percaya untuk menyerahkan diri kita sepenuhnya kepada Allah (Rm 12:1), untuk secara sukarela mau dibentuk oleh Allah.
Allah mau kita sepenuhnya mengikuti apa yang Allah mau dalam kehidupan kita dengan tidak menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi hidup sebagaimana firman Tuhan katakan, yaitu hidup taat dan melakukan kebenaran firman Tuhan.
Renungan :
Jika saat ini saudara dalam masa-masa pembentukan oleh Allah. Janganlah saudara mengeraskan hati saudara, sebab hal tersebut akan memperlama proses tersebut. Ikutilah kehendak Allah dengan sepenuhnya tunduk pada kehendak firman-Nya
Jadikan tubuhnya sebagai tanah liat yang mudah dibentuk oleh Allah!

Renungan Harian, 18 Januari 2012

SINGKIRKAN KEDAGINGAN

Kejadian 21: 1-34; Galatia 4:21-31
                “Berkatalah Sara kepada Abraham :”Usirlah hamba perempuan itu beserta anaknya, sebab anak hamba ini tidak akan menjadi ahli waris bersama-sama dengan anakku Ishak” (Kejadian 21:10).

Kita tahu bahwa Ishak adalah anak perjanjian yang Allah berikan kepada Abraham. Sedangkan Ismael adalah anak Abraham dengan gundiknya Hagar. Dengan demikian sangatlah wajar jika Ishak menjadi ahli waris Abraham, sedangkan Ismael tidak. Itulah sebabnya mengapa Allah tidak menyalahkan tindakan Sara (Kejadian 21:12).
Secara rohani anak yang dilahirkan oleh Sara adalah anak yang diperanakkan menurut Roh, sedangkan anak yang dilahirkan oleh Hagar adalah anak yang diperanakkan dalam daging (Galatia 4:23).
Kita sebagai orang percaya adalah anak yang dilahirkan dalam Roh, sehingga kita dilayakkan sebagai ahli waris dari Allah, yaitu warisan kehidupan yang kekal dalam kerajaan sorga.
Oleh sebab itu, sebagai anak yang dilahrikan dalam Roh, kita bukan lagi hamba dosa (kedagingan), tetapi kita adalah orang yang merdeka oleh karena penebusan Kristus di atas kayu salib.
Sebagai anak yang dilahirkan di dalam Roh, kita tidak bisa hidup menuruti daging sekaligus hidup menuruti Roh. Sebab kehendak daging dan Roh sangatlah bertentangan. Keinginan daging adalah dosa yang mendatangkan maut, sedangkan keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera (Roma 8:6). Oleh sebab itu, sebagai orang percaya kita harus hidup menuruti Roh sebagai manusia baru, yagn telah mati dalam kedagingan dan dilahirkan kembali sebagai manusia baru dalam kebangkitan Kristus (Roma 6:4).
Paulus mengingatkan kita sebagai orang percaya agar hidup berpadanan dengan panggilan kita untuk hidup dalam kekudusan (1 Tesalonika 4:7). Kita harus menyingkirkan semua kedagingan sebagai produk dari manusia lama dan hidup sebagai manusia baru yang hidup dalam kekudusan. Manusia yang hidup dalam Kristus, berakar dan dibangun di atas Kristus. Ia mengingatkan kita supaya kita membuang semua amarah, kata-kata kotor, kepahitan, kegeraman, kemarahan dan segala kejahatan. Ia mau setiap kita hidup dalam kasih dan pengampunan (Efesus 4:29-32).
Sebab jika tidak demikian, jika kita masih membiarkan kedagingan ada dalam kehidupan kita, Roh Kudus didukakan oleh tindakan kita tersebut.
Jangan biarkan kedagingan muncul dalam kehidupan kita, sebab kedagingan adalah penghalang dari hubungan kita dengan Allah. Singkirkan semua kedagingan yang ada dan mulai hidup menurut kehendak Roh. Hidup sebagai manusia baru yang penuh dengan kasih baik kepada Allah maupun sesama, sukacita, damai sejahtera, hidup dalam kesabaran, dalam kemurahan, penuh kebaikkan, kesetiaan kepada Allah dan dalam keseluruhan unsur buah Roh, sehingga kehidupan kita sebagai orang percaya memuliakan Allah.

Renungan :
Perhatikan kehidupan kita saat ini dan bercermin pada firman Tuhan hari ini. Jika masih ada kedagingan dalam kehidupan kita, jangan tunda dan jangan biarkan secara berlarut-larut. Segera ambil keputusan untuk bertobat dan meningkirkan segala kedagingan supaya iman kita terus bertumbuh.

Kedagingan adalah ragi yang membuat hidup anda cemar dihadapan Allah.

Renungan Harian, 17 Januari 2012

Mintalah Petunjuk dari Allah

Kejadian 24:1-67; Matius 7:7-11
                “Lalu berkatalah ia :”TUHAN, Allah tuanku Abraham, buatlah kiranya tercapai tujuanku pada hari ini, tunjukkanlah kasih setia-Mu kepada tuanku Abraham” (Kejadian 24:12).

Kehidupan merupakan sebuah misteri. Tidak seorang pun tahu akan apa yang akan terjadi di depan. Tahun 2008 telah berlalu dan telah lewat. Sebelumnya para pakar ekonomi sebelum memasuki tahun tersebut berkeyakinan bahwa tahun 2008 perekonomian dunia bertumbuh dengan baik dan menggembirakan. Tetapi ketika memasuki bulan September mulai terasa gejolak ekonomi dan bulan November terjadi krisis keuangan dunia yang luar biasa.
Hari-hari ini dunia semakin tidak menentu dan bergejolak, tidak seorang pun dapat menduga apa yang akan terjadi di depan. Dampak dari krisis bukan saja mempengaruhi orang dunia, kita sebagai orang percaya pun merasakan dampak dari krisis tersebut.
Sebagai orang percaya kita tidak perlu kuatir dan takut dalam menghadapi situasi yang ada. Yang perlu kita lakukan adalah berdoa, bersandar pada Allah dan percaya. Sebab Tuhan sendiri berjanji bahwa ketika kita berdoa dengan sungguh-sungguh dan percaya, maka Ia akan memberikannya pada kita (Markus 11:24).
Jangan pernah mengandalkan kekuatan kita sendiri ketika kita menjalani kehidupan, tetapi hendaklah kita senantiasa berharap dan bersandar pada Allah serta minta pimpinan Roh Kudus. Sebab Roh itu membantu kita berdoa kepada Allah untuk menyampaikan hal-hal yang tidak terkatakan (Roma 8:26).
Kita tidak perlu kuatir dan cemas akan apa pun yang terjadi dan yang kita lihat. Sebagai orang percaya, kita tidak hidup dengan melihat situasi dan kondisi yang ada, tetapi hidup kita hendaknya kehidupan yang bersandar, beriman dan percaya pada Allah (2 Korintus 5:7).
Tetapi Tuhan juga memperingatkan kita agar ketika kita berdoa kepada Allah, kita harus sepenuhnya beriman dan percaya akan kuasa pertolongan Allah yang sanggup menuntun hidup kita. Jangan pernah biarkan kebimbangan dan keraguan itu meruntuhkan iman kita dan menjadi penghalang atas doa-doa kita. Yakobus menuliskan agar kita minta dalam iman dan tidak bimbang. Ketika kita bimbang kita tidak akan pernah menerima jawaban dari doa kita (Yakobus 1:6-7). Sebab ketika kita bimbang, ragu dan kuatir, secara tidak langsung kita menyangkali iman kita sendiri dan meragukan kuasa Allah yang sanggup menolong dan menuntun kita.
Ketika kita berdoa, kita harus benar-benar yakin dan percaya akan kuasa Allah yang sanggup mengubahkan hidup kita. Sebab seperti orang tua, ketika anaknya datang dan meminta pertolongan, pasti orang tua tersebut memberikan pertolongan pada anaknya. Terlebih lagi Bapa kita yang di sorga, ketika kita meminta kepada-Nya dengan sungguh-sungguh dan percaya, Ia pasti memberikan yang terbaik pada kita.

Renungan :
Jika hari-hari ini saudara bimbang dan cemas, hanya ada satu jalan, datanglah  pada Yesus dalam doa dan permohonan. Ia berjanji akan memberikan kelegaan dan jalan keluar. Jangan ragu, percaya saja.

Doa adalah kunci untuk membuka pintu kemustahilan.

Rabu, 18 Januari 2012

Renungan Harian, 16 Januari 2012

Dipanggil sebagai Imam
Imamat 8:1-36; 1 Petrus 2:9
“Maka Harun dan anak-anaknya melakukan segala firman yang diperintahkan TUHAN dengan perantaraan Musa” (Imamat 8:36).
Imamat 8, secara khusus menceritakan tentang pentahbisan Harun serta anak-anaknya sebagai imam yang melayani di kemah suci. Serangkaian acara disusun dan dilakukan sesuai perintah TUHAN. Mulai dari memakai seluruh perlengkapan imam, pencurahan korban penghapus dosa, korban bakaran sebagai korban api-apian yang menyenangkan TUHAN, barulah pentahbisan Harun dan anak-anaknya serta pengutusannya dilakukan. Dalam prosesi pentahbisan tersebut harus ada korban darah, dimana darah tersebut dioleskan pada cuping telinga kanan, ibu jari tangan kanan dan ibu jari kaki kanan sebagai lambing pengudusan. Kemudian diperciki minyak urapan pada Harun dan anak-anaknya serta pada pakaian mereka, barulah mereka melakukan tugas keimaman dan melakukan perintah TUHAN, sebab keimaman mereka telah sah dihadapan TUHAN.
Setiap orang percaya merupakan imam-imam Allah dalam Perjanjian Baru (1 Petrus 2:9). Sebagaimana keimaman dalam Perjanjian Lama, bahwa keimaman disahkan oleh korban darah dan pengurapan minyak. Demikian halnya dengan keimaman setiap orang percaya dalam Perjanjian Baru, telah disahkan oleh korban darah, bukan darah binatang tetapi oleh darah Anak Domba Allah, yaitu Yesus Kristus, sebagai korban yang sejati dan sempurna (Ibrani 10:10). Dengan demikian kita telah disahkan sebagai imam, yaitu hamba-hamba Allah, sebab kita telah dikuduskan oleh darah Kristus (Roma 6:18, 22). Setiap orang percaya juga menerima pengurapan, bukan minyak, tetapi pengurapan Roh Kudus yang memampukan setiap orang percaya untuk melakukan tugas keimamannya untuk memberitakan Kristus (Kisah Para Rasul 1:8).
Dengan demikian tidak ada alasan bagi setiap orang percaya untuk tidak melayani Allah. Sebab keimaman setiap orang percaya telah disahkan oleh korban darah Kristus dan pengurapan Roh Kudus. Sebagai seorang imam, orang percaya dituntut untuk hidup kudus, sama halnya dengan imam dalam Perjanjian Lama. Hidup kudus bukanlah sebuah pilihan, tetapi suatu ketetapan. Tuhan mau supaya setiap orang percaya kudus, sebab Allah adalah kudus (1 Petrus 1:15-16). Tanpa kekudusan, tidak seorang pun dapat dekat dan menghadap Allah. Jika mendekat dan menghadap Allah saja tidak bisa, bagaimana bisa melayani Allah ? Oleh sebab itu, kekudusan merupakan hal yang esensi dan sangat penting yang perlu mendapat perhatian penuh dari setiap orang percaya. Cara menjaga kekudusan, dengan mempersembahkan tubuh kepada Kristus (Roma 12:1-2) dan menaklukkan pikirannya pada pikiran Kristus (2 Korintus 10:5b).
Orang percaya sebagai imam dan hamba Kristus wajib melayani dan memberitakan Kristus dan meyatakan kemuliaan-Nya. Memberitakan Kristus bukan saja dengan mulut, tetapi hidup sebagai suratan terbuka dengan hidup menjaga kekudusan, ketaatan pada Allah dan hidup dalam kasih.
Renungan :
Biarlah melalui renungan hari ini, setiap kita sadar akan keberadaan kita sebagai imam-imam dan hamba Allah. Sebagai seorang imam, kita patut hidup kudus, hidup sebagai suratan terbuka dan hidup dalam dan menyatakan kasih Allah.
 Seorang imam harus kudus dan memancarkan terang

Renungan Harian, 15 Januari 2012

Korban Sejati
Imamat 6:1-30; Ibrani 9:13-14
“Imam harus mengadakan pendamaian bagi orang itu di hadapan TUHAN, sehingga ia menerima pengampunan atas perkara apa pun yang diperbuatnya sehinggan ia bersalah” (Imamat 6:7).
Di dalam Perjanjian Lama, setiap orang yang berbuat salah dan berbuat dosa, haruslah mereka datang ke rumah Allah untuk mempersembahkan korban sebagai ganti untuk menebus kesalahan mereka. Korban tersebut diserahkan pada imam, dan para imamlah yang mengolah korban tersebut serta megnadakan pendamaian bagi orang yang membawa korban tersebut dihadapan Allah.
Bisa dibayangkan, betapa sibuknya para imam dengan sejumlah korban yang banyak, sebab jumlah orang Israel pada waktu itu pun juga cukup banyak. Apalagi jika pola demikian diterapkan pada zaman sekarang, pasti luar biasa sibuknya. Pada waktu itu, setiap orang melakukan kesalahan atau dosa, ia harus memberikan korban penghapus salah berupa domba, kambing, lembu dan hewan korban lainnya. Jika orang tersebut melakukan kesalahan tiga kali dalam sehari, maka ia pun harus tiga kali mempersembahkan korban. Bisa dibayangkan berapa banyak jumlah dana yang harus dipersiapkan setiap harinya, sebab manusia tidak mungkin tidak melakukan kesalahan dalam hidupnya.
Kita, sebagai orang percaya, patutlah mengucap syukur, karena kita memiliki Imam Besar yang sangat luar biasa. Jika dalam Perjanjian Lama seorang imam harus mempersembahkan korban untuk dirinya sendiri, barulah mempersembahkan korban bagi dosa umatnya, maka Imam Besasr yang kita miliki tidaklah demikian. Sebagai Imam Besar yang sejati, Ia tidak mengorbankan binantang, tetapi Ia mempersembahkan diri-Nya sendiri sebagai korban, dengan cara mati di atas kayu salib (Ibrani 7:26-27).
Sebagai Imam Besar, Ia telah mati untuk menebus setiap kita. ia adalah korban yang tidak bercacat dan tidak bercela, sehingga Ia telah menjadi korban satu kali untuk selama-lamanya. Dengan demikian, kita umat tebusan-Nya telah disucikan dan didamaikan dengan Allah, sehingga kita layak untuk beribadah kepada Allah yang hidup (Ibrani 9:13-14). Hal itu Ia lakukan, sebab tanpa korban darah, tidak ada pengampunan dan tidak ada pemulihan (Ibrani 9:22).
Itulah sebabnya, kita harus senantiasa mengucap syukur. Dengan pengorbanan-Nya yang sempurna, kita tidak perlu lagi membawa korban untuk dosa kita dan untuk mendapatkan keselamatan. Oleh pengorbanan Kristus sebagai Imam Besar, kita memperoleh jaminan keselamatan dan mendapat bagian dalam kerajaan sorga yang kekal. Sebagai rasa syukur kita, atas keselamatan yang telah Allah berikan pada kita, hendaknya kita hidup menyenangkan hati Allah. Hal itu dapat dilakukan dengan cara tetap berpegang teguh pada iman percaya dan pengharapan kita pada Yesus dan hidup seturut kebenaran firman-Nya.

Renungan :
Sadarilah bahwa sebagai Imam Besar, Kristus telah memberikan nyawa-Nya untuk menebus kita, sehingga setiap kita beroleh keselamatan. Jangan sia-siakan pengorbanan Kristus dengan cara tetap hidup sebagai manusia lama yang hidup di dalam dosa!
Imam Besar sejati memberikan korba sejati – nyawa-Nya

Learn The Truth of Christian Values Headline Animator

Entri Populer