Senin, 27 Februari 2012

Renungan Harian, 28 Pebruari 2012

Melayani dari Masa Muda

2 Tawarikh 34:1-33; 1 Timotius 4:12
“Pada tahun kedelapan dari pemerintahannya, ketika ia masih muda belia, ia mulai mencari Allah Daud, bapa leluhurnya, dan pada tahun kedua belas ia mulai mentahirkan Yehuda dan Yerusalem dari pada bukit-bukit pengorbanan, tiang-tiang berhala, patung-patung pahatan dan patung-patung tuangan.(2 Tawarikh 30:9)

Satu lagi pahlawan Allah yang luar biasa. Namanya adalah Yosia dan dia adalah raja atas Yehuda. Yang luar biasanya dia duduk memerintah sebagai raja sejak usianya masih tergolong anak-anak, yaitu delapan tahun.
Saat usianya menginjak enam belas tahun, yaitu di tahun kedepalan dalam masa pemerintahannya ia sungguh-sungguh mencari Tuhan dan di tahun keduabelas, ia mengadakan suatu pembaharuan atas negerinya. Sama seperti yang dilakukan oleh Hizkia, ia mengadakan terobosan rohani yang luar biasa. Yosia tidak merasa canggung walaupun pada waktu itu usianya masih muda, dia tetap melakukan apa yang benar di mata Tuhan.
Dalam Perjanjian Baru juga ada tokoh yang demikian, namanya adalah Timotius. Ia adalah anak rohani dari Paulus dan sejak dari masa mudanya ia melayani Allah bersama-sama dengan Paulus. Ia didorong terus dan diberi semangat oleh Paulus bapak rohaninya untuk tidak menjadi takut walaupun ia muda (1 Tim 4:12).
Hal yang sama saat ini juga berlaku bagi setiap saudara anak-anak Tuhan. Walaupun mungkin saat ini usia masih muda, tidak ada alasan bagi saudara untuk tidak melayani Tuhan. Justru pada masa mudalah saudara harus melayani dia – disaat masa-masa keemasan dalam kehidupan saudara –, jangan tunggu kalau sudah tua nanti.
Ikutilah teladan dari Yosia dan Timotius, walaupun secara usia mereka masih muda, tetapi semangat mereka dalam melayani Tuhan sungguh luar biasa. Walaupun saat ini saudara masih muda ikutilah teladan mereka dengan melayani Tuhan dengan sungguh-sungguh dan menjaga kekudusan saudara. Dengan demikian saudara benar-benar berfungsi sebagai garam dan terang bagi Kristus dan menyatakan kemuliaan-Nya. 

Renungan :
Melalui firman Tuhan hari ini saudara diingatkan agar tidak berdiam diri. Tuhan mau saudara ambil bagian dalam pelayanan untuk menyatakan kasih Tuhan bagi sekeliling saudara. Dengan demikian kemuliaan Allah dinyatakan melalui kehidupan saudara. Amin.

Pergunakanlah masa mudamu untuk melayani Tuhan

Renungan Harian, 27 Pebruari 2012

Terobosan Rohani

2 Tawarikh 30:1-27; Kisah Para Rasul 3:19-20
“Karena bilamana kamu kembali kepada TUHAN, maka saudara-saudaramu dan anak-anakmu akan mendapat belas kasihan dari orang-orang yang menawan mereka, sehingga mereka kembali ke negeri ini. Sebab TUHAN, Allahmu, pengasih dan penyayang: Ia tidak akan memalingkan wajah-Nya dari pada kamu, bilamana kamu kembali kepada-Nya!”           (2 Tawarikh 30:9)

Bacaan firman Tuhan hari ini berisi kisah tentang cerita Hizkia raja Yehuda. Ia adalah seorang raja yang hidup berkenan dihadapan Allah. Ia bukan hanya orang yang takut akan Allah, tetapi ia juga adalah seorang pemimpin dan hamba Allah yang baik.
Semasa hidupnya, ia membuat seruan pertobatan bagi bangsanya dan merayakan Paskah sesuai dengan apa yang Tuhan perintahkan. Bahkan apa yang mereka lakukan sudah lama tidak dilakukan semenjak jaman Salomo (ayat 26).
Hizkia melakukan suatu terobosan rohani bagi bangsanya. Dan apa yang ia lakukan bagi bangsanya sangatlah menyenangkan hati Allah. Ia tahu benar tugas dan tanggung jawabnya sebagai raja Yehuda pada waktu itu, yaitu untuk membawa kembali bangsanya kepada penyembahan yang benar kepada Allah yang hidup.
Keberadaan kita sebagai orang percaya hendaknya sama seperti Hizkia. Menjadi berkat dan membawa dampak bagi orang-orang yang berada disekeliling kita. Sebab kita adalah terang dan garam bagi Kristus (Mat 5:13-16), yang harus senantiasa memancarkan kemuliaan Allah dalam kehidupan kita sehari-hari.
Dimanapun kita berada, kita harus menjadi dampak dan membawa terobosan rohani bagi sekeliling kita. Kita bukan digarami, tetapi menggarami dunia dengan kasih Allah yang telah kita terima, melalui pengorbanan Kristus di kayu salib.
Sebagai anak-anak Tuhan kita harus membuat perubahan bagi sekeliling kita dan membuat sekeliling kita menjadi sesuatu yang berkenan kepada Allah, sama seperti yang dilakukan oleh Hizkia pada bangsanya.
Sama seperti Petrus juga, sebelumnya dia adalah pribadi yang penakut, tetapi setelah ia dipenuhi oleh Roh Kudus, ia menjadi pribadi yang luar biasa dan bersaksi dihadapan banyak orang dan atas kesaksiannya lebih dari tiga ribu orang bertobat. Kita pun juga bisa melakukan hal yang sama.

Renungan :
Biarlah melalui firman Tuhan hari ini roh saudara dibakar dan dikobarkan kembali. Bawa perubahan dan jadilah terang bagi sekelilingmu dan biarlah nama Tuhan dipermuliakan melalui kehidupan saudara.

Biarlah terangmu bercahaya dan dilihat oleh semua orang!

Renungan Harian, 26 Pebruari 2012

Tinggi Hati

2 Tawarikh 26:1-23; 1 Timotius 6:17-19
“Setelah ia menjadi kuat, ia menjadi tinggi hati sehingga ia melakukan hal yang merusak. Ia berubah setia kepada TUHAN, Allahnya, dan memasuki bait TUHAN untuk membakar ukupan di atas mezbah pembakaran ukupan.” (2 Tawarikh 26:16)

Penulis kitab Amsal mengatakan, “Kecongkakan mendahului kehancuran, dan tinggi hati mendahului kejatuhan.” (Amsal 16:18). Nampaknya hal itulah yang terjadi pada raja Uzia. Pada masa mudanya, saat pertama kali ia menjabat sebagai raja, ia adalah seseorang yang didapati benar dihadapan Allah, ia mencari Allah selama hidup Zakharia (ayat 5).
Dalam peperangan ia senantiasa menang dan kerajaannya semakin kokoh dan kuat. Ia mendirikan menara, memiliki pasukan yang kuat dan persenjataan yang lengkap. Itu semuanya ia peroleh karena ia adalah seorang raja yang berkenan kepada Allah.
Namun setelah kerajaannya semakin kuat, raja Uzia menjadi tinggi hati dan menjadi sombong. Ia tidak lagi bertanya pada Tuhan akan apa yang ia lakukan, ia bertindak sendiri dan berubah setia kepada TUHAN. Ia melakukan suatu kesalahan yang sangat fatal yaitu membakar ukupan di mezbah Tuhan yang seharusnya hanya boleh dilakukan oleh para imam – persis yang dilakukan raja Saul yang membuat ia ditolak oleh Allah menjadi raja atas Israel – dan sebagai akibatnya ia terkena sakit kusta sampai pada hari matinya.
Sering kali hal yang sama juga terjadi pada setiap orang percaya. Pada waktu seseorang pertama kali percaya pada Yesus, atau sedang berada di dalam permasalahan, orang tersebut akan bersungguh-sungguh mencari Tuhan (kasih mula-mula). Namun setelah lama menjadi orang Kristen dan permasalahannya sudah beres bahkan menjadi orang yang diberkati dan sukses secara finansial mulai lupa dan meninggalkan Tuhan.
Baru setelah tertimpa masalah kembali, baru sadar dan bertobat. Dan anehnya hal tersebut tidak terjadi sesekali, tetapi berulang kali. Itu sebabnya rasul Paulus mengingatkan setiap kita bahwa apa kita miliki saat ini, bukan semata-mata hasil jerih lelah kita smata, tetapi karena berkat Tuhan saja. Paulus menegaskan agar setiap orang percaya tidak menjadi tinggi hati dan sombong saat beroleh pemulihan dan berkat dari Tuhan. Tetapi menggunakan setiap kekayaan yang dimiliki untuk saling membangun dan memuliakan nama Tuhan.

Renungan :
Melalui firman Tuhan hari ini, biarlah saudara diingatkan agar tidak jatuh dalam dosa kesombongan dan tinggi hati. Pergunakan setiap keberhasilan yang saudara miliki untuk membangun saudara yang lain dan memuliakan nama Tuhan.

Tinggi hati adalah awal kehancuran. Waspadalah !

Renungan Harian, 25 Pebruari 2012

Campur Tangan Allah

2 Tawarikh 22:1-46; Yohanes 8:2-11
“Tetapi Yosabat, anak perempuan raja, mengambil Yoas bin Ahazia, menculik dia dari tengah-tengah anak-anak raja yang hendak dibunuh itu, memasukkan dia dengan inang penyusunya ke dalam gudang tempat tidur. Demikianlah Yosabat, anak perempuan raja Yoram, isteri imam Yoyada, --ia adalah saudara perempuan Ahazia--menyembunyikan dia terhadap Atalya, sehingga ia tidak dibunuh Atalya.” (2 Tawarikh 22:11)

Kita sadari atau tidak, Allah senantiasa memperhatikan kehidupan anak-anakNya. Mata-Nya tidak pernah lelah untuk senantiasa memperhatikan setiap orang percaya (1 Pet 3:12). Ia selalu mengawasi anak-anakNya.
Disaat terlemah dalam kehidupan kita sekalipun, sekali-kali Ia tidak pernah meninggalkan kita berjuang sendirian. Namun demikian banyak sekali orang percaya tidak menyadari akan hal tersebut. Yang terjadi sering kali ketika mereka merasa ada beban permasalah yang terjadi dan menimpa kehidupan mereka, pada awalnya mereka berdoa, tetapi ketika jawaban doa itu tidak kunjung datang yang mereka lakukan mulai mengeluh dan mempertanyakan Tuhan, apakah Dia tidak mendengar?
Seringkali kita juga mengalami hal yang sama. Kita berada dalam posisi yang terjepit dan tidak bisa berbuat apa-apa. Namun justru disitulah iman kita sedang diuji oleh Allah. Pada kondisi yang demikian kita berada dalam suatu persimpangan jalan, mengikuti keinginan kita atau bersandar pada Allah. Jika kita terjebak dan salah dalam mengambil keputusan dengan mengikuti keinginan kita maka kita justru menyusahkan diri kita sendiri pada akhirnya.
Sadarilah bahwa Allah kita bukanlah manusia yang sering kali lupa janji. Ia Allah yang setiap dan penyertaan-Nya adalah bersifat kekal. Janganlah, kuatir, takut dan cemas saat badai permasalah menerpa, tetaplah bersandar pada Allah maka Dia pastilah memberikan jalan keluar dalam kehidupan saudara.
Yang jadi permasalahan bukanlah Allah, tetapi kita. Sering kali kita memang ketika menghadapi permasalahan bersandar pada Allah pada mulanya, tetapi karena tidak sabar dalam menantikan pertolongan Tuhan, maka kita bertindak sendiri dan itu justru menggagalkan pertolongan Tuhan dalam kehidupan kita. Itulah sebabnya kita harus terus bersandar pada Allah dan tidak menggunakan kekuatan kita sendiri apapun yang terjadi.

Renungan :
Biarlah melalui firman Tuhan hari ini saudara semakin diteguhkan dan dikuatkan. Ingatlah ketika saudara angkat tangan dan berserah sepenuhnya pada Allah, maka Ia akan turun tangan untuk menyelesaikan permasalahan saudara.

Bila kita angkat tangan, maka DIA pasti turun tangan

Renungan Harian, 24 Pebruari 2012

Matematika Allah

2 Tawarikh 13:1- 22; Matius 14: 13-21
“dan orang-orang Yehuda memekikkan pekik perang. Pada saat orang-orang Yehuda itu memekikkan pekik perang, Allah memukul kalah Yerobeam dan segenap orang Israel oleh Abia dan Yehuda." (2 Tawarikh 13:15)

Kita sebagai manusia senantiasa memperhitungkan segala sesuatunya. Besar – kecil, banyak – sedikit tidak pernah lepas dari pengamatan kita sebagai manusia. Bagi kita sesuatu yang besar pasti lebih kuat dan yang lebih kecil jumlahnya tidak mungkin menang dalam melawan jumlah yang lebih besar. Bagi kita itu adalah sesuatu yang mustahil.
Tetapi tahukan saudara bahwa bagi Allah tidak ada yang mustahil. Bagi Dia segala sesuatunya mungkin dan bisa terjadi. Bacaan firman Tuhan kita hari ini sekali lagi menunjukkan hal tersebut.
Pada waktu Abia menjadi raja atas Yehuda ia hanya memimpin empat ratus ribu orang pasukan sedangkan Yerobeam memimpin delapan ratus ribu orang – jumlah tersebut dua kali lipat dari pasukan yang dimiliki oleh raja Abia. Secara perhitungan matematika, yang menang pastilah pasukan dari Yerobeam raja Israel.
Ketika orang Yehuda memekik perang, saat itu Tuhan mendengarkan seruan mereka dan memukul kalau Yerobeam beserta pasukannya dan di pihak Yerobeam gugur lima ratus ribu pasukan.
Bagi Allah jumlah yang besar ataupun kecil bukanlah masalah. Roma 8 :31 mengatakan : “Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?”. Itu sebabnya jangan pernah mengukur kekuatan saudara berdasarkan matematika dan logika kita sebagai manusia, sebab jika hal itu yang kita lakukan, kita akan kecewa dan jadi kuatir.
Pegang janji firman Tuhan, dan serahkan segala perkara pada Dia, ikuti saja matematika Allah, maka perkara mujizat pasti terjadi. Ketika Yesus memberi makan lima ribu orang hanya dengan lima roti dan dua ikan (Mat 14:17). Yesus membuat perkara yang mustahil bisa terjadi. Percaya saja pada Dia.

Renungan :
Hari ini jadikan kisah dari Raja Abiab semakin menguatkan iman saudara. Jangan lagi berfikir dengan logika dan matematika manusia, percayalah Tuhan ada dipihak saudara dan bersama dengan Dia saudara dapat melakukan perkara-perkara yang besar.

Bagi Allah dua ditambah lima sama dengan lima ribu orang kenyang!

Renungan Harian, 23 Pebruari 2012

Dipakai Allah

1 Raja-raja 18:1-46; Yakobus 5:17
“Jawablah aku, ya TUHAN, jawablah aku, supaya bangsa ini mengetahui, bahwa Engkaulah Allah, ya TUHAN, dan Engkaulah yang membuat hati mereka tobat kembali. Lalu turunlah api TUHAN menyambar habis korban bakaran, kayu api, batu dan tanah itu, bahkan air yang dalam parit itu habis dijilatnya.” (1 Raja-raja 18:37-38)

Ketika kita membaca kisah ini, mungkin kita sudah terbiasa dengan kisah Elia dan apa yang telah dilakukannya di atas gunung Karmel. Ketika itu ia menantang empat ratus lima puluh nabi baal, untuk mendatangkan api, dan setelah Allah menjawab doa dari Elia, ia menyuruh untuk menangkap semua nabi baal tersebut dan kemudian Elia menyembelih seluruhnya di sungai Kison. Kisah ini sungguh luar biasa dan hampir kebanyakan orang sudah mengetahui kisah ini semenjak masih berada di sekolah minggu.
Hal itu Elia lakukan bukan karena Elia yang memiliki kekuatan yang luar biasa dan bukan karena ia adalah seorang peguasa. Elia adalah nabi Allah, sehingga apa yang dilakukan oleh Elia, keberaniannya bukanlah berasal dari dia secara pribadi, tetapi Allah-lah yang memberikan keberanian tersebut kepada Elia dengan tujuan untuk menunjukkan bahwa TUHAN Allah Israel adalah yang benar-benar Allah yang Maha segala-galanya.
Sering kali kita berfikir apakah kita bisa melakukan hal yang sama dengan yang Elia kerjakan yaitu mengadakan mujizat. Alkitab mencatat, Elia adalah manusia biasa, tetapi karena ia bersandar pada Allah maka semuanya itu jadi (Yak 5:17).
Yang mengadakan mujizat sebenarnya bukanlah Elia, tetapi Allah-lah yang menyatakan hal tersebut. Elia hanyalah sebagai alat yang dipakai oleh Allah. Sebagai mana Allah memakai Elia, juga hamba-hamba Tuhan lainnya, Allah juga bisa memakai setiap kita orang percaya untuk mengadakan mujizat. Yang menjadi permasalah disini bukannya bisa atau tidak bisa, tetapi mau atau tidak mau. Jika kita berkata mau untuk dipakai oleh Allah, Allah pasti pakai kita sebagai alat-Nya untuk menyatakan kebesaran Kuasa-Nya. Tentunya jika kita mau dipakai Allah maka kita harus hidup bersandar dan berkenan kepada Allah.

Renungan :
Biarlah melalui renungan hari ini, kita diingatkan pentingnya menjaga diri dan menjadi stabil di dalam Kristus. Janganlah lagi kehidupan kita naik-turun, tetapi secara bertahap terus bertumbuh dan mempermuliakan Kristus.

Biarlah hidup kita terus bertumbuh dan memuliakan Allah

Renungan Harian, 22 Pebruari 2012

Tetap Stabil

1 Raja-raja 14:1-31; 1 Timotius 4:7-10
“Tetapi orang Yehuda melakukan apa yang jahat di mata TUHAN dan mereka menimbulkan cemburu-Nya dengan dosa yang diperbuat mereka, lebih dari pada segala yang dilakukan nenek moyang mereka.” (2 Samuel 9:7)

Jika kita memiliki komputer dirumah, tentunya kita mau agar komputer kita tersebut tidak pernah mengalami permasalahan. Kita mau agar komputer kita tersebut memiliki performa yang baik dan selalu stabil ketika kita pakai untuk bekerja.
Coba, bayangkan jika komputer yang kita miliki itu memang memiliki performa yang baik, tetapi berjalan secara tidak stabil, terkadang berjalan dengan baik, tetapi terkadang seringkali ngadat dan tidak bisa digunakan. Kita pasti sebagai pemiliknya pastilah jengkel.
Allah kita, juga menginginkan hal yang sama dari kehidupan kita orang percaya. Allah mau kehidupan kekristenan kita menjadi stabil dan terus bertumbuh. Bukannya kadang-kadang baik, kadang-kadang buruk. Kita saja sebagai orang tua jika memiliki anak yang kondisinya kadang sehat kadang sakit (sakit-sakitan) pastilah sangat sedih dan mau anak kita memiliki kondisi yang senantiasa sehat.
Janganlah kehidupan rohani kita naik turun, tetapi terus naik. Sering kali orang berfikir, mana mungkin hal tersebut bisa, roda saja berputar terkadang di atas terkadang dibawah, sering kali itu yang dikatakan oleh kebanyakan orang.
Kehidupan kita harus terus meningkat, seiring dengan pertumbuhan kerohanian kita. Apa yang ditunjukkan dalam cerita yang kita baca hari ini adalah sebuah contoh dari kemunduran kerohanian, bahkan bukan hanya mundur tapi terjun payung, dan hal tersebut sangat menyakitkan hati Allah. Dan Tuhan memandang apa yang dilakukan baik Yerobeam maupun Rehabeam adalah suatu kejahatan, sebagai akibatnya ada suatu penghukuman yang harus mereka alami.
Setiap kita tentunya tidak mau mendapatkan murka Allah. Oleh sebab itu, hendaklah kita senantiasa menjaga kehidupan kita, supaya senantiasa berkenan kepada Allah. Jangan sampai apa yang dialami oleh kedua raja tersebut terjadi pada kehidupan kita. 

Renungan :
Biarlah melalui renungan hari ini, kita diingatkan pentingnya menjaga diri dan menjadi stabil di dalam Kristus. Janganlah lagi kehidupan kita naik-turun, tetapi secara bertahap terus bertumbuh dan mempermuliakan Kristus.

Biarlah hidup kita terus bertumbuh dan memuliakan Allah

Renungan Harian, 21 Pebruari 2012

Memuliakan Allah

1 Raja-raja 10:1-29; Yohanes 15:8
“Terpujilah TUHAN, Allahmu, yang telah berkenan kepadamu sedemikian, hingga Ia mendudukkan engkau di atas takhta kerajaan Israel! Karena TUHAN mengasihi orang Israel untuk selama-lamanya, maka Ia telah mengangkat engkau menjadi raja untuk melakukan keadilan dan kebenaran.” (2 Samuel 4:8)

Hari ini, kita belajar lagi dari pribadi raja Salomo, seorang raja yang memiliki hikmat yang luar biasa yang diberikan oleh Allah. Oleh karena hikmat yang ia miliki bahkan Alkitab mencatat bahwa Salomo melebihi segala raja di bumi dalam hal hikmat dan kekayaan (1 Rj 10:23). Hal yang luar biasa.
Berkaitan dengan pertumbuhan rohani seseorang maka sikap dan karakternya semakin lama semakin bertumbuh dan itu semakin nampak dari sikap dan tingkah laku dan hal itu dapat dilihat dan memberkati semua orang yang ada disekelingnya.
Sama halnya dengan Salomo yang bisa menjadi berkat bagi Ratu Syeba yang datang ke kerajaannya dan akhirnya Ratu itu bisa melihat begitu berhikmatnya Salomo yang pada akhirnya ratu tersebut memuliakan Allah yang disembah oleh Salomo.
Kita sebagai orang percaya harus menjadi berkat bagi orang lain. Sebagai seorang kristen yang bertumbuh, sudahlah selayaknya pertumbuhan itu nampak dari sikap, perbuatan dan karakter kita. Sama seperti seorang anak yang bertumbuh itu kelihatan, mulai dari tidak bisa berjalan sampai bisa berlari.
Berkaitan dengan hal tersebut, Yakobus dalam suratnya mengingatkan setiap kita orang percaya agar iman kita itu menjadi nyata dalam setiap perbuatan kita (Yak 2:14-26). Bagian firman Tuhan tersebut mengingatkan setiap kita, bahwa jika kita berkata memiliki iman tetapi tidak menyatakannya dalam perbuatan kita, maka iman yang kita miliki patut untuk ditanyakan.
Biarlah kehidupan setiap kita menjadi suratan yang terbuka, yang dibaca oleh semua orang. Ketika orang tersebut membaca kehidupan kita, bukannya mereka malah menghujat Allah kita, tetapi biarlah mereka boleh diberkati oleh kehidupan kita, bahkan lebih dalam lagi mereka mau mengenal Allah yang kita sembah.

Renungan :
Biarlah melalui firman Tuhan hari ini kita sadar bahwa kehidupan kita adalah transparan dan terlihat oleh semua orang. Biarlah setiap kita menunjukkan pertumbuhan iman kita melalui sikap, tingkah laku dan karakter yang kita miliki.

Tindakan berbicara lebih tegas dari perkataan

Renungan Harian, 20 Pebruari 2012

Anugrah Allah

1 Raja-raja 4: 1:1-27; 2 Tesalonika 2:16-17
“Dan Allah memberikan kepada Salomo hikmat dan pengertian yang amat besar, serta akal yang luas seperti dataran pasir di tepi laut, 4:30 sehingga hikmat Salomo melebihi hikmat segala bani Timur dan melebihi segala hikmat orang Mesir.” (1 Raja-raja 4:29-30)

Setelah Raja Daud meninggal, tahtanya digantikan oleh Salomo anaknya dengan Batsyeba. Dalam pasal sebelumnya dalam doa Salomo, ketika ia menghadap kepada Allah ia memohon kepada Allah sesuatu yang tidak pernah terpikirkan bahkan mungkin bagi kebanyakan orang tidak masuk dalam daftar permohonan doa, tetapi Salomo meminta sesuatu yang sederhana dan justru hal tersebut menyenangkan hati Allah.
Salomo dalam doanya ia meminta hikmat dari Allah, dan ia pun akhir mendapatkan apa yang ia doakan kepada Allah. Bahkan jika dilihat dalam pasal yang kita baca hari ini dapatlah kita ketahui bahwa ketika Allah memberikan hikmat, bukan segala hikmat, tetapi hikmat yang melebihi segala raja-raja lain yang ada di dunia pada waktu itu (1 Rj 4:29-30).
Ketika Allah memberikan sesuatu, tidak pernah Ia memberikan yang sisa-sisa dan asal-asalan, tetapi Allah selalu memberikan kepada umat-Nya yang terbaik bahkan melebihi yang diminta, itulah yang Allah tunjukkan melalui hikmat yang Allah berikan kepada Salomo.
Hari ini, jika saudara dalam pergumulan doa dan meminta sesuatu dari Allah dan saudara masih belum mendapatkannya, janganlah saudara berkecil hati. Ingatlah bahwa Allah yang kita sembah adalah Allah yang sama dengan yang disembah oleh Daud dan Salomo. Allah yang Mahakuasa dan yang tetap sama dulu sekarang dan selamanya, itu sebabnya Ia disebut sebagai Alfa Omega (Why 22:13).
Percayalah Ia, Allah yang setia pasti memberikan apa yang kita doakan, bahkan jauh melebihi apa yang menjadi harapan kita selama ini. Pada waktu berkat itu dicurahkan sampai-sampai kita sendiri bahkan tidak dapat percaya bahwa berkat itu kita terima dari Allah.
Bukan itu saja ketika Allah memberkati kita, berkat itu akan menjadi suatu kesaksian yang hidup dan disaksikan oleh banyak orang, dan mereka akan sadar bahwa semuanya itu tidak akan mungkin didapat jika tidak melalui Allah. 

Renungan :
Biarlah melalui firman Tuhan hari ini membuat saudara sadar dan dikuatkan kembali iman saudara. Bahwa Allah itu benar-benar Allah yang setia dan penuh anugerah. Yang pasti anugerahnya selalu ada untuk orang-orang yang setiap kepada-Nya

Anugerah Allah yang membuat orang percaya itu kuat

Renungan Harian, 19 Pebruari 2012

Semuanya Karena Allah

2 Samuel 23:1-39; Kisah Para Rasul 9:31
“Bukankah seperti itu keluargaku di hadapan Allah? Sebab Ia menegakkan bagiku suatu perjanjian kekal, teratur dalam segala-galanya dan terjamin. Sebab segala keselamatanku dan segala kesukaanku bukankah Dia yang menumbuhkannya?” (2 Samuel 23:5)

Satu lagi cerita tentang Raja Daud, yang membuat dia demikian dikasihi oleh Allah. Sampai kepada akhir masa hidupnya Daud terus memuji Allah dan mengakui bahwa dia bukanlah apa-apa dan tanpa Allah dia tidak dapat berbuat apa-apa. Itulah yang Raja Daud katakan pada perkataan terakhirnya (2 Sam 23:5), suatu perkataan yang luar biasa dari seorang raja yang sangat dikasihi oleh Allah.
Sebagai orang percaya demikianlah hendaknya kehidupan kita. Sering kali orang berbangga akan prestasi yang diraih dalam kehidupannya. Selalu menganggap bahwa semuanya itu diraih karena kemampuannya dan kepandaiannya, tanpa menyadari bahwa itu sebenarnya atas seijin Allah.
Biarlah setiap orang percaya senantiasa meneladani sikap dan karakter dari Daud yang selalu berserah dan bersandaran pada Tuhan. Miliki hati yang senantiasa haus dan rindu untuk senantiasa dibimbing oleh Allah. Ketika sikap yang demikian kita miliki di dalam kehidupan kita maka kita akan menyadari bahwa sebenarnya kita bukanlah apa-apa tanpa Tuhan, kita sekedar manusia berdosa (Rm 3:23).
Oleh karena kasih karunia Allah saja setiap orang peroleh Keselamatan bukan atas dasar hasil usaha kita untuk memperoleh hal tersebut (Ef 2:8). Keselamatan adalah hal yang paling esensi dalam kehidupan manusia. Manusia bisa memperoleh apa saja di dalam kehidupannya, tetapi tanpa keselamatan yang dari Allah, maka semuanya itu akan menjadi tidak ada artinya sedikitnya. Sebab nantinya setelah manusia meninggalkan dunia ini manusia dihadapkan pada dua kekekalan, yaitu kematian kekal dan kehidupan yang kekal. Semua itu tergantung apakah kita mau menerima kasih karunia Allah melalui pengorbanan Kristus di atas kayu salib dan mengakui dia sebagai Tuhan dan Juruselamat secara pribadi.

Renungan :
Sadarlah bahwa saudara bukanlah apa-apa tanpa Allah. Segala sesuatu yang kita peroleh dan nikmati di dunia ini semuanya itu semata-mata atas dasar kasih karunia Allah yang Allah nyatakan di dalam kehidupan kita. Milikilah sikap seperti Daud yang selalu mengakui bahwa Allah adalah sumber kekuatan dalam kehipudan saudara

Biarlah kehidupan kita senantiasa berserah pada Allah

Renungan Harian, 18 Pebruari 2012

Kehidupan yang Diubahkan

2 Samuel 18:1-33; Lukas 6:27, 35
“Dan raja memerintahkan kepada Yoab, Abisai dan Itai, demikian: "Perlakukanlah Absalom, orang muda itu dengan lunak karena aku." Dan seluruh tentara mendengar, ketika raja memberi perintah itu kepada semua kepala pasukan mengenai Absalom." (2 Samuel 18:5)

Daud adalah seorang raja yang luar biasa dan sangatlah dikasihi oleh Allah. Jika dibandingkan antara kesalahan Daud dan Saul raja terdahulu bisa dikatakan kesalahan Daud sebenarnya lebih besar dibandingkan dengan kesalahan yang dilakukan oleh Saul.
Saul melakukan dua kesalahan sehingga dia ditolak oleh Allah untuk mengokohkan kerajaannya. Ketika Saul berperang dengan orang Filistin di Mikmas Allah Saul tidak sabar menunggu Samuel dan dia mempersembahkan sendiri korban bakaran (1 Sam 13), kesalahan yang kedua, ketika Allah perintahkan Saul untuk menumpas habis orang Amalek dia tidak melakukannya (1 Sam 15). Sedangkan Daud juga melakukan suatu kesalahan yang cukup besar. Pada saat semua raja harus berperang Daud tinggal di istananya dan dia melihat Batsyeba dan mengingininya dan kemudian dia melakukan serangkaian rencana jahat dengan membunuh suaminya Uria untuk mendapatkan perempuan tersebut (2 Sam).
Namun ada hal yang berbeda dari kedua orang ini. Saul ketika ditegur oleh nabi Allah, dia tidak bertobat, tetapi malahan ia bersilat lidah dan bahkan mengancam Samuel (1 Sam 15:30), sedangkan Daud, ketika Natan nabi Tuhan datang kepada dia untuk memperingatkan dia sadar dan menyesal (2 Sam 12).
Peristiwa tersebut mengubahkan kehidupan Daud, dan dia semakin bersandar dan berserah kepada Allah dalam setiap langkah kehidupannya. Bahkan kemudian ketika anaknya sendiri memberontak kepada dia, dia masih tetap mengasihi Absalom anaknya dan meminta kepada seluruh para panglima perangnya untuk tidak menjamah Absalom dan membiarkannya tetap hidup.
Sikap yang ditunjukkan oleh Daud merupakan suatu telah kehidupan bagi kehidupan setiap orang percaya. Yesus sendiri berkaitan dengan mengampuni memerintahkan kepada setiap orang percaya agar tidak membenci orang yang membenci kita tetapi tetap mengasihi dan mengampuni seperti sikap yang ditunjukkan oleh Daud baik kepada raja Saul maupun kepada Absalom anaknya yang memberontak kepada dia.

Renungan :
Hari ini jadikan kisah Daud sebagai teladan dalam kehidupan saudara. Milikilah kasih Kristus yang sejati dalam kehidupan saudara, kasih yang mau mengampuni dan melupakan kesalahan orang lain sama seperti yang Kristus perbuat atas kesalahan saudara!

KASIH adalah bahasa orang percaya

Jumat, 24 Februari 2012

Renungan Harian, 17 Pebruari 2012

DOA

1 Tawarikh 4:1-43; Yakobus 5:16
“Yabes berseru kepada Allah Israel, katanya: "Kiranya Engkau memberkati aku berlimpah-limpah dan memperluas daerahku, dan kiranya tangan-Mu menyertai aku, dan melindungi aku dari pada malapetaka, sehingga kesakitan tidak menimpa aku!" Dan Allah mengabulkan permintaannya itu.” (1 Tawarikh 4:10)

Saat ini kita akan belajar dari pribadi Yabes. Jika seseorang mendengar kata Yabes, mungkin sudah sangat hafal dengan ayat ini, sampai-sampai ada sebuah buku yang membahas secara khusus doa Yabes.
Nama Yabes sendiri sebenarnya memiliki arti yang kurang baik. Kata itu mengandung makna kesengsaraan. Nama Yabes diberikan, karena ketika ibu Yabes melahirkan dia, ibunya tersebut mengalami kesakitan yang luar biasa melebihi kesakitan yang biasa (1 Taw 4:9).
Karena latar belakang nama tersebutlah Yabes berdoa dengan sungguh-sungguh kepada Allah supaya Allah menghindarkan dia dari sekala kutuk yang mencelakakan dan dari segala malapetaka. Dan ketika Allah mendengar doa Yabes yang penuh kesungguhan tersebut, Allah mengabulkan permintaannya (1 Taw 4:10).
Allah kita adalah Allah yang penuh dengan kasih yang tidak akan pernah membiarkan anak-anak-Nya selalu berada di dalam permasalahan. Tuhan berjanji dalam firman-Nya jika kita meminta kepada-Nya dengan sungguh-sungguh, pasti Allah akan memberikan apa yang menjadi kerinduan hati kita (Mat 7:7; Mzm 37:4).
Apa yang terjadi pada Yabes pada saat ia berdoa, juga bisa terjadi bagi kita saat kita sungguh-sungguh meminta kepada Allah dalam doa. Yang penting disini adalah bagaimana dengan kehidupan kita. Yakobus mengatakan bahwa “doa orang benar sangat besar kuasanya” (Yak 5:16). Jika kita baca ayat ini dengan sungguh-sungguh ada suatu prasyarat, supaya doa itu didengar oleh Allah. Dikatakan dalam ayat tersebut adalah doa orang benar. Orang benar adalah orang yang hidup sungguh-sungguh berpaut kepada Allah dan hidup seturut dengan perintah-Nya. Jika kehidupan yang demikian yang kita miliki dihadapan Allah, maka mintalah apapun juga, maka Ia (Allah) pasti akan memberikan apa yang saudara minta dan doakan.

Renungan :
Biarlah melalui renungan hari ini, kita diingatkan bahwa kunci dari jawaban doa, bukanlah doa yang panjang dan disertai dengan tangisan yang meluap-luap. Kunci dari jawaban doa adalah, kehidupan kita yang senantiasa hidup dalam kebenaran dan hidup berkenan kepada Allah.

Biarlah hidup kita menjadi dupa yang harum bagi Allah

Renungan Harian, 16 Pebruari 2012

Belajar dari Silsilah Daud

1 Tawarikh 2:1-55; Matius 1:1-17
“Isai memperanakkan Eliab, anak sulungnya, dan Abinadab, anak yang kedua, Simea, anak yang ketiga, Netaneel, anak yang keempat, Radai, anak yang kelima, Ozem, anak yang keenam, dan Daud, anak yang ketujuh;” (1 Tawarikh 2:13-15)

Saat kita membaca pasal hari ini kita mungkin merasa binggung, apa maksudnya satu pasal penuh hanya berisi nama-nama orang dan daftar silsilah. Bahkan mungkin kita sempat berfikir bahwa hal tersebut tidaklah penting.
 Tetapi jika kita mau belajar kebenaran firman Tuhan dan sesuai apa yang Tuhan Yesus sampaikan bahwa selama bumi masih ada maka satu iota pun tidak akan dihapuskan dari firman Tuhan (Mat 5:18). Satu iota adalah sama dengan satu titik. Hal itu berarti, setiap firman yang dituliskan dalam Alkitab bukanlah sekedar ditulis untuk memenuhi Alkitab, tetapi setiap kata itu memiliki makna dan maksud tersendiri, yang pastinya sangatlah penting.
Hal itupun juga berlaku bagi pembacaan firman Tuhan yang kita baca hari ini. Jika kita melihat dari silsilah keturunan Yehuda, dimana dari suku tersebut Daud dilahirkan, dan dari suku tersebut pula nantinya Yesus diperanakkan. Kita akan dapatkan suatu hal yang sangat menarik.
Ketika Allah memilih orang-orang “kepercayaan-Nya” yang dipakai oleh Allah (Daud). Allah tidak pernah melihat garis keturunannya itu baik atau buruk. Bibit, bebet dan bobot tidak pernah Allah lihat ketika Allah memilih orang-orang pilihan-Nya. Di dalam silsilah tersebut ada nama Tamar menantu dari Yehuda yang akhirnya menjadi istrinya.
Sama halnya ketika Allah memilih Daud, bukan karena dia keturunan orang yang baik-baik, demikian juga dengan kita. Ketika Allah memanggil dan memilih kita sebagai umat-Nya, Dia tidak melihat apakah kita keturunan orang benar, orang kaya atau tidak. Sebab Yesus sendiri mengatakan bahwa Ia datang bukan untuk menyelamatkan orang benar, tetapi orang berdosa (Luk 5:32). Ia memilih kita, karena Ia memang mengasihi kita dan itu adalah suatu kasih karunia dari Allah.

Renungan :
Biarlah melalui renungan hari ini, kita diingatkan bahwa kita bisa menerima keselamatan kita, bukan karena hebat dan gagah kita. Keselamatan itu semata-mata kita terima karena kasih dan karunia Allah kepada kita. Itu sebabnya jangan pernah sia-siakan keselamatan yang saudara terima

Biarlah kita sadar bahwa keselamatan adalah kasih karunia dari Allah

Renungan Harian, 15 Pebruari 2012

Menyenangkan hati Allah

2 Raja-raja 23:1-37; Efesus 5:1-21
“Sesudah itu berdirilah raja dekat tiang dan diadakannyalah perjanjian di hadapan TUHAN untuk hidup dengan mengikuti TUHAN, dan tetap menuruti perintah-perintah-Nya, peraturan-peraturan-Nya dan ketetapan-ketetapan-Nya dengan segenap hati dan dengan segenap jiwa dan untuk menepati perkataan perjanjian yang tertulis dalam kitab itu” (2 Raja-raja 23:3)

Hari ini kita akan belajar dari pribadi seorang raja yang menyenangkan hati Allah. Raja tersebut adalah raja Yosia. Ia hidup menurut firman Tuhan sama seperti Daud bapa leluhurnya (2 Rj 22:2).
Sebagai pribadi yang hidup seturut kehendak Allah, ia senantiasa melakukan apa yang berkenan kepada Allah. Sebagai bukti bahwa ia hidup berkenan kepada Allah, ia menyingkirkan segala bentuk penyembahan berhala dan segala hal yang dapat menajiskan dan tidak berkenan kepada Allah. Bahkan para imam yang melayani di kuil-kuil dewa asing semuanya dipecat dan diberhentikan (2 Rj 23:5).
Bahkan jika baca terus pasal ini kita akan mendapatkan bahwa raja Yosia mengadakan suatu perayaan paskah persis yang Allah perintahkan yang sudah lama tidak diadakan persis sesuai dengan yang Allah perintahkan mulai sejak zaman hakim-hakim (2 Rj 23:21-23). Suatu tindakan yang luar biasa yang menunjukkan kesungguhan Yosia dalam mengikuti dan mentaati Allah.
Hal yang sama harusnya juga kita lakukan dalam kehidupan mengiring Kristus. Allah menghendaki ketika setiap kita percaya pada Kristus, kehidupan kita benar-benar diubahkan menjadi manusia yang baru yang hidup berkenan kepada Allah (2 Kor 5:17). Allah menghendaki setiap kita mengambil keputusan untuk benar-benar menjadi pengikut Kristus yang sejati dengan hidup seturut dengan firman Tuhan.
Sebagai manusia yang baru, kita harus mengambil langkah berani dan mengambil suatu keputusan yang tegas untuk tidak lagi hidup mendukakan hati Allah dan tidak turut mengambil bagian dalam perbuatan yang tidak berkenan kepada Allah (Ef 5:11). Tetapi kita harus mengambil keputusan untuk hidup sebagai anak-anak terang, yang hidup seturut dengan kebenaran firman Tuhan dan sebagai terang yang memancarkan kemuliaan Allah serta menghasilkan buah pertobatan yang menyenangkan hati Allah (Gal 5:22-23).

Renungan :
Biarlah melalui firman Tuhan hari ini kita dikuatkan dan disadarkan untuk hidup senantiasa sejalan dengan firman Tuhan. Ambilkan keputusan untuk menyingkirkan setiap perbuatan yang tidak berkenan kepada Allah dan hidup menghasilkan buah untuk kemuliaan nama Tuhan.

Hiduplah sebagai manusia baru yang memuliakan Allah

Renungan Harian, 14 Pebruari 2012

Kasih setia Allah

2 Raja-raja 13:1-25; 1 Yohanes 4:16-20
“Tetapi TUHAN mengasihani serta menyayangi mereka, dan Ia berpaling kepada mereka oleh karena perjanjian-Nya dengan Abraham, Ishak dan Yakub, jadi Ia tidak mau memusnahkan mereka dan belum membuang mereka pada waktu itu dari hadapan-Nya.” (2 Raja-raja 13:23)

Hari ini kita akan belajar tentang kasih Allah. Kita tahu bahwa Allah adalah Pribadi yang penuh kasih, dan kasih-Nya itu sungguh-sungguh Ia nyatakan di dalam kehidupan setiap umat-Nya. Kasih adalah karakter Allah yang tidak mungkin terpisah dari kepribadian Allah (1 Yoh 4:16). Sebagai Allah yang penuh dengan kasih, Ia selalu memperhatikan dan mengasihi umat-Nya setiap kita orang percaya.
Ketika Allah menjanjikan suatu hal pada umat-Nya Ia sebagai Allah yang setia tidak pernah menarik kembali janji-Nya tersebut, tetapi Dia dengan setia pasti akan memenuhi setiap janji-Nya. Itulah yang Allah kerjakan dalam firman Tuhan yang kita baca hari ini. Kita tahu bahwa Allah pernah berjanji kepada Abraham, bapa leluhur Israel untuk senantiasa memberkati keturunannya dan membuat keturunannya sebanyak pasir di tepi laut dan seperti banyaknya bintang dilangit (Kej 22:17).
Saat Allah melihat umat Israel ditindas oleh bangsa Aram, Allah teringat kembali akan janji-Nya telah diberikan kepada Abraham. Ketika Allah mengingat akan janji-Nya, ia langsung menolong umat-Nya dan membebaskan bangsa Israel dari bangsa Aram.
Janji penyertaan yang Allah berikan kepada Abraham, juga Allah nyatakan dalam kehidupan kita. Saat kita terima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat kita secara pribadi, detik itulah Ia menjadi tuan dan Tuhan dalam kehidupan kita dan kita menjadi biji mata Allah yang senantiasa dijagai oleh Allah.
Jika saat ini saudara merasa lemah, letih dan lelah dalam menghadapi permasalah dalam kehidupan saudara. Biarlah saudara senantiasa pegang janji firman Tuhan hari ini. Bahwa Allah yang kita sembah adalah Allah yang setia yang memperhatikan permasalah umat-Nya. Bukankah Ia berjanji pasti memberikan jalan keluar dalam kehidupan kita (1 Kor 10:13). Jadi percayalah!

Renungan :
Biarlah melalui firman Tuhan hari ini membuat saudara sadar dan dikuatkan kembali iman saudara. Bahwa Allah itu benar-benar Allah yang setia dan penuh anugerah. Yang pasti menolong dan memberikan jalan keluar atas setia permasalah yang saudara hadapi

Allah yang setia pasti menolong dan memberikan jalan keluar umat-Nya

Renungan Harian, 13 Pebruari 2012

Diperhatikan oleh Allah

2 Raja-raja 8:1-29; 1 Petrus 3:12
Elisa telah berbicara kepada perempuan yang anaknya dihidupkannya kembali, katanya: "Berkemaslah dan pergilah bersama-sama dengan keluargamu, dan tinggallah di mana saja engkau dapat menetap sebagai pendatang, sebab TUHAN telah mendatangkan kelaparan, yang pasti menimpa negeri ini tujuh tahun lamanya.” (2 Raja-raja 8:1)

Salah satu sifat manusia adalah suka diperhatikan. Siapapun orangnya jika orang tersebut diperhatikan, pastilah ia bersukacita dan bertambah semangatya. Jika kita adalah seorang anak pastilah kita sangat senang jika orang tua kita memperhatikan kita dan memenuhi kebutuhan kita. Jika kita sepasang suami – istri, pastilah kita sangat senang jika pasangan kita tersebut memperhatikan kita. Terlebih lagi kita sebagai anak-anak Tuhan, kita patutlah berbangga sebab Allah yang kita sembah adalah Pribadi yang senantiasa memperhatikan setiap kebutuhan anak-anak-Nya.
Bagian firman Tuhan yang kita baca hari ini menunjukkan dan mengajarkan kepada kita bahwa Allah itu adalah Allah yang senantiasa setiap menjaga setiap firman-Nya. Apa yang telah Allah firmankan itu adalah ya dan amin dan pasti terjadi dalam kehidupan kita setiap orang percaya. Jika Allah berjanji untuk senantiasa memberkati dan memelihara kita. Maka itu pasti terjadi dalam kehidupan kita.
Sama halnya dengan seorang perempuan yang anaknya pernah dihidupkan kembali oleh Allah melalui hamba-Nya Elisa. Dimana Allah memperhatikan, bahkan ketika bahaya kelaparan akan melanda Allah memperingatkan dia dan menghindarkan dia. Hal sama juga berlaku bagi kehidupan kita.
Namun ada hal yang perlu kita perhatikan, sudahkan kita benar-benar setia dalam mengikuti Allah dan sungguh-sungguh mengakui Dia sebagai Pribadi yang sepenuhnya berkuasa atas kehidupan kita?
Jika jawabannya ya, maka janganlah pernah ragukan kemampuan Allah dalam menolong kehidupan setiap saudara. Firman Tuhan mengatakan “Mata Tuhan tertuju kepada orang-orang benar” (1 Pet 3:12). Hal itu berarti, Allah senantiasa memperhatikan kehidupan kita orang percaya. Dan hal itu pula berarti sesungguhnya kita tidak memiliki alasan apa pun untuk bimbang dan cemas jika kita mau memperhatikan firman Tuhan dengan sungguh-sungguh dalam kehidupan kita.

Renungan :
Biarlah melalui firman Tuhan hari ini saudara semakin diteguhkan dan beroleh kekuatan yang baru. Jadikan firman Tuhan ini sebagai pegangan saudara dalam menjalani kehidupan saudara sehari-hari. Percayalah Allah senantiasa ada dan memperhatikan kehidupan saudara.

Biarlah kita senantiasa mengucap syukur atas penyertaan Allah

Renungan Harian, 12 Pebruari 2012

Hidup Menjadi Berkat

2 Raja-raja 3:1-27; 1 Tesalonika 5:5
“Berkatalah Elisa: "Demi TUHAN semesta alam yang hidup, yang di hadapan-Nya aku menjadi pelayan: jika tidak karena Yosafat, raja Yehuda, maka sesungguhnya aku ini tidak akan memandang dan melihat kepadamu." (2 Raja-raja 3:14)

Kehidupan anak-anak Tuhan adalah seperti ikan di dalam aquarium. Dapat dilihat oleh siapapun yang lewat dan melihat aquarium tersebut. Demikianlah kehidupan kita, selalu menjadi sorotan bagi banyak orang. Bahkan seringkali orang berusaha untuk mencari-cari kesalahan kita supaya dapat menjatuhkan kita.
Cerita yang kita baca hari ini sungguhlah suatu cerita yang luar biasa. Di dalam firman Tuhan yang kita baca hari ini kita belajar dari seorang tokoh namanya adalah Yosafat – ia adalah raja dari Yehuda. Allah mengasihi Yosafat karena ia hidup takut akan Allah sama seperti Daud bapa leluhurnya.
Ketika terjadi suatu permasalahan di bangsa Israel dan Yehuda dan kemudian ketika mereka mencari hamba Tuhan untuk menanyakan apakah yang harus mereka lakukan. Ada hal yang menarik dari jawaban yang disampaikan oleh nabi Allah tersebut (Elisa). Nabi Allah tersebut mau menjawab karena memandang Yosafat, raja Yehuda yang takut akan Allah.
Yosafat dalam hal ini menjadi penyelamat atas bangsanya. Jika bukan karena dia, nabi Allah tersebut tidak mau menolong. Yosafat dipandang karena dia adalah benar-benar orang yang takut akan Allah dan hidup seturut dengan kebenaran firman Allah.
Kita adalah anak-anak terang dan kita adalah terang dunia (Mat 5:14). Karena kita adalah terang maka kita harus senantiasa memancarkan kemuliaan Allah dalam setiap aspek kehidupan kita. Kita hendaknya menjadi pendoa bagi bangsa dan negara kita. Biarlah Allah memandang kita dan berbelas kasihan serta memulihkan bangsa kita. Itulah peran kita sebagai sebagai anak-anak terang.
Biarlah setiap kita orang percaya menyadari tentang keberadaan diri kita sebagai terang dunia. Dan kita benar-benar berfungsi sebagai terang dunia dan keberadaan kita benar-benar menjadi berkat bagi orang-orang yang berada di sekeliling kita. Sama seperti Yosafat raja Yehuda, ia menjadi berkat bagi bangsanya sebab ia adalah benar-benar orang yang takut akan Allah.

Renungan :
Hari ini jadikan kisah Yosafat sebagai sebuah cermin dalam kehidupan saudara. Sudahkan saudara benar-benar berfungsi sebagai terang dan memancarkan kemuliaan Allah atau tidak. Biarlah kehidupan kita benar-benar menjadi berkat bagi orang-orang disekitar kita.

Biarlah terang-mu bersinar memancarkan kemuliaan Allah

Renungan Harian, 11 Pebruari 2012

Bait Allah

2 Tawarikh 3:1-17; 1 Korintus 6:19
“Kemudian ia membuat ruang maha kudus; panjangnya dua puluh hasta, menurut lebar rumah itu, dan lebarnya dua puluh hasta juga. Lalu ia menyaputnya dengan emas tua seberat enam ratus talenta;” (2 Tawarikh 3:8)

Firman Tuhan hari ini berisikan cerita saat Raja Salomo mulai membangun bait Allah, sebab saat itu bait Allah adalah berupa sebuah bangunan, dan harus dibangun dengan megah dan dari bahan yang terbaik untuk memuliakan Allah.
Saat ini bait Allah bukanlah lagi berupa sebuah bangunan fisik, tetapi berupa sebuah bangunan rohani. Memang benar secara bangunan saat ini ada gedung gereja, tetapi bait Allah yang sejati bukanlah gedung gereja dimana kita beribadah bersama dengan saudara seiman lainnya. Bait Allah yang sejati adalah diri kita sendiri (1 Kor 6:19).
Sebagai bait Allah, maka kerohanian kita harus dibangun semegah mungkin untuk memuliakan Allah. Bukan dibangun dengan batu bata, emas, perak atau benda-benda berharga lainnya, tetapi dibangun di atas dasar yang teguh dan kokoh, yaitu di dalam Yesus Kristus sendiri. Sebab Dialah satu-satunya dasar yang tidak dapat digoncangkan oleh apapun juga.
Untuk bisa membangun bait Allah rohani yang memuliakan nama-Nya maka kita harus juga senantiasa melekat kepada Kristus sebagai sumber kekuatan sejati (Yoh 15:1-8). Sehingga kita beroleh nutrisi yang terbaik bagi perkembangan pembanguan tubuh Kristus sebagai bait Allah yang sejati.
Sebagai manusia Kristus tentunya setiap orang percaya haruslah senantiasa hidup kudus, sebab sebagai bait Allah kekudusan itu sangatlah penting bagi kehidupan orang percaya. Bait Allah identik dengan kehadiran Allah, itu sebabnya ada ruang Mahakudus, dimana Allah hadir secara pribadi, orang percaya harus hidup kudus supaya hadirat Allah benar-benar hadir di dalam kehidupan orang percaya. Jika kehidupan kita tidak kudus (cemar dan penuh dosa) maka kita tidak akan pernah merasakan kehadiran Tuhan secara pribadi di dalam kehidupan kita.

Renungan :
Biarlah melalui firman Tuhan hari ini saudara diingatkan, bahwa sebagai orang percaya saudara adalah bait rohani bagi Allah. Sebagai bait rohani bagi Allah saudara haruslah benar-benar menjaga kekudusan saudara, sehingga Allah senantiasa hadir dan membimbing kehidupan kerohanian saudara.

Orang percaya adalah bait Allah rohani yang dibangun di atas KRISTUS

Renungan Harian, 10 Pebruari 2012

Jangan Gegabah

1 Tawarikh 21:1-30; Matius 16:13-23
“Lalu berkatalah Daud kepada Allah: "Aku telah sangat berdosa karena melakukan hal ini; maka sekarang, jauhkanlah kiranya kesalahan hamba-Mu, sebab perbuatanku itu sangat bodoh.” (1 Tawarikh 21:18)

Jika mendengar nama Daud, saudara pasti sudah tahu siapakah tokoh tersebut di dalam Alkitab. Dia adalah seorang Raja yang diurapi oleh Allah dan sangat dikasihi oleh Allah. Namun dalam pembacaan firman Tuhan hari ini kita melihat firman Tuhan yang menceritakan tetang kesalahan yang dilakukan oleh Raja Daud, sehingga suatu yang buruk menimpa bangsanya.
Hal tersebut menunjukkan walaupun raja Daud adalah orang yang diurapi oleh adalah dan dikasihi oleh Allah, dia tetaplah manusia yang bisa saja berbuat suatu kesalahan. Hal tersebut bukan berarti berbuat dosa diperbolehkan atau suatu hal yang biasa, tetapi hal tersebut menunjukkan bahwa jika sesaat saja manusia lepas dari Allah maka iblis sudah siap sedia untuk menjebak dan menerkam anak-anak Tuhan yang lengah (Kej 4:7; 1 Pet 5:8).
Firman Tuhan hari ini mengajarkan kepada setiap kita orang percaya untuk tidak gegabah dalam mengambil setiap keputusan, sebab ketika salah mengambil keputusan maka akan menimbulkan dampak yang sangat besar baik bagi kehidupan kita sendiri maupun bagi orang-orang yang berada di sekeliling kita. Sama seperti Raja Daud saat dia salah mengambil keputusan tanpa bertanya kepada Tuhant terlebih dahulu, tindakannya untuk menghitung orang Israel mendatangkan murka Allah bagi bangsanya.
Janganlah sampai apa yang terjadi pada Daud dalam pembacaan firman Tuhan hari ini terjadi dalam kehidupan kita, baru kita menyesal dan mengaku bersalah kepada Allah sama seperti yang Raja Daud lakukan (1 Taw 21:8). Jika hal itu terjadi, maka hal tersebut akan sangat merugikan diri kita.
Dalam mengambil setiap langkah dan keputusan dalam kehidupan kita, jangan pernah lupa untuk senantiasa mendahulukan Tuhan. Dengan demikian  setiap keputusan yang kita ambil seturut dengan kehendak Tuhan.

Renungan :
Biarlah melalui firman Tuhan hari ini membuat saudara sadar bahwa kehidupan manusia tidak bisa terlepas dari Allah. Sesaat saja manusia terlepas dari Allah, maka iblis sudah menanti saudara untuk menjadi santapan bagi dia. Berjaga-jagalah!

Tetap melekat pada Allah adalah rahasia hidup berkemenangan

Renungan Harian, 9 Pebruari 2012

Penyertaan Allah

1 Tawarikh 12:1-40; Roma 8:31
“Lalu Roh menguasai Amasai, kepala ketiga puluh orang itu: Kami ini bagimu, hai Daud, dan pada pihakmu, hai anak Isai! Sejahtera, sejahtera bagimu dan sejahtera bagi penolongmu, sebab yang menolong engkau ialah Allahmu! Kemudian Daud menyambut mereka dan mengangkat mereka menjadi kepala pasukan.” (1 Tawarikh 12:18)

Satu lagi contoh penyertaan Allah terhadap umat-Nya. Hari ini kita membaca bagaimana Allah menyertai Daud saat ia berada dalam kejaran Raja Saul. Suatu hal yang luar biasa bagaimana Allah membuktikan firman-Nya bahwa Allah akan senantiasa menyertai umat-Nya. Dan dalam firman Tuhan yang kita baca hari ini hal itu sungguh nyata terbukti.
Jika kita membaca keseluruhan cerita dari firman Tuhan di dalam Alkitab, secara garis besar didalamnya banyak sekali dimuat kisah-kisah penyertaan Allah kepada umat-Nya, baik dalam Perjanjian Lama maupun di dalam Perjanjian Baru. Hal tersebut semakin membuktikan bahwa Allah yang kita sembah bukanlah Allah yang tidak menepati janji-Nya sebab Ia selalu bertindak sesuai dengan firman-Nya sebab, firman-Nya adalah ya dan amin.
Saat ini jika saudara sedang ada dalam masalah atau kesesakan, janganlah pernah saudara menyalahkan Allah akan apa yang sedang saudara alami saat ini. Tetapi justru hendaklah saudara semakin dekat dan melekat pada Dia sebagai satu-satunya sumber pengharapan dalam kehidupan saudara. Bukannya Yesus sendiri berfirman : “marilah yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberikan kelegaan kepadamu” (Mat 11:28).
Jangan jadikan masalah sebagai penghalang iman saudara. Jangan jatuh pada perangkap iblis untuk membuat saudara kuatir dan kehilangan damai sejahtera. Sebab kekuatiran adalah senjata paling dasyat untuk membunuh iman saudara.
Berpeganglah teguh pada firman Tuhan dan tetaplah kuat di dalam Dia. Dia yang berfirman adalah Allah yang setia dan adil dan tidak akan pernah sekali-kali Dia meninggalkan umat-Nya sendirian dalam menghadapi permasalahan.
Datanglah pada Yesus saat saudara merasa berbeban berat dan letih saat menghadapi permasalahan hidup. Maka sesuai dengan janji-Nya Ia pasti memberikan kelegaan dan jalan keluar bagi saudara.
Renungan :
Biarlah melalui firman Tuhan hari ini saudara semakin diteguhkan dan dikuatkan. Jadikan firman Tuhan ini sebagai pegangan saudara dalam menjalani kehidupan saudara sehari-hari. Percayalah Allah adalah sumber kekuatan bagi orang percaya.
Biarlah kita senantiasa mengucap syukur atas penyertaan Allah

Renungan Harian, 8 Pebruari 2012

Tidak Memandang Muka

1 Tawarikh 8:1- 40; 1 Timotius 4:12
“Anak-anak Ulam itu adalah orang-orang berani, pahlawan-pahlawan yang gagah perkasa, pemanah-pemanah; anak dan cucu mereka banyak: seratus lima puluh orang. Mereka semuanya itu termasuk bani Benyamin." (1 Tawarikh 8:40)

Kita sebagai manusia seringkali ketika berteman atau pun membantu seseorang selalu memandang rupa. Dan hal tersebut juga berlaku ketika kita menilai seseorang. Namun seringkali karena kita salah dalam hal ini.
Kita sebagai manusia patutnya mengucap syukur karena ketika Allah memilih kita, Ia bukanlah Allah yang memandang muka. Bagi Dia siapa saja layak untuk jadi umat-Nya dan melayani Dia.
Saat kita membaca Firman Tuhan hari ini, semuanya menunjukkan pada keturunan bani Benyamin. Benyamin adalah anak bungsu dari Yakub (Israel). Namun demikian, melalui pembacaan firman Tuhan hari ini kita tahu, bahwa walaupun bani Benyamin merupakan bani yang paling muda, tetapi Allah memakai mereka dengan luar biasa.
Raja Saul, yang merupakan raja pertama dari bangsa Israel adalah keturunan dari bani Benyamin, walaupun pada akhirnya ia ditolak oleh Allah karena tidak taat dan tidak setia dalam menjalankan perintah Tuhan melalui hambanya Samuel.
Dari daftar keturunan bani Benyamin yang kita baca hari ini dapatlah kita ketahui bahwa sebagian besar dari nama-nama tersebut adalah pahlawan-pahlawan yang luar biasa yang menyertai baik Raja Saul maupun Raja Daud.
Pesan Tuhan hari ini adalah jika Tuhan sendiri tidak memandang muka saat Ia menyelamatkan kita, maka sudah selayaknyalah kita sebagai umat-Nya juga tidak memandang muka terhadap diri kita sendiri maupun orang lain. Jangan pernah memandang diri saudara lemah dan tidak bisa berbuat apa-apa. Ingat firman Tuhan mengatakan, “jika Allah dipihak kita siapakah lawan kita ?” (Rm 8:31).
Ingatlah nasehat firman Tuhan : “Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda” (1 Tim 4:12). Jadi hari ini jangan lagi menganggap diri saudara lemah dan tidak bisa berbuat apa-apa, sebab Tuhan beserta dengan saudara. Tetaplah teguh dan jadilah kuat.

Renungan :
Hari ini jadikan kisah dari bani Benyamin menjadi pendorong semangat dalam kehidupan rohani saudara. Jangan lagi menganggap diri saudara lemah, percayalah Tuhan ada dipihak saudara dan bersama dengan Dia saudara dapat melakukan perkara-perkara yang besar.

Bersama Tuhan kita yang lemah menjadi Kuat

Learn The Truth of Christian Values Headline Animator

Entri Populer