Senin, 20 Februari 2012

Berlari di atas Kemustahilan

Berlari di atas Kemustahilan

Dilahirkan dengan tidak memiliki tulang fibula sehingga kedua kakinya harus diamputasi tak membuat Aimee Mullins menyesali kondisi tubuhnya. Ini malah menjadi pelecut semangatnya untuk berprestasi mengimbangi bahkan melebihi orang normal.
Sejak masanya belajar berjalan, orangtua Aimee memberikannya kaki palsu, sehingga Aimee bisa berjalan layaknya orang normal. Hal ini terus berlangsung hingga masa sekolah. Meski memakai kaki palsu, Aimee tak merasa minder di sekolah. Ia bahkan berani berpartisipasi di cabang olahraga yang umumnya dihindari banyak gadis. Kemampuan lari dan lompatannya luar biasa.
Ketika masih duduk di SMA, ia mengikuti kompetisi para difabel. Di sini ia dikejutkan oleh kenyataan ada begitu banyak peserta difabel yang berpartisipasi. Selain itu, ternyata hanya dia satu-satunya peserta yang memakai kaki palsu berbahan kayu. Peserta lainnya menggunakan kaki palsu berbahan logam dan karbon yang bisa meredam kejut. Alih-alih minder, Aimee justru terpacu untuk membuktikan, dengan berkaki palsu dari kayu pun ia bisa mengalahkan mereka.
Dorongan semangat itu ternyata menghasilkan kekuatan luar biasa. Aimee tak hanya memenangkan berbagai lomba di kompetisi itu, tapi juga berhasil memecahkan rekor nasional bagi atlet-atlet difabel. Atas prestasinya ini, Aimee mendapat beasiswa penuh dari pemerintah AS. Ia lalu kuliah di Georgetown University. Aimee terus mengukir prestasi saat jadi mahasiswa. Ia dinominasikan menjadi atlet yang mewakili AS untuk Paralympic Games 1996 di Atlanta, Georgia, AS. Untuk itu, ia mendapat sepasang kaki palsu baru yang terbuat dari karbon.
(sumber : http://www.andriewongso.com/artikel/success_story/4573/Aimee_Mullins/ Penulis : Tim AndrieWongso /Selasa, 06 Desember 2011)

Tidak seorangpun berpikir bahwa Aimee suatu hari dapat menjadi sosok yang dikenal oleh banyak orang. Jangankan menjadi sosok yang terkenal, membayangkan dia berlari saja mungkin tidak pernah terbersit dipikiran orang-orang yang berada disekeliking Aimee.
Aimee tidak pernah menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan orang tuanya kepada dirinya untuk bisa berjalan seperti orang normal pada umumnya dengan menggunakan sepasang kaki palsu. Bahkan dia tidak hanya belajar berjalan dengan kaki tersebut, dia mencoba sesuatu yang menurut orang agak aneh yaitu mulai berlari dan berlompat, sampai suatu saat dia memberanikan diri mengikuti perlombaan dan akhirnya berhasil menjadi seorang juara dan meraih berbagai macam penghargaan karena prestasi yang dia raih dalam dunia olahraga.
Di dalam Alkitab ada satu tokoh bernama Gideon. Tidak ada seorang pun yang menyangka dia akan menjadi hakim atas Israel.  Alasan yang diberikan oleh Gideon kepada Malaikat TUHAN secara akal dapat diterima sebab memang dia adalah seorang yang  masih sangat muda dari suku yang kecil dan dari kaum yang terkecil (Hakim-hakim 6:14-15). Dengan kata lain Gideon dimata orang Israel sebenarnya tidak pernah mendapatkan perhatian sebelumnya. Namun karena Gideon mau taat kepada Allah dengan mengindahkan panggilan tersebut, maka Allah melakukan suatu perkara yang luar biasa.
Pasal 7 dalam kitab Hakim-hakim mencatat kisah kepahlawanan Gideon yang hanya dengan 300 orang dapat mengusir musuh dan membebaskan bangsa Israel dari ancaman orang Midian.
Sebuah pelajaran yang cukup berharga dapat kita ambil dari dua kisah di atas baik dari Aimee maupun dari Gideon. Bahwa apa yang sering kali dianggap lemah dan tidak berdaya oleh kebanyakkan orang justru seringkali dipakai oleh Allah untuk menunjukkan bahwa Allah mengasihi setiap orang dan mau memakai semua orang yang mau dipakai oleh dia. Dua kisah tersebut juga memberikan pesan pada setiap kita bahwa Allah tidak menginginkan setiap manusia berfokus pada ketidak mampuan yang dimilikinya, tetapi justru pada setiap potensi yang dapat diraih. (Anton Pramono)

Learn The Truth of Christian Values Headline Animator

Entri Populer