Jumat, 16 Maret 2012

Renungan Harian, 31 Maret 2012

ROH yang Mengubahkan Hidup

1 Samuel 10:1-27; Kisah Para Rasul 1:8
“Maka Roh TUHAN akan berkuasa atasmu; engkau akan kepenuhan bersama-sama dengan mereka dan berubah menjadi manusia lain” (1 Samuel 10:6)

Roh TUHAN, Roh Allah, ataupun Roh Kudus adalah Pribadi ketiga dari Allah Tritunggal. Oleh Roh itu kehidupan setiap orang percaya terus diubahkan sejalan dengan kehendak Allah, sebab Roh itu berasal dari Allah dan Roh itu adalah Allah.
Dalam Perjanjian Lama, Roh Allah bekerja dan berkuasa atas orang-orang pilihan-Nya. Ketika Roh itu berkuasa atas seseorang, maka orang tersebut Allah pakai dengan luar biasa. Roh itu mengubahkan seseorang menjadi pribadi yang berbeda, bernubuat menyampaikan kebenaran Allah, menjadi pribadi yang berani dan siap untuk diutus Allah (Yes 6:6-8; Yer 1:6-9).
Dalam Perjanjian Baru, Yesus sendiri berbicara akan datangnya Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang membimbing dan mengajar setiap orang percaya akan setiap kebenaran firman Allah (Yoh 14:26). Roh itu mengubahkan  kehidupan setiap orang percaya menjadi saksi Kristus (Kis 1:8; 2:4, 14).
Bahkan, lebih dalam lagi firman Tuhan menegaskan bahwa Roh itu, sebagai jaminan akan keselamatan yang telah kita terima. Sebab oleh Roh itulah kita diinsafkan dan mengaku Yesus sebagai Tuhan dan diselamatkan (1 Kor 12:3; 2 Kor 3:17; 2 Tes 2:13). Roh itu memeteraikan keselamatan yang telah kita terima, sehingga kita tetap tinggal dalam keselamatan tersebut (Ef 1:13).
Itulah sebabnya, mengapa Roh Kudus sangat penting dalam kehidupan setiap orang percaya. Hidup tanpa Roh, berarti hidup diluar keselamatan, sebab Roh itu merupakan jaminan keselamatan. Itu sebabnya kita harus hidup dalam Roh, sebab kita bukanlah milik kita lagi melain milik Kristus (Rm 8:4-6, 16; Ef 5:18).
Dengan demikian hendaknya hidup kita senantiasa kita hidup di dalam Roh, dan biarlah Roh itu berkuasa penuh atas kehidupan kita, agar kehidupan kita dibimbing dan semakin dewasa di dalam Kristus.

Renungan :
Biarlah melalui renungan hari ini setiap kita menyadari arti pentingnya Roh Kudus dalam kehidupan kita orang percaya. Serahkan hidupmu dan biarkan Roh itu berkuasa penuh atas dirimu, untuk membawa dirimu semakin berkenan kepada Allah.

Roh Kudus adalah jaminan dan materai KESELAMATAN

Renungan Harian, 30 Maret 2012

Menghormati Hadirat Allah 

1 Samuel 6:1-21; Kisah Para Rasul 19:13-16
“Dan ia membunuh beberapa orang Bet-Semes, karena mereka melihat ke dalam tabut TUHAN; Ia membunuh tujuh puluh orang dari rakyat itu. Rakyat itu berkabung, karena TUHAN telah menghajar mereka dengan dasyatnya” (1 Samuel 6:19)

Allah adalah Pribagi yang sangat konsisten dengan kekudusan. Itulah sebabnya, ketika manusia jatuh dalam dosa, Allah mengusir manusia dari taman Eden, sebab gambaran kekudusan Allah pada manusia saat manusia jatuh dalam dosa telah rusak.
Manusia, tidak dapat lagi dengan leluasa berhubungan dengan Allah. Ada serangkaian syarat dan pra-syarat yang harus dipenuhi sehingga berkenan kepada Allah.
Dalam dunia Perjanjian Lama, ada satu suku yang dikhususkan dari bangsa Israel yang dapat melayani Allah, sebagai imam dan membawa Tabut Perjanjian. Selain suku Lewi, suku lain tidak diperkenankan untuk mendekat pada Tabut tersebut, jika dilanggar maka mereka akan memperoleh penghukuman dari Allah sendiri, yaitu kematian.
Ketika melihat Tabut Allah, orang Bet-Semes sangat bersukacita, namun sebagian dari mereka sangat penasaran dengan apa yang ada di dalam Tabut Allah, sehingga mereka mendekat, dan akhirnya mereka mendapatkan penghukuman dari Allah.
Dalam Perjanjian Baru, juga ada kisah tetang anak-anak Skewa yang bermain-main dengan nama Yesus (Kis 19:13-16), dan akibatnya iblis mempermainkan mereka. Sebab firman Tuhan dengan tegas menyatakan bahwa Allah tidak akan pernah membiarkan diri-Nya dipermainkan (Gal 6:7). Ia memang Allah yang penuh kasih, tetapi Ia juga Allah yang tegas jika berbicara tentang atribut diri-Nya.
Kekudusan sangatlah penting artinya bagi Allah. Itulah sebabnya ada firman yang menyatakan bahwa kita harus “mengejar” kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorangpun dapat melihat Allah (Ibr 12:14). Kekudusan merupakan alat ukur penentu apakah seseorang dapat berkomunikasi dengan Allah.
Sebagai orang percaya kita patut mengucap syukur, sebab detik kita menerima Kristus, kita menerima keselamatan dan “dikuduskan” sehingga dapat berkomunikasi dengan Allah (1 Kor 1:30). Tugas kita adalah menjaga kehidupan kita tetap tinggal dalam kekudusan tersebut.

Renungan :
Biarlah melalui renungan hari ini, kita diingatkan akan pentingnya kekudusan. Kita harus terus tinggal didalamnya dan tidak bermain-main dengan kekudusan.

Kekudusan adalah parameter yang membawa perjumpaan dengan Allah

Renungan Harian, 29 Maret 2012

Bertekun dalam Doa

1 Samuel 1:1-28; Roma 12:12
“dan dengan hati pedih ia berdoa kepada TUHAN sambil menangis tersedu-sedu. … . Maka setahun kemudian mengandunglah Hana dan melahirkan seorang anak laki-laki. Ia menamai anak itu Samuel, sebab katanya: “Aku telah memintanya dari pada TUHAN” (1 Samuel 1:10, 20)

Hana adalah sosok wanita yang luar biasa. Ia adalah wanita yang tegar dalam menghadapi permasalahan di dalam kehidupannya. Walaupun ia diperlakukan secara kurang adil oleh suaminya (1 Sam 1:4-5), dan selalu disakiti oleh madunya (ayat 6) ia tetap tegar dan sabar, serta menaruh semua permasalahan yang ia hadapi dan berserah sepenuhnya pada Allah.
Pada suatu kesempatan, Hana berdoa dengan sungguh-sungguh dengan hati yang pedih ia membawa segala perkaranya kehadapan Allah. Allah melihat kesungguhan hati Hana dan akhirnya memberikan keturunan pada Hana.
Hal yang luar biasa yang dilakukan oleh Hana, ketika dia telah mendapatkan keturunan, ia selalu ingat akan janji dan nazarnya kepada Allah dan menyerahkan anak yang dilahirkannya kepada Allah sesuai nazarnya.
Kita sebagai orang percaya, tidaklah pernah terlepas dari permasalahan. Terkadang masalah itu datang bertubi-tubi dalam kehidupan kita. Membuat seolah-olah kita terjepit, mengalami jalan buntu dan tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan, sama seperti kisah Hana yang mandul dan sesalu diperolok oelh madunya.
Suatu pelajaran berharga yang kita dapatkan dari tindakan Hana adalah ketika masalah itu begitu menjepit, ia sadar ada satu Pribadi yang luar biasa yang sanggup melepaskan dia dari permasalahan yang ia hadapi, Pribadi itu adalah Allah sendiri, itu sebabnya ia berseru dan menyampaikan segala perkaranya kepada Allah.
Biarlah kita, orang percaya mengikuti teladan Hana, ketika masalah datang dan menghimpit kita, kita tidak bersunggut-sunggut dan mengandalkan kekuatan kita untuk menyelesaikan masalah tersebut, tetapi senantiasa bersandar pada Allah, sebab Ia pasti memberikan kelegaan dan jalan keluar atas setiap masalah kita (Mat 7:7-8; 11:28; 21:22).
Ketika kita tidak tahu bagaimana kita harus berdoa, berdoa saja dalam Roh, sebab Roh itu akan membantu kita untuk menyampaikan keluhan-keluhan kita yang tidak terkatakan kepada Allah (Rm 8:26-27). 

Renungan :
Ketika masalah datang kepada saudara, janganlah cemas dan putus asa. Serahkanlah segala kuatirmu kepada Allah, maka Dia Allah yang setia pasti memberikan jawaban serta jalan keluar atas setiap masalah yang saudara hadapi

Doa adalah pendobrak pintu-pintu kemustahilan

Renungan Harian, 28 Maret 2012

Kasih Persaudaraan 

Hakim-hakim 21:1-25; Yohanes 13:34-35
“Orang-orang Israel merasa kasihan terhadap suku Benyamin, saudaranya itu, maka kata mereka: “Hari ini ada satu suku terputus dari orang Israel” (Hakim-hakim 21:6)

Perlulah disadari oleh setiap orang percaya, bahwa inti dari pengajaran seluruh kebenaran firman Tuhan, berbicara tentang “kasih”. Sebab kasih adalah sifat, karakter dan kepribadian Allah (1 Yoh 4:8, 16). Kasih itu menjadi sangat nyata melalui Pribadi Kristus. Ketika Ia datang ke dunia, Ia bukan sekedar bermaksud untuk menunjukkan Kuasa-Nya, tetapi untuk menunjukkan kasih-Nya kepada orang yang percaya kepada-Nya (Yoh 3:16).
Itulah sebabnya juga, Allah mau supaya setiap orang percaya – yang telah menerima kasih Allah melalui pengorbanan Kristus di atas kayu salib, sehingga diselamatkan – hidup di dalam kasih kepada Allah dan kepada sesama manusia.
Sejak dari semula iblis tidak suka melihat hubungan yang harmonis antara Allah dan manusia serta manusia dengan sesamanya. Sehingga ia menggoda manusia yang pertama sampai jatuh dalam dosa, kehilangan kemuliaan Allah serta jauh daripada Allah. Kemudian dalam Kejadian 4, tercatat perselisihan yang pertama antar sesama manusia sampai mengakibatkan kematian Habel adik Kain. Kasus Esau dan Yakub serta Yusuf dan saudara-saudaranya, semua perselisihan itu adalah akibat dosa dari kejatuhan manusia setelah tergoda oleh tipu muslihat iblis.
Sebagai orang percaya, kita harus sadar bahwa Allah menuntut kita untuk senantiasa hidup di dalam kasih (Mat 22?:37-40). Di pihak lain, ada pribadi yang terus berusaha untuk memecah-belah kehidupan setiap orang percaya, supaya tidak ada keharmonisan diantara setiap orang percaya, dan pihak lain itu adalah iblis (Rm 16:17; Yud 19).
Kasih adalah hal yang penting bagi kehidupan orang percaya. Oleh kasih kita telah diselamatkan, itulah sebabnya kita juga dituntut untuk hidup saling mengasihi. Sebab tidak mungkin kita bisa berkata kita mengasihi Allah yang tidak kelihatan, jika kita tidak mengasihi sesama kita yang kelihatan (1 Yoh 4:19-21).
Yesus sendiri menegaskan bahwa hidup dalam kasih adalah ciri orang percaya sebagai murid-murid Kristus yang sejati (Yoh 13:34-35). Jadi tidaklah mungkin kita mengaku sebagai murid Kristus, jika tidak ada kasih dalam kehidupan kita.
Paulus juga mengingatkan bahwa setiap orang percaya adalah bagian dari anggota tubuh Kristus yang harus senantiasa saling menguatkan, menopang dan menghiburkan satu sama lain (1 Kor 1:10; 12:25-27).

Renungan :
Biarlah saudara saat ini diingatkan pentingnya hidup dalam kasih. Kasih adalah identitas orang percaya sebagai murid Kristus. Oleh sebab itu biarlah kasih bukan sekedar slogan, tetapi menjadi gaya hidup dalam kehidupan saudara !

Kasih adalah tali pengikat yang erat dalam tubuh Kristus

Renungan Harian, 27 Maret 2012

Jangan Tergoda

Hakim-hakim 16:1-31; Efesus 6:11
“Maka diceritakannyalah kepadanya segala isi hatinya, katanya: “Kepalaku tidak pernah kena pisau cukur, sebab sejak dari kandungan ibuku aku ini seorang nazir Allah. Jika kepalaku dicukur, maka kekuatanku akan lenyap dari padaku, dan aku menjadi lemah dan sama seperti orang-orang lain” (Hakim-hakim 16:17)

Kisah Simson bukanlah cerita yang asing ditelinga setiap orang percaya. Kisah tersebut menceritakan tentang seorang nazir Allah, yang Allah pakai sebagai Hakim atas bangsa Israel. Jika Superman merupakan manusia yang kuat, namun hanya sebuah cerita fiksi dan bukanlah suatu kenyataan, maka Simson adalah superman yang sebenarnya. Kekuatan yang ia miliki bukanlah hasil dari berlatih, tetapi kekuatan yang melimpah tersebut ia miliki karena Roh Allah berkuasa atas dirinya (Hak 15:14).
Walaupun Simson merupakan manusia yang kuat dan pahlawan Israel yang perkasa, namun ia adaalh pribadi yang mudah jatuh dalam rayuan wanita. Suatu ketika ia bertemu dengan wanita Filistin yang cantik dan ia jatuh cinta kepada wanita tersebut (Hak 16:4), tanpa menyadari bahwa wanita tersebut dipakai sebagai alat untuk menaklukkan dirinya (Hak 16:5).
Ketika Delila merayu Simson terus-menerus (Hak 16:6, 10, 13, 15), akhirnya Simson jatuh dalam rayuan wanita tersebut dan menceritakan letak kekuatannya. Dengan demikian orang Filistin dapat dengan mudah menaklukkan Simson dan membutakan matanya.
Delila adalah lambang dunia, yang dipakai sebagai alat bagi iblis untuk menggoda orang percaya, agar orang percaya jatuh dalam dosa, kehilangan kemuliaan Allah dan jauh dari Allah. Itulah sebabnya mengapa firman Tuhan mengumpamakan iblis sebagai singa yang terus mengaum di sekeliling kita, menanti saat dimana kita terlena dan lengah supaya dapat menelan kita (1 Pet 5:8b).
Itulah sebabnya kita orang percaya harus terus berjaga-jaga (1 Pet 5:8a), supaya kita tidak tergoda dan tertipu oleh iblis. Kita harus senantiasa mengenakan selengkap senjata Allah (Ef 6:11), sehingga ketika iblis datang menggoda dengan rupa-rupa keinginan dunia, kita tidak tergoda serta masuk jebakkan iblis.
Kita perlu untuk selalu menjaga iman kita kepada Yesus, sebab iman itulah benteng pertahanan kita dalam menghadapi serangan tipu muslihat iblis (Ef 6:16; 1 Pet 5:9). Dengan terus membangun iman kita dalam Kristus, maka sama halnya kita membangun sebuah bangunan dengan pondasi yang sangat kuat yang tidak mudah dirobohkan oleh angin tipu muslihat iblis.

Renungan :
Sadarlah, bahwa iblis semakin giat untuk menggoda orang percaya, supaya mereka jatuh dalam dosa, sebab iblis tahu saatnya semakin singkat bagi dia. Oleh sebab itu, berjaga-jagalah dan jangan menjadi lemah !

Iman adalah benteng yang kuat menahan godaan iblis

Renungan Harian, 26 Maret 2012

Memenuhi Nazar

Hakim-hakim 11:1-40; Kisah Para Rasul 18:18
“Demi dilihatnya dia, dikoyakkanlah bajunya, sambil berkata: “Ah, anakku, engkau membuat hatiku hancur luluh dan engkaulah yang mencelakakan aku; aku telah membuka mulutku bernazar kepada Tuhan, dan tidak dapat aku mundur” (Hakim-hakim 11:35)

Saat ini kita belajar dari pribadi yang luar biasa. Pribadi itu adalah Yefta, seorang pahlawan Israel yang luar biasa (Hak 11:1). Ia menjadi Hakim atas Israel, melalui dia Allah mengaruniakan kemenangan yang luar biasa atas bani Amon (Hak 11:32-33).
Sebagai seorang pemimpin dan pahlawan bagi bangsa Israel, Yefta memiliki karakter yang luar biasa. Ia adalah pribadi yang selalu konsisten dengan apa yang dilakukan dan diucapkannya. Ia selalu menepati segala sesuatu yang ia ucapakan.
Sebelum ia berangkat berperang melawan bani Amon, ia mengucapkan suatu nazar kepada Allah, bahwa jika ia menang dalam peperangan, yang pertama kali keluar dari pintu rumahnya akan dikorbankan bagi Allah (Hak 11:31). Ketika ia berkata demikian, Yefta tahu benar bahwa setiap nazar yang keluar dari mulut seseorang haruslah dipenuhi (Bil 30:2), sebab nazaar adalah suatu perjanjian dengan Allah.
Pada waktu berperang, Allah memberikan kemenangan yang luar biasa pada bangsa Israel. Dan ketika Yefta pulang, didapati anak perempuannya adalah yang pertama kali keluar dari pintu rumahnya. Anak itu adalah anak satu-satunya yang dimiliki oleh Yefta. Walaupun ia sempat bersedih, tetapi sebagai hamba Allah, pada akhirnya ia menepati janjinya dengan mempersembahkan anaknya sebagai korban bagi Allah (Hak 11:39).
Kisah tersebut adalah nyata dan tercatat dalam sejarah Alkitab, kisah yang luar biasa yang menunjukkan sebuah komitmen dalam menepati sebuah nazar. Dan dari kisah ini kita belajar suatu kebenaran firman Tuhan, bahwa sebagai anak-anak Tuhan kita patut menjaga setiap perkataan kita. Kita memang boleh saja “bernazar”, tetapi kita harus tahu juga bahwa ketika kita bernazar, kita tidak sedang berjanji pada manusia, tetapi kita sedang berjanji kepada Allah. Akan setiap “nazar” yang keluar dari mulut kita, Allah pasti menuntut pertanggungan jawab kita, atas “nazar” tersebut.
Oleh sebab itu, sebagai orang percaya, janganlah kita mudah sekali mengucapkan suatu “nazar” jika kita tidak dapat memenuhinya, sebab Allah akan memperhitungkannya sebagai sebuah dosa dan kesalahan.

Renungan :
Jika saudara hari ini sadar, bahwa seringkali saudara bernazar kepada Allah dan tidak menepatinya, segeralah bertobat, minta ampun pada Allah dan penuhilah nazar saudara dihadapan Allah, maka Ia Allah yang setia akan mendengarkan doa saudara.

Orang benar selalu setia dalam perkataannya

Kamis, 15 Maret 2012

Renungan Harian, 25 Maret 2012

Persembahan Sulung

Nehemia 10:1-39; Roma 12:1-2
“Lagipula setiap tahun kami akan membawa ke rumah TUHAN hasil yang pertama dari tanah kami dan buah sulung segala pohon. Pun kami akan membawa ke rumah Allah kami, yakni kepada para imam yang menyelenggarakan kebaktian di rumah Allah kami, anak-anak sulung kami dan anak-anak sulung ternak kami seperti tertulis dalam kitab Taurat, juga anak-anak sulung lembu kami dan kambing domba kami.” (Nehemia 10:35-36)

Dalam pasal yang kita baca hari ini, diceritakan bagaimana Nehemia mengikat suatu perjanjian dengan orang Israel untuk hidup berkenan kepada Allah sebagai tanda penyesalan dan pertobatan mereka. Dalam perjanjian tersebut juga disinggung tentang persembahan, baik perpuluhan maupun persembahan sulung.
Melalui firman Tuhan yang kita baca hari ini salah satu point-nya adalah membawa persembahan yang sulung kehadapan Allah. Memang benar di dalam Perjanjian Lama hal tersebut masih tampak samar dari belum jelas kenapa harus yang sulung.
 Tetapi ketika kita melihat ke dalam Perjanjian Baru, barulah kita mengetahui bahwa sebenarnya korban sulung dan persembahan sulung merupakan sebuah gambaran dari pengorbanan Yesus. Sebab Ia disebut sebagai yang “SULUNG” dari Allah. Kata sulung sendiri memiliki arti utama dan yang terbaik. Itu sebabnya dalam adat Israel anak sulung mendapatkan berkat lebih besar dari anak yang lainnya, dan itu juga yang menjadi alasan mengapa hak kesulungan demikian penting.
Yesus sebagai persembahan sulung yang sejati telah mati dan menebus setiap orang yang percaya menjadi orang yang hidup berkemenangan. Sekarang adalah bagian kita orang percaya.
Korban Kristus itu akan berfungsi dalam kehidupan kita, jika kita benar-benar mau mengosongkan diri kita sepenuhnya dan menyerahkan pada Kristus dan membiarkan Ia bertahta dalam kehidupan kita.
 Tanpa adanya penundukan diri kepada Kristus dan menyerahkan seluruh hidup kita sebagai persembahan sejati pada Kristus, maka kita tidak bisa menerima sebagai Tuhan kita. Itulah sebabnya Tuhan menghendaki setiap kita orang percaya mempersembahkan buah sulung kita, yaitu kehidupan kita sendiri, dengan demikian Kristus benar-benar bertahta dalam kehidupan kita dan kita beroleh keselamatan yang sempurna.

Renungan :
Melalui firman Tuhan hari ini saudara diingatkan untuk memberikan diri saudara sepenuhnya pada Kristus. Tanpa itu maka saudara tidak bisa menerima keselamatan yang sejati, jangan tunda lagi berikanlah dirimu sepenuhnya pada Kristus dan biarkan Dia berkarya dalam kehidupan saudara.

Hidup kita adalah persembahan sulung yang sejati bagi Kristus

Renungan Harian, 24 Maret 2012

Disertai oleh Allah

Nehemia 2:1-20; Markus 6:50
“Ketika kuberitahukan kepada mereka, betapa murahnya tangan Allahku yang melindungi aku dan juga apa yang dikatakan raja kepadaku, berkatalah mereka: "Kami siap untuk membangun!" Dan dengan sekuat tenaga mereka mulai melakukan pekerjaan yang baik itu.”  (Nehemia 2:18)

Nehemia adalah seorang yang sehari-hari berhadapan dengan raja. Hal itu dikarenakan dia adalah seorang juru minum bagi raja. Sebagai seorang juru minum raja ia harus meracik dan menyediakan minuman bagi raja. Pekerjaannya adalah sebuah pekerjaan yang sangat beresiko. Jika dia salah meracik minuman yang mengakibatkan raja sakit saja ia bisa kehilangan nyawanya. Bukan itu saja, ketika ia menyajikan minuman di hadapan raja, ia harus menyajikan dengan sukacita dan tidak boloeh sedih atau cemberut sekalipun, sebab itu bisa dianggap mencurigakan dan penghinaan terhadap raja, dan akibatkan dia bisa mendapat hukuman mati.
Pada cerita yang kita baca hari ini, tidak seperti biasanya Nehemia datang kepada raja dengan bersedih, bukan dibuat-buat, tetapi ia benar-benar sedih memikirnya nasib bangsanya. Secara normal, hal itu bisa mendatangkan celaka bagi dirinya, tetapi waktu hati raja diubahkan oleh Allah, ia berbaik hati dan bertanya kepada Nehemia, apa yang membuat hatinya begitu sedih. Yang luar biasanya ketika Nehemia dengan jujur mengatakan alasan yang sebenarnya mengapa hatinya sedih, hal yang tidak diduga oleh Nehemia dilakukan oleh raja. Ia mengijinkan Nehemia untuk pulang dan membangun negerinya.
Setiap kita juga pernah mengalami situasi yang dialami oleh Nehemia. Pada waktu itu pastilah kita menjadi takut dan tidak karuan rasanya. Hal itu pun dirasakan oleh Nehemia. Tetapi pesan firman Tuhan hari ini pada setiap kita adalah dalam situasi yang demikian percayalah bahwa Allah tidak pernah meninggalkan saudara. Asal saja saudara bersikap jujur dan bertindak benar dihadapan Allah, maka pastilah pembelaan Allah itu sempurna dalam kehidupan kita.

Renungan :
Biarlah melalui firman Tuhan hari ini kita dikuatkan dan tidak menjadi takut ketika kita menghadapi situasi yang dilematis. Tetaplah bersandar pada Allah dan lakukan yang benar, maka pastilah penyertaan-Nya sempurna dalam kehidupan saudara.

Orang benar selalu disertai oleh Allah

Renungan Harian, 23 Maret 2012

Menunaikan Tugas Panggilan

Ezra 7:1-28; Titus 3:1
“Maka aku menguatkan hatiku, karena tangan TUHAN, Allahku, melindungi aku dan aku menghimpunkan dari antara orang Israel beberapa pemimpin untuk berangkat pulang bersama-sama aku.”  (Ezra 7:28b)

Setiap orang percaya dipanggil untuk melayani Dia dan menjadi berkat bagi orang disekelilingnya dan memuliakan nama Allah dalam segala aspek kehidupan orang percaya. Termasuk juga kita harus juga menjadi berkat bagi negera kita.
Seringkali kita lebih mudah mengkritik kesalahan dari bangsa kita daripada ambil bagian dalam pemulihan negara kita. Kita sering kali menempatkan diri kita sebagai seorang komentator sebuah pertandingan sepak bola. Kita begitu gencar dan semangat ketika mengomentari setiap pemain sepak bola ketika mereka menendang bola, mengumpan, memasukkan goal, bahkan ketika mereka melakukan sebuah kesalahan.
Kita bahkan menyalahkan pemain tersebut, dan mengatakan bahwa seharusnya tidak demikian harusnya memakai pola tertentu dan komentar-komentar yang mengkriktik lainnya. Padahal jika kita ditempatkan pada lapangan sesungguhnya, pastilah kita tidak bisa berbuat lebih baik, bahkan menendang bola dengan benar pun kita tidak bisa.
Biarlah kita mengikuti teladan Ezra yang perduli akan bangsanya. Ia menguatkan hatinya dan memimpin rakyat Israel untuk kembali ke negerinya dan membangun kembali negerinya tersebut.
Saat ini pun Tuhan tantang setiap kita untuk berbuat sesuatu bagi negeri kita. Sehingga kita bukan hanya bertindak sebagai seseorang yang pandai bicara dan mengritik negara kita saja, tetapi berbuat sesuatu untuk kedamaian negeri kita tercinta ini. Jika saudara kerja di pemerintahan, berikan yang terbaik dan bekerjalah secara jujur, dengan demikian saudara bisa jadi berkat.Banyak hal yang bisa kita lakukan bagi negeri kita sebagai warga negara yang baik. Sudah selayaknya kita berdoa bagi negeri kita.

Renungan :
Melalui firman Tuhan hari ini, biarlah kita diingatkan akan panggilan kita, bukan hanya melayani Allah saja, tetapi juga berbuat yang terbaik bagi negara kita. Berdoalah bagi kesejahteraan negeri.

Allah memanggil setiap orang percaya sebagai terang bagi negerinya !

Renungan Harian, 22 Maret 2012

Sebuah Tantangan

Ezra 4:1-24; Matius 10:16-33
“Maka penduduk negeri itu melemahkan semangat orang-orang Yehuda dan membuat mereka takut membangun. Bahkan, selama zaman Koresh, raja negeri Persia, sampai zaman pemerintahan Darius, raja negeri Persia, mereka menyogok para penasihat untuk melawan orang-orang Yehuda itu dan menggagalkan rancangan mereka.”  (Ezra 4:4-5)

Terkadang dalam menghadapi kehidupan ini, kita sering kali menghadapi dan mendapati kerikil-kerikil tajam dalam kehidupan kita, yang menghalangi kita untuk bisa berjalan dan berlari dengan cepat.
Hal itu pulalah yang dihadapi oleh bangsa Israel pada kisah yang kita baca hari ini. Saat mereka sedang membangun kembali tembok-tembok Yerusalem yang sudah rusak berat akibat perang, orang-orang disekeliling mereka memperolok mereka. Bahkan bukan itu saja. Tidak puas memperolok, mereka menyebarkan gosip yang jelas tidak benar pada setiap orang dan gosip tersebut sampai ditelinga raja Artahsasta yang mengakibatkan tersendatnya pemulihan kota Yerusalem.
Sebagai orang percaya, peristiwa yang demikian juga sering kali terjadi dalam kehidupan kita. Ketika kita dalam pemulihan rohani dan lagi bersemangat-semangatnya dalam mengiring Kristus, tiba-tiba ada suara-suara sumbang yang ada disekeliling kita berkata, bahwa tidak ada gunanya kita melakukan semuanya itu kita sudah terlalu banyak berbuat dosa, dan Tuhan tidak akan mengampuni dosa kita. Dan mereka mulai menyebar gosip bahwa kita melakukan sesuatu yang rohani karena hanya sekedar mau menutup-nutupi dosa kita dan supaya mendapat perhatian saja dari gembala.
Saat hal itu menimpa saudara, mungkin hati saudara menjadi panas dan marah, sebab apa yang orang banyak perbincangkan tentang saudara sama sekali tidak benar, dan ketika saudara mencoba menklarifikasi justru orang malah mempersalahkan saudara. Situasi yang demikian pastilah sangat melelahkan baik bagi pikiran saudara maupun kerohanian saudara.
Ingatlah perkataan Yesus dalam Matius 10, bahwa kita sebagai murid Kristus tidak lebih tinggi dari guru kita, jika guru kita saja (Kristus) dihina dan ditentang oleh banyak orang, maka kita pun sebagai muridnya juga akan mengalami hal serupa.

Renungan :
Biarlah melalui firman Tuhan hari ini saudara semakin diteguhkan dan dikuatkan. Ingatlah ketika saudara menghadapi tantangan jangan terus undur diri dari Tuhan, tetapi tetaplah kuad di dalam Dia di dalam kekuatan Kuasa-Nya.

Di dalam segala tantangan hidup biarlah Kuasa-Nya menjadi nyata!

Renungan Harian, 21 Maret 2012

Pemulihan

Ezra 1:1-11; 1 Yohanes 1:9
“Siapa di antara kamu termasuk umat-Nya, Allahnya menyertainya! Biarlah ia berangkat pulang ke Yerusalem, yang terletak di Yehuda, dan mendirikan rumah TUHAN. Allah Israel, yakni Allah yang diam di Yerusalem.." (Ezra 1:3)

Setiap orang pastilah pernah berbuat suatu kesalahan dihadapan Tuhan. Tetapi sebesar apapun kesalahan seseorang tersebut jika kita mengaku dihadapan Tuhan, Tuhan pastilah memulihkan kehidupan umat-Nya.
Cerita yang kita baca hari ini adalah merupakan awal pemulihan bangsa Israel, dimana mereka mulai diijinkan kembali ke negerinya, setelah mengalami pembuangan selama tujuh puluh tahun.
Dari cerita ini, kita tahu bahwa Allah adalah benar-benar Allah yang setia dan selalu menepati janji-Nya. Ia tidak pernah lupa, apalagi mengingkari janji yang telah diberikan kepada umat-Nya. Sekali Ia berfirman, maka firman-Nya itu adalah ya dan amin.
Demikian pula dengan janji pemulihan yang Allah berikan kepada umat-Nya. Hal tersebut pun nyata benar digenapi oleh Allah melalui cerita di dalam pembacaan firman Tuhan hari ini.
Memang benar bahwa janji pemulihan itu tidak meniadakan penghukuman. Buktinya setelah bangsa Israel melakukan kesalahan dihadapan Tuhan mereka harus menghadapi penghukuman, dibuang dan menjadi budak bangsa asing selama tujuh puluh tahun.
Hal tersebut pun juga berlaku bagi umat Tuhan saat ini. Jika saat ini saudara sedang sebuah kebimbangan akan dosa yang pernah saudara buat dan belum diselesaikan. Segeralah datang kepada Tuhan akui segala dosa saudara dihadapan Dia, maka Dia Allah yang setia dan adil pasti mengampuni segala dosa saudara.
Walaupun saudara harus bertanggung jawab atas kesalahan yang saudara perbuat, ingatlah, itu adalah sebuah kosekuensi dari sebuah kesalahan dan saudara memang harus bertanggung jawab akan hal tersebut, tetapi dihadapan Allah ketika saudara sudah mengaku dosa, maka dimata Allah saudara sudah bersih.

Renungan :
Jika saat ini masih ada dosa dan kesalahan yang saudara simpan, segeralah akui dihadapan Tuhan. Ingatlah, Allah yang kita sembah adalah Pribadi yang setia dan Adil yang selalu mengampuni kesalahan setiap anak-anak-Nya.

Akuilah segala dosamu, maka Allah akan memulihkan kehidupanmu!

Renungan Harian, 20 Maret 2012

Jangan ragukan ALLAH !

Ayub 24:1-25; Galatia 6:7
“Mengapa Yang Mahakuasa tidak mencadangkan masa penghukuman dan mereka yang mengenal Dia tidak melihat hari pengadilan-Nya?” (Ayub 24:1)

Dalam pasal yang kita baca. Lagi-lagi Ayub menunjukkan keterguncangan imannya, seolah-olah ia adalah seseorang yang tidak pernah mengenal Allah sebelumnya. Dalam pasal tersebut Ayub menyampaikan keluh kesahnya dan mempertanyakan keadialan Allah dengan membandingkan kehidupan orang yang takut akan Tuhan dengan orang bebal.
Ia mempertanyakan dimanakan keadilan Tuhan, mengapa orang bebal yang selalu berbuat kejahatan, seolah-olah Allah biarkan berbuat semena-mena dan mereka justru berhasil dalam setiap pekerjaannya dan Allah tidak menghukum mereka, sedangkan orang benar dan takut akan Allah yang tertindas yang senantiasa berdoa, tetapi seolah-olah Allah tidak mendengarkan (Ayb 24:12).
Setiap kita pasti juga pernah mengalami situasi yang sama. Ada kalanya kita dalam kondisi lemah dan tertekan. Kemudian kita melihat orang-orang yang ada di sekeliling kita dan kita melihat betapa enaknya kehidupan mereka, walaupun mereka melakukan sesuatu yang tidak berkenan kepada Allah, tetapi mereka tetap berhasil menurut ukuran manusia.
Saat situasi yang demikian terjadi, jangan terus terbawa suasana yang demikian. Segeralah sadar supaya saudara tidak jatuh dalam dosa. Percaya sajalah pada firman Tuhan. Apa yang ditabur seseorang itu juga yang akan dituainya (Gal 6:7). Jadi jika orang lain yang kita lihat berbuat kejahatan, jangan kita iri dengan dia, sebab suatu hari dia pastilah menuai apa yang telah ia taburkan.
Tetaplah kuat di dalam Tuhan. Jangan pernah sekali-kali ragukan kebenaran firman-Nya. Ia bukanlah Pribadi yang tidak menepati janji, tetapi Ia senantiasa menepati segala sesuatu yang telah Ia janjikan melalui firman-Nya.

Renungan :
Melalui firman Tuhan hari ini saudara diingatkan untuk tidak mudah mempertanyakan keadilan TUHAN. Percayalah bahwa Dia adalah Allah yang adil yang selalu memperhatikan setiap keluh kesah anak-anak-Nya

KRISTUS adalah Pribadi yang setia dan tidak perlu diragukan

Renungan Harian, 19 Maret 2012

Penolong SEJATI

Ayub 16:1-22; Ibrani 13:6
“Hal seperti itu telah acap kali kudengar. Penghibur sialan kamu semua!”  (Ayub 16:2)

Setiap orang pasti pernah mengalami permasalahan yang membuat orang tersebut mencapai titik terendah dalam imannya yang membuat ia berada dalam sebuah persimpangan apakah ia akan terus beriman pada Kristus atau memiliki untuk menjadi murtad.
Apa yang Ayub ungkapkan dalam pasal ini adalah bentuk dari tertekannya batin Ayub ditambah dengan perkataan sahabat-sahabatnya yang membuat ia emosi dan semakin lemah imannya.
Hal yang sama bisa jadi juga terjadi dalam kehidupan setiap orang percaya, saat apa permasalahan orang terdekat bukannya menghibur dan menguatkan tetapi justru memperolok dan mempertanyakan iman. Hal tersebut bisa membuat iman down dan marah.
Dalam situasi yang demikian firman Tuhan menasihatkan setiap orang percaya agar menguasai diri dan menjadi tenang (1 Pet 4:7). Menyerahkan segala perkara ke dalam tangan yang tepat yaitu Yesus. Tidak ada pribadi yang lebih tepat daripada Yesus untuk curhat selain Dia yang sanggup menolong dan melepaskan setiap orang percaya dari segala jenis permasalahan.
Yesus selalu membuka tangan-Nya dan siap menyambut setiap orang yang lemah dan lesu dan Ia akan memberikan setiap orang yang datang kepada-Nya (Mat11:28). Kelegaan yang Ia berikan bukanlah kelegaan yang semu dan sementara, tetapi suatu kelegaan yang sejati.
Sebagai Penolong Sejati, Ia bahkan memberikan nyawa-Nya bagi kita untuk memberikan hal yang terpenting dalam kehidupan manusia yaitu keselamatan. Apalagi hal-hal yang lainnya Ia pasti menopang dan menyelesaikan.

Renungan :
Biarlah melalui firman Tuhan hari ini saudara menjadi kuat dan tidak lagi mendengar apa kata orang. Saat permsalahan datang datang saja pada Yesus sebagai Penolong yang sejati, dijamin saudara tidak akan kecewa

Sahabat sejati adalah IA yang memberikan nyawa-Nya bagi sahabat-Nya

Renungan Harian, 18 Maret 2012

Kemuliaan yang lebih Berharga

Ayub 8:1-22; Filipi 3:7
“Maka kedudukanmu yang dahulu akan kelihatan hina, tetapi kedudukanmu yang kemudian akan menjadi sangat mulia.”  (Ayub 8:7)

Ketika seseorang mau percaya dan mengikut Kristus, pada awal mulanya tidak sedikit yang beranggapan bahwa setelah seseorang menjadi percaya mereka akan bebas dari segala permasalahan hidup dan kehidupan mereka akan senantiasa damai.
Namun pada kenyataannya setelah mereka percaya Yesus, tidak sedikit yang menjadi kecewa, karena yang mereka hadapi justru permasalahan hidup bukan hilang, tetapi setelah mengikut Kristus tantangan yang harus mereka hadapi semakin banyak dan berat menurut ukuran manusia.
Memang Allah tidak pernah menjanjikan ketika seseorang percaya pada-Nya akan bebas dari segala permasalahan hidup, yang Ia janjikan adalah Allah akan menyertai dan mereka yang percaya pada akhirnya ditentukan menjadi pemenang.
Jangan pernah sekalipun meragukan penyertaan Kristus dalam kehidupan saudara. Ikutilah teladan dari Paulus. Sebelum mengenal Kristus ia adalah salah satu orang yang setuju orang kristen dianiaya dan dinusnahkan, tetapi ketika ia menerima Kristus cara pandangnya dirubah 180 derajat. Ia yang dulunya benci Kristus menjadi pribadi yang begitu mengasihi Kristus.
Dalam perjalanan pelayanannya kerapkali Paulus dihadang oleh berbagai permasalahan hidup, tetapi hal tersebut tidak membuat imannya goyah. Ia justru semakin menyala-nyala dalam memberitakan Injil Kristus.
Bahkan dalam salah satu suratnya ia mengatakan bahwa apa yang dulu ia anggap sangat berharga karena pengenalan akan Kristus semuanya dianggapnya sebagai sampah. Ia menyatakan bahwa tidak ada hal apa pun juga yang dapat menyamai pengenalan akan Kristus.

Renungan :
Melalui firman Tuhan hari ini, biarlah kita dikuatkan dan diteguhkan langkah kita dalam mengiring Kristus. Percayalah tidak ada suatu apa pun yang dapat menggantikan kasih Kristus.

Tidak ada hal yang lebih berharga daripada kasih Kristus !

Renungan Harian, 17 Maret 2012

Tetaplah Kuat

Ayub 3:1-26; Matius 5:10-12
“Aku tidak mendapat ketenangan dan ketenteraman; aku tidak mendapat istirahat, tetapi kegelisahanlah yang timbul.”  (Ayub 3:26)

Ayub siapa sih yang tidak kenal dengan tokoh yang satu ini? Sejak kita masih kecil dan ikut ibadah sekolah minggu kita sudah familiar dengan tokoh ini, sebab tokoh ini paling sering menjadi bahan cerita guru-guru sekolah minggu.
Dia adalah seorang yang kaya raya dan takut Tuhan, sampai suatu hari Tuhan mengijinkan sesuatu terjadi dalam kehidupannya. Dalam waktu yang sangat singkat ia kehilangan segala sesuatu yang berharga dalam hidupnya – harta kekayaan, anak dan istrinya meninggalkan dia – yang membuat dia goyah.
Ayub pasal 3 yang kita baca hari ini menceritakan ungkapan isi hati dari Ayub melalui keluh kesahnya, yang menunjukkan begitu tertekan dan kagetnya ia menghadapi suatu kejadian beruntun yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Setiap kita pun sedikit banyak pernah mengalami situasi yang demikian – walaupun tidak separah Ayub – dan kita berkeluh kesah serta mengatakan ungkapan-ungkapan yang harusnya tidak boleh keluar dari mulut kita, tetapi kata-kata itu keluar begitu saja karena tekanan yang kita hadapi.
Namun demikian firman Tuhan mengingatkan setiap kita anak Tuhan agar kita tidak menyerah dalam menghadapi permasalah yang menimpa kehidupan kita. Tetapi kita tetap bersemangat dan menghadapi setiap bermasalahan dengan iman dan ucapan syukur.
Firman Tuhan mengingatkan setiap kita dan memberikan penghiburan, bahwa kita disebut sebagai orang-orang yang berbahagia ketika kita masuk ke dalam pencobaan, sebab dengan demikian menunjukkan jati diri kita sebagai orang-orang yang layak untuk menghuni kerajaan sorga.

Renungan :
Biarlah melalui firman Tuhan hari ini saudara semakin diteguhkan dan dikuatkan. Ingatlah Allah dipihak saudara dan Ia tidak pernah membiarkan saudara sendirian dalam menghadapi permasalah. Tetaplah teguh dalam iman dan biarlah permasalah yang saudara hadapi menjadi proses pendewasaan iman saudara.

Angkatlah tanganmu saat tidak sanggup, maka Ia akan turun tangan menolongmu!

Renungan Harian, 16 Maret 2012

Upah Takut akan Allah
Ester 10:1-3; Matius 5:13-16
“Karena Mordekhai, orang Yahudi itu, menjadi orang kedua di bawah raja Ahasyweros, dan ia dihormati oleh orang Yahudi serta disukai oleh banyak sanak saudaranya, sebab ia mengikhtiarkan yang baik bagi bangsanya dan berbicara untuk keselamatan bagi semua orang sebangsanya. " (Ezra 1:3)

Siapa sih yang tidak kenal Ratu Ester yang luar biasa, tetapi siapakah Mordekhai yang ada dalam kitab Ester, apakah jasanya sehingga ia tercatat pada bagian penutup dalam kitab ini dan sangat dihormati.
Namun dibalik Ratu Ester yang luar biasa ada orang biasa yang membuat dia diangkat sebagai ratu. Orang sederhana tersebut adalah Mordekhai paman dari Ester. Karena nasehat dari Mordekhailah Ester bisa diangkat menjadi menjadi Ratu dari Ahasyweros.
Suatu hari salah seorang pejabat dari Raja Ahasyweros, yaitu Haman beriktiar (memiliki rencana) untuk memusnahkan bangsa Yahudi dan Mordekhai memberitahukan hal tersebut kepada Ester dan seluruh bangsa Yahudi bersepakat untuk berdoa akan hal tersebut. Dan akhirnya rencana Haman untuk memusnahkan orang Yahudi dan menggantung Mordekhai gagal total dan justru dia yang digantung di tiang gantungannya sendiri.
Melalui kisah Mordekhai ini biarlah menjadi teladan bagi setiap anak-anak Tuhan, bahwa kita sebagai orang percaya tidak perlu takut untuk berbuat benar. Memang hal tersebut akan membuat orang disekeliling kita akan menjauh bahkan memusuhi kita. Tetapi percayalah pembelaan Allah itu selalu nyata.
Kita tidak perlu kuatir can cemas untuk berjalan sesuai dengan kebenaran firman Tuhan. Allah pasti menyertai kita dan meluputkan kita dari setiap orang yang mau berbuat jahat kepada kita.
Sebagai mana Allah melepaskan Mordekhai dari tangan dan rencana jahat Haman, demikian juga Allah pastilah melepaskan setiap kita dari tangan-tangan orang yang ingin berbuat jahat kepada kita.

Renungan :
Jika saat ini saudara masih ragu dan takut untuk berbuat benar, segeralah ambil keputusan untuk berani berbuat benar. Perlindungan dan penyertaan Allah pastilah senantiasa bersama dengan saudara, menghindarkan saudara dari rencana jahat orang yang ada di sekitar saudara
Tetaplah berbuat benar, maka pembelaan-Nya nyata sempurna!

Jumat, 02 Maret 2012

Renungan Harian, 15 Maret 2012

Melayani dari Masa Muda

2 Tawarikh 34:1-33; 1 Timotius 4:12
“Pada tahun kedelapan dari pemerintahannya, ketika ia masih muda belia, ia mulai mencari Allah Daud, bapa leluhurnya, dan pada tahun kedua belas ia mulai mentahirkan Yehuda dan Yerusalem dari pada bukit-bukit pengorbanan, tiang-tiang berhala, patung-patung pahatan dan patung-patung tuangan.(2 Tawarikh 30:9)

Satu lagi pahlawan Allah yang luar biasa. Namanya adalah Yosia dan dia adalah raja atas Yehuda. Yang luar biasanya dia duduk memerintah sebagai raja sejak usianya masih tergolong anak-anak, yaitu delapan tahun.
Saat usianya menginjak enam belas tahun, yaitu di tahun kedepalan dalam masa pemerintahannya ia sungguh-sungguh mencari Tuhan dan di tahun keduabelas, ia mengadakan suatu pembaharuan atas negerinya. Sama seperti yang dilakukan oleh Hizkia, ia mengadakan terobosan rohani yang luar biasa. Yosia tidak merasa canggung walaupun pada waktu itu usianya masih muda, dia tetap melakukan apa yang benar di mata Tuhan.
Dalam Perjanjian Baru juga ada tokoh yang demikian, namanya adalah Timotius. Ia adalah anak rohani dari Paulus dan sejak dari masa mudanya ia melayani Allah bersama-sama dengan Paulus. Ia didorong terus dan diberi semangat oleh Paulus bapak rohaninya untuk tidak menjadi takut walaupun ia muda (1 Tim 4:12).
Hal yang sama saat ini juga berlaku bagi setiap saudara anak-anak Tuhan. Walaupun mungkin saat ini usia masih muda, tidak ada alasan bagi saudara untuk tidak melayani Tuhan. Justru pada masa mudalah saudara harus melayani dia – disaat masa-masa keemasan dalam kehidupan saudara –, jangan tunggu kalau sudah tua nanti.
Ikutilah teladan dari Yosia dan Timotius, walaupun secara usia mereka masih muda, tetapi semangat mereka dalam melayani Tuhan sungguh luar biasa. Walaupun saat ini saudara masih muda ikutilah teladan mereka dengan melayani Tuhan dengan sungguh-sungguh dan menjaga kekudusan saudara. Dengan demikian saudara benar-benar berfungsi sebagai garam dan terang bagi Kristus dan menyatakan kemuliaan-Nya. 

Renungan :
Melalui firman Tuhan hari ini saudara diingatkan agar tidak berdiam diri. Tuhan mau saudara ambil bagian dalam pelayanan untuk menyatakan kasih Tuhan bagi sekeliling saudara. Dengan demikian kemuliaan Allah dinyatakan melalui kehidupan saudara. Amin.

Pergunakanlah masa mudamu untuk melayani Tuhan

Renungan Harian, 14 Maret 2012

Terobosan Rohani

2 Tawarikh 30:1-27; Kisah Para Rasul 3:19-20
“Karena bilamana kamu kembali kepada TUHAN, maka saudara-saudaramu dan anak-anakmu akan mendapat belas kasihan dari orang-orang yang menawan mereka, sehingga mereka kembali ke negeri ini. Sebab TUHAN, Allahmu, pengasih dan penyayang: Ia tidak akan memalingkan wajah-Nya dari pada kamu, bilamana kamu kembali kepada-Nya!”           (2 Tawarikh 30:9)

Bacaan firman Tuhan hari ini berisi kisah tentang cerita Hizkia raja Yehuda. Ia adalah seorang raja yang hidup berkenan dihadapan Allah. Ia bukan hanya orang yang takut akan Allah, tetapi ia juga adalah seorang pemimpin dan hamba Allah yang baik.
Semasa hidupnya, ia membuat seruan pertobatan bagi bangsanya dan merayakan Paskah sesuai dengan apa yang Tuhan perintahkan. Bahkan apa yang mereka lakukan sudah lama tidak dilakukan semenjak jaman Salomo (ayat 26).
Hizkia melakukan suatu terobosan rohani bagi bangsanya. Dan apa yang ia lakukan bagi bangsanya sangatlah menyenangkan hati Allah. Ia tahu benar tugas dan tanggung jawabnya sebagai raja Yehuda pada waktu itu, yaitu untuk membawa kembali bangsanya kepada penyembahan yang benar kepada Allah yang hidup.
Keberadaan kita sebagai orang percaya hendaknya sama seperti Hizkia. Menjadi berkat dan membawa dampak bagi orang-orang yang berada disekeliling kita. Sebab kita adalah terang dan garam bagi Kristus (Mat 5:13-16), yang harus senantiasa memancarkan kemuliaan Allah dalam kehidupan kita sehari-hari.
Dimanapun kita berada, kita harus menjadi dampak dan membawa terobosan rohani bagi sekeliling kita. Kita bukan digarami, tetapi menggarami dunia dengan kasih Allah yang telah kita terima, melalui pengorbanan Kristus di kayu salib.
Sebagai anak-anak Tuhan kita harus membuat perubahan bagi sekeliling kita dan membuat sekeliling kita menjadi sesuatu yang berkenan kepada Allah, sama seperti yang dilakukan oleh Hizkia pada bangsanya.
Sama seperti Petrus juga, sebelumnya dia adalah pribadi yang penakut, tetapi setelah ia dipenuhi oleh Roh Kudus, ia menjadi pribadi yang luar biasa dan bersaksi dihadapan banyak orang dan atas kesaksiannya lebih dari tiga ribu orang bertobat. Kita pun juga bisa melakukan hal yang sama.

Renungan :
Biarlah melalui firman Tuhan hari ini roh saudara dibakar dan dikobarkan kembali. Bawa perubahan dan jadilah terang bagi sekelilingmu dan biarlah nama Tuhan dipermuliakan melalui kehidupan saudara.

Biarlah terangmu bercahaya dan dilihat oleh semua orang!

Renungan Harian, 13 Maret 2012

Tinggi Hati

2 Tawarikh 26:1-23; 1 Timotius 6:17-19
“Setelah ia menjadi kuat, ia menjadi tinggi hati sehingga ia melakukan hal yang merusak. Ia berubah setia kepada TUHAN, Allahnya, dan memasuki bait TUHAN untuk membakar ukupan di atas mezbah pembakaran ukupan.” (2 Tawarikh 26:16)

Penulis kitab Amsal mengatakan, “Kecongkakan mendahului kehancuran, dan tinggi hati mendahului kejatuhan.” (Amsal 16:18). Nampaknya hal itulah yang terjadi pada raja Uzia. Pada masa mudanya, saat pertama kali ia menjabat sebagai raja, ia adalah seseorang yang didapati benar dihadapan Allah, ia mencari Allah selama hidup Zakharia (ayat 5).
Dalam peperangan ia senantiasa menang dan kerajaannya semakin kokoh dan kuat. Ia mendirikan menara, memiliki pasukan yang kuat dan persenjataan yang lengkap. Itu semuanya ia peroleh karena ia adalah seorang raja yang berkenan kepada Allah.
Namun setelah kerajaannya semakin kuat, raja Uzia menjadi tinggi hati dan menjadi sombong. Ia tidak lagi bertanya pada Tuhan akan apa yang ia lakukan, ia bertindak sendiri dan berubah setia kepada TUHAN. Ia melakukan suatu kesalahan yang sangat fatal yaitu membakar ukupan di mezbah Tuhan yang seharusnya hanya boleh dilakukan oleh para imam – persis yang dilakukan raja Saul yang membuat ia ditolak oleh Allah menjadi raja atas Israel – dan sebagai akibatnya ia terkena sakit kusta sampai pada hari matinya.
Sering kali hal yang sama juga terjadi pada setiap orang percaya. Pada waktu seseorang pertama kali percaya pada Yesus, atau sedang berada di dalam permasalahan, orang tersebut akan bersungguh-sungguh mencari Tuhan (kasih mula-mula). Namun setelah lama menjadi orang Kristen dan permasalahannya sudah beres bahkan menjadi orang yang diberkati dan sukses secara finansial mulai lupa dan meninggalkan Tuhan.
Baru setelah tertimpa masalah kembali, baru sadar dan bertobat. Dan anehnya hal tersebut tidak terjadi sesekali, tetapi berulang kali. Itu sebabnya rasul Paulus mengingatkan setiap kita bahwa apa kita miliki saat ini, bukan semata-mata hasil jerih lelah kita smata, tetapi karena berkat Tuhan saja. Paulus menegaskan agar setiap orang percaya tidak menjadi tinggi hati dan sombong saat beroleh pemulihan dan berkat dari Tuhan. Tetapi menggunakan setiap kekayaan yang dimiliki untuk saling membangun dan memuliakan nama Tuhan.

Renungan :
Melalui firman Tuhan hari ini, biarlah saudara diingatkan agar tidak jatuh dalam dosa kesombongan dan tinggi hati. Pergunakan setiap keberhasilan yang saudara miliki untuk membangun saudara yang lain dan memuliakan nama Tuhan.

Tinggi hati adalah awal kehancuran. Waspadalah !

Renungan Harian, 12 Maret 2012

Campur Tangan Allah

2 Tawarikh 22:1-46; Yohanes 8:2-11
“Tetapi Yosabat, anak perempuan raja, mengambil Yoas bin Ahazia, menculik dia dari tengah-tengah anak-anak raja yang hendak dibunuh itu, memasukkan dia dengan inang penyusunya ke dalam gudang tempat tidur. Demikianlah Yosabat, anak perempuan raja Yoram, isteri imam Yoyada, --ia adalah saudara perempuan Ahazia--menyembunyikan dia terhadap Atalya, sehingga ia tidak dibunuh Atalya.” (2 Tawarikh 22:11)

Kita sadari atau tidak, Allah senantiasa memperhatikan kehidupan anak-anakNya. Mata-Nya tidak pernah lelah untuk senantiasa memperhatikan setiap orang percaya (1 Pet 3:12). Ia selalu mengawasi anak-anakNya.
Disaat terlemah dalam kehidupan kita sekalipun, sekali-kali Ia tidak pernah meninggalkan kita berjuang sendirian. Namun demikian banyak sekali orang percaya tidak menyadari akan hal tersebut. Yang terjadi sering kali ketika mereka merasa ada beban permasalah yang terjadi dan menimpa kehidupan mereka, pada awalnya mereka berdoa, tetapi ketika jawaban doa itu tidak kunjung datang yang mereka lakukan mulai mengeluh dan mempertanyakan Tuhan, apakah Dia tidak mendengar?
Seringkali kita juga mengalami hal yang sama. Kita berada dalam posisi yang terjepit dan tidak bisa berbuat apa-apa. Namun justru disitulah iman kita sedang diuji oleh Allah. Pada kondisi yang demikian kita berada dalam suatu persimpangan jalan, mengikuti keinginan kita atau bersandar pada Allah. Jika kita terjebak dan salah dalam mengambil keputusan dengan mengikuti keinginan kita maka kita justru menyusahkan diri kita sendiri pada akhirnya.
Sadarilah bahwa Allah kita bukanlah manusia yang sering kali lupa janji. Ia Allah yang setiap dan penyertaan-Nya adalah bersifat kekal. Janganlah, kuatir, takut dan cemas saat badai permasalah menerpa, tetaplah bersandar pada Allah maka Dia pastilah memberikan jalan keluar dalam kehidupan saudara.
Yang jadi permasalahan bukanlah Allah, tetapi kita. Sering kali kita memang ketika menghadapi permasalahan bersandar pada Allah pada mulanya, tetapi karena tidak sabar dalam menantikan pertolongan Tuhan, maka kita bertindak sendiri dan itu justru menggagalkan pertolongan Tuhan dalam kehidupan kita. Itulah sebabnya kita harus terus bersandar pada Allah dan tidak menggunakan kekuatan kita sendiri apapun yang terjadi.

Renungan :
Biarlah melalui firman Tuhan hari ini saudara semakin diteguhkan dan dikuatkan. Ingatlah ketika saudara angkat tangan dan berserah sepenuhnya pada Allah, maka Ia akan turun tangan untuk menyelesaikan permasalahan saudara.

Bila kita angkat tangan, maka DIA pasti turun tangan

Renungan Harian, 11 Maret 2012

Matematika Allah

2 Tawarikh 13:1- 22; Matius 14: 13-21
“dan orang-orang Yehuda memekikkan pekik perang. Pada saat orang-orang Yehuda itu memekikkan pekik perang, Allah memukul kalah Yerobeam dan segenap orang Israel oleh Abia dan Yehuda." (2 Tawarikh 13:15)

Kita sebagai manusia senantiasa memperhitungkan segala sesuatunya. Besar – kecil, banyak – sedikit tidak pernah lepas dari pengamatan kita sebagai manusia. Bagi kita sesuatu yang besar pasti lebih kuat dan yang lebih kecil jumlahnya tidak mungkin menang dalam melawan jumlah yang lebih besar. Bagi kita itu adalah sesuatu yang mustahil.
Tetapi tahukan saudara bahwa bagi Allah tidak ada yang mustahil. Bagi Dia segala sesuatunya mungkin dan bisa terjadi. Bacaan firman Tuhan kita hari ini sekali lagi menunjukkan hal tersebut.
Pada waktu Abia menjadi raja atas Yehuda ia hanya memimpin empat ratus ribu orang pasukan sedangkan Yerobeam memimpin delapan ratus ribu orang – jumlah tersebut dua kali lipat dari pasukan yang dimiliki oleh raja Abia. Secara perhitungan matematika, yang menang pastilah pasukan dari Yerobeam raja Israel.
Ketika orang Yehuda memekik perang, saat itu Tuhan mendengarkan seruan mereka dan memukul kalau Yerobeam beserta pasukannya dan di pihak Yerobeam gugur lima ratus ribu pasukan.
Bagi Allah jumlah yang besar ataupun kecil bukanlah masalah. Roma 8 :31 mengatakan : “Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?”. Itu sebabnya jangan pernah mengukur kekuatan saudara berdasarkan matematika dan logika kita sebagai manusia, sebab jika hal itu yang kita lakukan, kita akan kecewa dan jadi kuatir.
Pegang janji firman Tuhan, dan serahkan segala perkara pada Dia, ikuti saja matematika Allah, maka perkara mujizat pasti terjadi. Ketika Yesus memberi makan lima ribu orang hanya dengan lima roti dan dua ikan (Mat 14:17). Yesus membuat perkara yang mustahil bisa terjadi. Percaya saja pada Dia.

Renungan :
Hari ini jadikan kisah dari Raja Abiab semakin menguatkan iman saudara. Jangan lagi berfikir dengan logika dan matematika manusia, percayalah Tuhan ada dipihak saudara dan bersama dengan Dia saudara dapat melakukan perkara-perkara yang besar.

Bagi Allah dua ditambah lima sama dengan lima ribu orang kenyang!

Learn The Truth of Christian Values Headline Animator

Entri Populer