Jumat, 11 Mei 2012

Renungan Harian, 21 Mei 2012

Ketaatan Mutlak

Bilangan 15:1-41; Roma 2:6-8
“Maka jumbai itu akan mengingatkan kamu, apabila kamu melihatnya, kepada segala perintah TUHAN, sehingga kamu melakukannya dan tidak lagi menuruti hatimu atau matamu sendiri, seperti biasa kamu perbuat dalam ketidaksetiaanmu terhadap TUHAN” (Bilangan 15:39).

Taat dan ketaatan adalah sebuah kata yang sangat mudah untuk dikatakan, tetapi sukar untuk dilakukan. Ada beberapa kata dalam bahasa Yunani yang dapat diartikan dengan kata “taat”. Salah satu dari kata tersebut adalah “pistis”, kata yang sama dengan kata yang berarti “iman”. Dengan demikian, kita kita berbicara masalah ketaatan, maka hal tersebut tidak bisa dipisahkan dari iman, sebab dua-duanya berasal dari akar kata yang sama.
Bilangan 15 sangatlah menekankan pentingnya mendengarkan perintah TUHAN dan taat menjalankannya. Ayat 1 sampai 21 menghubungkan ketaatan terhadap perintah Allah dengan korban yang berkenan kepada Tuhan. Ayat 22 sampai 29 membahas bagaimana ketika seseorang secara tidak sengaja melanggar perintah Allah harus bertobat dan memberi korban sebagai pendamaian. Ayat 30 sampai 36 menunjukkan, jika pelanggaran itu disengaja, maka ada penghukuman. Sedangkan ayat 37 sampai 41 membahas tentang jumbai peringatan, supaya setiap orang senantiasa teringat akan perintah Allah dan melakukan semua perintah tersebut.
Perihal ketaatan sangatlah ditekankan dalam pasal ini. Hal tersebut dikarenakan pada pasal sebelumnya, ketidaktaatan bangsa Israel terhadap perintah Allah, membuat sebagian besar dari mereka tidak dapat masuk ke tanah perjanjian (Bil 14:28-33), hanya keturunan mereka yang bisa masuk ke tanah perjanjian dan dua orang diantara mereka, yaitu Yosua bin Nun dan Kaleb bin Yefune (Bil 14:38).
Ketaatan adalah hal yang sangat penting, sebab hal tersebut berkaitan dengan iman percaya kita. Jika kita berkata kita beriman, tetapi kita tidak taat, maka hal itu merupakan sebuah kebohongan. Dengan demikian, jika kita beriman kepada Allah, maka kita pun harus taat kepada Allah dan segala perintah-Nya, jika tidak, maka sama halnya kita menyangkali iman percaya kita sendiri kepada Allah.
Marilah kita belajar pada pribadi Abraham, pribadi yang disebut sebagai “bapa orang beriman”. Predikat tersebut tidak asal melekat pada diri Abraham, sebab dia telah membuktikan imannya dengan tetap berpegang teguh pada janji Allah dan senantiasa melaksanakan perintah Allah, bahkan saat diperintahkan untuk mengorbankan anaknya, ia taat. Dan karena ketaatannya mujizat terjadi dan anaknya tidak jadi mati. Iman dan ketaatan yang sama Allah tuntut ada pada setiap kita sebagai identitas kita sebagai orang percaya (Rm 4:18-25; Kej 22:1-19).
Ketaatan adalah mutlak bagi setiap orang percaya. Kristus sendiri telah memberikan teladan bagi setiap kita perihal ketaatan. Ia taat sampai mati demi menebus setiap kita. Marilah kita ikut teladan Kristus dengan hidup penuh dengan ketaatan terhadap kebenaran firman Tuhan.

Renungan :
Seperti firman Tuhan katakan “janganlah kita menjadi seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif”. Jangan lagi kita menunda-nunda untuk hidup taat, waktu terus bergulir dan kedatangan-Nya semakin dekat, segera ambil komitmen untuk hidup dalam ketaatan mutlak kepada Allah.

Sebagai murid yang baik, maka kita harus mengikuti teladan Guru kita dalam KETAATAN

Learn The Truth of Christian Values Headline Animator

Entri Populer