Kamis, 13 Juni 2013

Nuh

Kehidupan Nuh

nuh
Semakin lama, jumlah manusia di bumi semakin bertambah. Nampaknya pengaruh kehidupan Kain dan keturunannya sangat kuat di masyarakat pada waktu itu. Kehidupan manusia semakin rusak, bukan hanya tidak lagi mengindahkan Allah, tetapi mereka juga saling kawin mengawinkan dan melakukan berbagai macam tindakan keji lainnya.
Pada waktu itu ALLAH melihat dengan sedih, sebab kejahatan manusia sudah mencapai suatu titik yang menyedihkan (Kejadian 6:5-6). Bagaimana DIA tidak bersedih hati, sebagian besar, bahkan hampir seluruh manusia pada zaman itu hidupnya benar-benar tidak takut akan TUHAN.

Kejahatan dan kekejian manusia, membuat ALLAH murka dan berencana untuk memusnahkan manusia, sebab DIA tidak melihat sesuatu yang baik, dan keinginan untuk berubah dari diri manusia (Kejadian 6:7).
Namun demikian, masih ada satu keluarga yang hidupnya benar-benar berbeda dengan keadaan masyarakat pada waktu itu. Keluarga ini benar-benar hidup takut akan TUHAN, mengasihi DIA, berbakti, dan hidup bergaul dengan ALLAH, namanya adalah NUH.
Nuh dan keluarganya sangat mengasihi TUHAN, dia memelihara apa yang telah diajarkan oleh leluhurnya, untuk senantiasa mengasihi, menghormati, berbakti kepada ALLAH, bergaul karib dengan ALLAH, serta memberikan korban persembahan kepada ALLAH.
Allah melihat dan memperhatikan kehidupan Nuh dan berkenan kepada dia dan keluarganya. Itulah sebabnya saat Allah akan musnahkan seluruh manusia, Allah memperhitungkan ketaatan Nuh dan menyelamatkan usahannya.

Ketekunan Nuh Diuji
Allah memberitahukan segala rencana-Nya kepada Nuh, dan menyuruh Nuh untuk membuat sebuah Bahtera bagi, dia, keluarganya, dan hewan-hewan yang tidak bisa berenang. Segala detail, ukuran, bentuk, dan segala sesuatu yang berkaitan dengan bahtera tersebut Allah beritahukan kepada Nuh, sehingga dia tinggal melakukan tugasnya untuk membangun bahtera tersebut.
Jika membuat sebuah kapal, perahu, dan bahkan bahtera di pinggir pantai adalah suatu hal yang biasa dan tidak akan menarik perhatian banyak orang, tetapi berbeda halnya dengan apa yang Allah perintahkan kepada Nuh. Allah tidak memerintahkan dia untuk membuat suatu bahtera di tepian pantai, tetapi di atas bukit.
Manusia modern pun, jika melihat peristiwa yang sama pada saat ini akan memiliki dua pandangan pertama, hal itu dipandang sebagai tindakan unik, biasanya untuk tujuan rekreasi, yang kedua pastilah memiliki pendapat yang sama dengan manusia pada zaman Nuh, apalagi kalau disertai dengan sebuah cerita bahwa akan terjadi banjir yang luar biasa hebat dan menutupi seluruh bumi, sehingga dia membangun perahunya di atas bukit.
Semua orang pastinya memandang Nuh sudah tidak waras, sudah gila, tidak berakal, penuh hayalan, dan tindakan yang dilakukannya adalah suatu hal yang sia-sia, tidak berguna.
Ditengah tekanan, olokan, dan gunjingan orang, sikap hati Nuh tidak berubah, sedikit pun dia tidak meragukan apa yang telah Allah firmankan. Dengan setia, bagian demi bagian dia kerjakan, tanpa keluhaan dan penuh kesetiaan, Nuh mengerjakan tugasnya sampai selesai.

Air Bah
Setelah apa yang Allah perintahkan kepada Nuh dilaksanakan dan diselesaikan, maka Allah kembali berfirman agar Nuh mengumpulkan segala binatang melata yang ada, dan burung di udara, untuk masuk ke dalam bahtera, sebelum waktu yang ditentukan oleh Allah akan tibanya air bah itu datang.
Bisa dibayangkan, suatu tugas yang tidak ringan dan penuh tantangan. Nuh bisa saja menolak dan mengeluh dengan berbagai macam alasan, tetapi sekali lagi ketaatannya kepada Allah sungguh teruji. Dia tidak memperhatikan apa kata orang, sebab bagi dia kata TUHAN itu lebih penting.
Setia, Nuh mengumpulkan semua jenis binatang sesuai dengan kehendak Allah, mulai dari binatang ternak, binatang yang najis dan binatang buas. Dalam hal ini tantangan Nuh bukan hanya dari lingkungan saja, tetapi juga dari segi binatangnya itu sendiri. Kalau yang dikumpulkan semuanya binatang jinak, itu mungkin tidak jadi masalah, tetapi bagaimana dengan hewan yang bersifat karnivora?
Namun Alkitab memang tidak mencatat akan adanya kesulitan, hal tersebut menunjukkan bahwa dalam setiap hal yang ALLAH perintahkan kepada umat-Nya, Allah mengerti tingkat kesulitan dan kesanggupan umat-Nya tersebut untuk melakukannya.
Sama kalau TUHAN perintahkan sesuatu kepada kita, mungkin bagi kita itu susah dan sulit, tetapi percayalah bahwa TUHAN tahu batas kemampuan kita, dan ingat bahwa DIA tidak pernah meninggalkan kita sendiri, lakukan saja apa yang menjadi bagian kita, selebihkan serahkan kepada ALLAH, lihatlah pertolongannya sempurna atas setiap kita umat-NYA.
Setelah semua binatang yang Allah perintahkan sudah masuk semua, maka Allah menutup pintu bahtera itu, dan mulailah turun hujan yang luar biasa lebat yang belum pernah terjadi sebelumnya dan tidak akan pernah terjadi lagi setelah itu. Tidak tanggung-tanggung, sudah hujannya sangat lebat waktunya pun benar-benar lama, 40 hari, 40 malam (Kejadian 7:12).
Air meluap dengan luar biasa dan membinasakan segala yang hidup di muka bumi, suatu peristiwa yang mengerikan dan menakutkan. Jika kita ingat akan peristiwa tsunami di Aceh, kita yang melihatnya saja merasa ngeri, padahal itu pun tidak melanda seluruh bumi, bisa dibayangkan jika hal yang sama terjadi pada saat ini, kepanikan yang luar biasa pasti terjadi dimana-mana, riuh, teriak, dan histeris.

Itulah penghukuman dari Allah terhadap orang-orang bebal pada waktu itu.  

Setelah beberapa bulan lamanya, akhirnya bahtera Nuh terkandas, dan air menjadi surut sepenuhnya. Pada waktu itu yang tinggal hidup hanyalah yang ada di bahtera, baik manusia maupun binatang melata dan burung-burung.

Suatu perjanjian
Setelah semuanya selesai, maka Nuh keluar dan melepaskan semua binatang yang tadinya dimasukkan ke dalam bahtera. Kemudian Nuh mendirikan mezbah bagi ALLAH dan mengucap syukur atas pemeliharaan Allah dalam hidupnya dan keluarganya.
Setelah itu Allah berfirman kepada Nuh, mengucap berkat atas dia dan keluarganya (Kejadian 9:1-7). Allah mengikat suatu perjanjian dengan NUH bahwa apa yang terjadi pada jamannya adalah suatu peringatan yang keras pada manusia.
DIA juga berkata kepada NUH, bahwa peristiwa yang sama tidak akan terjadi lagi, dan sebagai tanda dari perjanjian tersebut, maka Allah memberikan tanda busur di awan (pelangi), sehingga ketika setiap orang melihatnya mengingat akan perjanjian Nuh dengan Allah.

Akhir hidup Nuh
Dalam masa tuanya, Nuh hidup sebagai petani dan Alkitab mencatat bahwa dialah yang pertama kali membuat sebuah kebun anggur di bumi ini (Kejadian 9:20).
Nuh hidup beberapa waktu kemudian dan dia mencapai usia sembilan ratus lima puluh tahun, kemudian dia meninggal dunia. (ap)

Learn The Truth of Christian Values Headline Animator

Entri Populer