Oleh Anton Pramono | Diterbitkan dalam Sejarah Gereja & Sejarah Pemikiran Teologi
Pengantar: Ketika Konsili Menentukan Batas Iman Dunia Kristen
Pada bagian sebelumnya, kita telah melihat bagaimana para Bapa Gereja mulai menggunakan konsep kecaman teologis untuk membendung arus bidah di era patristik awal. Memasuki Abad Kuno Akhir hingga Abad Pertengahan, instrumen ini mengalami pelembagaan yang jauh lebih terstruktur melalui apa yang disebut sebagai **Konsili Ekumenis**—pertemuan raya para uskup dari seluruh dunia Kristen universal untuk merumuskan doktrin yang mengikat.
Di dalam sidang-sidang konsili agung inilah rumusan **"Anathema sit"** (dikutuklah dia / dipisahkanlah ia dari persekutuan) menemukan bentuk klasiknya. Rumusan ini tidak lagi sekadar retorika peringatan, melainkan segel pengunci doktrinal yang ditempatkan di akhir setiap kanon iman. Mari kita bedah bagaimana anatomi konsili-konsili ekumenis ini menggunakan anathema sebagai instrumen penjaga kemurnian ortodoksi.
1. Evolusi Konsili Ekumenis: Dari Nicea (325 M) hingga Kalsedon (451 M)
Setelah Konsili Nicea pertama (325 M) menjatuhkan anathema terhadap pengikut Arianisme, model penetapan batas teologis ini menjadi pola baku bagi konsili-konsili ekumenis berikutnya dalam menghadapi perdebatan seputar hakikat Kristus (Kristologi) dan Trinitas.
Beberapa tonggak konsili penting mencatat penggunaan anathema secara masif:
- Konsili Konstantinopel I (381 M): Memperluas Syahadat Nicea dan menjatuhkan anathema terhadap kelompok Makedonian yang menolak keilahian Roh Kudus, serta menegaskan kembali penolakan terhadap sisa-sisa Arianisme.
- Konsili Efesus (431 M): Dipimpin oleh Sirilus dari Aleksandria, konsili ini mengecam ajaran Nestorius yang memisahkan kodrat ilahi dan manusiawi Kristus secara ekstrem, sehingga menolak gelar Theotokos (Bunda Allah) bagi Maria. Kanon penutup Konsili Efesus bertabur rumusan anathema bagi siapa saja yang mengajarkan pemisahan kedua kodrat tersebut.
- Konsili Kalsedon (451 M): Menghasilkan rumusan kristologis yang monumental: Kristus sungguh-sungguh Allah dan sungguh-sungguh manusia, dalam satu hypostasis tanpa bercampur, tanpa berubah, tanpa terbagi, dan tanpa terpisah. Siapa pun yang menolak rumusan ini dikenakan anathema.
Melalui rangkaian konsili ini, anathema berfungsi sebagai **tembok pertahanan institusional**. Gereja ingin memastikan bahwa tidak ada ruang bagi penafsiran bebas yang dapat meruntuhkan inti pewahyuan keselamatan Kristen.
2. Anatomi Rumusan "Anathema Sit" dalam Dokumen Resmi Gereja
Jika kita membaca dokumen-dokumen konsili historis, kalimat pengunci yang sering digunakan di akhir penetapan kanon doktrin memiliki formula yang sangat khas berbahasa Latin: "Si quis dixerit... anathema sit" (Jika seseorang berkata bahwa... terkutuklah ia).
Anatomi dari rumusan ini terdiri atas tiga komponen utama yang dirancang secara cermat:
1. Premis Hipotetis (Si quis / Barang siapa): Konsili mengidentifikasi sebuah proposisi teologis yang menyimpang atau keliru yang sedang beredar di masyarakat (misalnya: "Barang siapa menyatakan bahwa keselamatan diperoleh semata-mata karena usaha moral manusia tanpa kasih karunia...").
2. Keputusan Dogmatis (Sentensiasi): Otoritas konsili menyatakan bahwa proposisi tersebut bertentangan secara frontal dengan tradisi apostolik dan Kitab Suci.
3. Sanksi Penutup (Anathema sit): Pernyataan pemutusan hubungan rohani secara resmi. Orang yang secara sadar dan keras kepala mempertahankan pandangan tersebut dinyatakan berada di luar persekutuan Gereja Katolik/Ortodoks universal.
Pendekatan ini menunjukkan sifat legal-formal yang sangat kuat. Anathema bukan lagi sekadar seruan profetik seperti yang kita temukan pada surat-surat Paulus, melainkan keputusan yudisial dari sebuah pengadilan gerejawi tertinggi.
3. Puncak Kodifikasi: Konsili Trente (1545–1563 M)
Penggunaan rumusan anathema mencapai titik kodifikasi tertingginya pada abad ke-16 melalui **Konsili Trente** (Trent), yang diselenggarakan oleh Gereja Katolik Roma sebagai respons terhadap gerakan Reformasi Protestan yang dipimpin oleh Martin Luther, Yohanes Calvin, dan para reformator lainnya.
Dalam sesi-sesi dekrit Konsili Trente—terutama yang membahas doktrin pembenaran (*justification*), sakramen-sakramen, dan otoritas Kitab Suci—hampir setiap bab pembahasan diakhiri dengan rentetan kanon yang memuat frasa anathema sit untuk melawan teologi Protestan yang baru lahir. Misalnya, dalam dekrit tentang pembenaran, gereja mengutuk pandangan bahwa manusia dibenarkan hanya oleh iman tanpa perbuatan melalui rumus anathema yang ketat.
Bagi para sejarawan, Konsili Trente menandai era terakhir di mana anathema digunakan secara masif dan terbuka sebagai senjata legislatif untuk menegaskan batas pertikaian dogmatis antara tradisi Katolik Roma dan teologi Reformasi.
Kesimpulan Bagian 4: Garis Batas Kaku Tradisi Konsili
Anatomi konsili-konsili ekumenis memperlihatkan bagaimana sebuah istilah religius kuno disulap menjadi sistem pertahanan doktrin yang kokoh. Melalui rumusan "Anathema sit", gereja-gereja historis berupaya mengunci kebenaran iman agar tidak larut dalam relativisme zaman.
Namun, di balik ketegasan dogmatis ini, penggunaan anathema sering kali tidak bisa dilepaskan dari kepentingan kekuasaan politik duniawi—sebuah irisan pelik antara teologi dan politik yang akan kita bedah secara mendalam pada Bagian 5 mendatang.
