Senter di Dalam Ember Hitam
Coba bayangkan cerita unik ini!
Suatu hari, kamu mendapatkan hadiah ulang tahun berupa sebuah senter baru yang sangat canggih. Senter ini punya lampu LED yang sangat terang, warnanya berkilauan, dan cahayanya bisa menembus kegelapan malam yang paling pekat sekalipun. Kamu sangat gembira menerima hadiah itu.
Lalu, di malam hari saat listrik mati, kamu menyalakan senter canggih tersebut. Cahayanya langsung memancar indah. Tetapi, alih-alih mengarahkannya ke seluruh ruangan agar kamar menjadi terang, kamu justru mengambil sebuah ember plastik hitam yang besar dan tebal, lalu menutupi senter itu rapat-rapat di atas lantai.
Apa yang terjadi dengan ruanganmu?
Ruangan tetap gelap gulita! Senter canggih itu tetap menyala di dalam ember, tetapi tidak ada seorang pun yang bisa menikmati cahayanya. Tidak ada yang bisa berjalan dengan aman, tidak ada yang bisa membaca buku, dan semua orang di rumah tetap merasa ketakutan dalam kegelapan.
Perbuatan menutupi senter dengan ember itu terasa sangat aneh dan sia-sia, bukan? Untuk apa memiliki senter yang begitu terang jika cahayanya sengaja disembunyikan dan ditutupi?
Senter diciptakan untuk ditaruh di tempat yang tinggi—seperti di atas meja atau digantung di dinding—supaya semua orang di ruangan itu bisa melihat jalan dan merasa aman. Nah, hal yang sama persis terjadi dengan hidup kita sebagai anak-anak Tuhan!
Mengapa Tuhan Memberi Kita Cahaya?
Ketika kita menerima Tuhan Yesus sebagai Juruselamat dan Sahabat kita, Tuhan menaruh "cahaya kasih" yang luar biasa indah di dalam hati kita. Cahaya itu bukan lampu fisik yang kelihatan seperti bohlam, melainkan Roh Kudus yang memberikan kita kemampuan untuk mengasihi, bersabar, tersenyum, dan berbuat baik.
Namun, pernahkah kamu berpikir, untuk apa Tuhan memberikan cahaya itu kepada kita? Apakah hanya supaya kita merasa senang sendiri di kamar? Tentu saja tidak!
Tuhan Yesus mengajar murid-murid-Nya melalui Injil Matius 5:16: "Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga."
Tuhan ingin cahaya yang ada di dalam hatimu bercahaya terang di depan semua orang di sekitarmu! Siapa saja orang-orang itu?
- Papa, Mama, Kakak, dan Adik di rumah.
- Guru-guru dan teman-teman sekelasmu di sekolah.
- Tetangga, penjaga sekolah, sopir bus, dan pedagang di sekitar rumahmu.
Ketika kamu melakukan perbuatan yang baik, kamu sedang mengangkat "senter" dari dalam ember dan membiarkan cahayanya menerangi orang-orang di sekitarmu. Saat orang lain melihat kebaikanmu, hati mereka menjadi hangat, dan mereka akan tahu bahwa Tuhan Yesus yang kamu sembah adalah Tuhan yang sangat baik dan penuh kasih!
Bagaimana Cara Membuat Cahayamu Bercahaya?
Mungkin kamu bertanya, "Bagaimana caranya membuat cahayaku bisa dilihat orang lain? Apakah aku harus menjadi anak yang paling pintar di kelas, atau harus punya banyak uang untuk disumbangkan?"
Jawabannya: Tidak perlu hal-hal yang rumit! Cahaya Tuhan paling sering memancar justru melalui perbuatan-perbuatan kecil yang dilakukan dengan hati yang penuh kasih. Inilah beberapa cara sederhana agar cahayamu bercahaya terang setiap hari:
1. Menolong Tanpa Diminta
Ketika kamu melihat Mama sedang sibuk merapikan meja makan setelah selesai makan malam, jangan langsung berlari ke kamar untuk menonton televisi. Datanglah mendekat dan tanyakan dengan lembut, "Mama, ada yang bisa aku bantu?" Menolong membawakan piring plastik atau menyapu lantai adalah cahaya kebaikan yang sangat indah yang bisa menyegarkan hati Mama yang lelah.
2. Menjadi Teman Bagi yang Kesepian
Di sekolah atau tempat bermain, coba perhatikan teman-teman di sekitarmu. Apakah ada teman baru yang masih malu-malu dan duduk sendirian di sudut lapangan? Atau ada teman yang jarang diajak bermain karena penampilannya sederhana? Anak terang akan memberanikan diri berjalan mendekat, tersenyum, dan berkata, "Halo! Maukah kamu bermain bersamaku?" Tindakan ramah ini adalah cahaya hangat yang menghapus rasa kesepian di hati temanmu.
3. Mengucapkan Kata-Kata yang Menguatkan
Saat temanmu merasa sedih karena mendapat nilai ujian yang kurang bagus atau gagal mencetak gol saat bermain sepak bola, jangan pernah mengejek atau tertawa! Anak terang akan memberikan semangat: "Tidak apa-apa, kamu sudah berusaha dengan baik! Lain kali pasti bisa lebih bagus lagi." Kata-kata penyemangat adalah cahaya yang memberi harapan.
4. Bersikap Sopan dan Menghormati Orang Tua/Guru
Ketika Guru sedang menjelaskan pelajaran di depan kelas, anak terang akan duduk rapi dan mendengarkan dengan sungguh-sungguh. Ketika Papa dan Mama memberikan nasihat, anak terang tidak akan memotong pembicaraan atau bersikap acuh tak acuh. Sikap hormat dan sopan santun adalah cahaya yang sangat berkilau di mata semua orang.
Kisah Peluit dan Payung Milik Maya
Untuk membantumu membayangkan betapa indahnya bercahaya di depan orang lain, mari kita dengarkan cerita tentang seorang anak perempuan bernama Maya.
Hari itu, hujan deras turun mengguyur area sekolah saat bel pulang berbunyi. Anak-anak dan orang tua berkumpul di teras depan sekolah yang sempit, menunggu hujan reda. Suasana sangat bising, dingin, dan desak-desakan.
Di tengah kerumunan itu, ada Pak Joko, seorang kakek tua yang bertugas sebagai penjaga gerbang sekolah. Pak Joko berdiri di pinggir jalan dengan jas hujan yang sudah agak robek, sibuk mengatur lalu lintas kendaraan agar anak-anak bisa menyeberang jalan dengan aman. Baju Pak Joko tampak basah kuyup di bagian lengan dan celananya.
Sebagian besar anak-anak dan orang tua sibuk dengan urusan mereka sendiri. Ada yang mengeluh karena jemputan terlambat, ada yang bermain game di ponsel, dan ada yang saling berdesakan.
Maya, yang sedang menunggu jemputan Ibunya, memperhatikan Pak Joko dari teras. Maya melihat wajah Pak Joko yang kelihatan sangat lelah dan kedinginan. Maya ingat pelajaran Sekolah Minggu bahwa anak terang harus memancarkan kasih Yesus kepada siapa saja.
Maya memiliki sebuah kue bolu dan kotak susu hangat di dalam tasnya, yang tadi pagi disiapkan oleh Ibunya untuk bekal. Maya juga membawa sebuah payung lipat kecil.
Tanpa ragu-ragu, Maya membuka payungnya, lalu melangkah menerobos rintik hujan menghampiri Pak Joko di pinggir jalan.
"Pak Joko!" panggil Maya ramah sambil menyodorkan bekalnya. "Ini ada kue bolu dan susu hangat untuk Pak Joko. Pak Joko pasti kedinginan mengatur jalan dari tadi. Terima kasih ya Pak sudah menjaga kami semua."
Pak Joko terkejut. Beliau menatap Maya dengan mata yang berkaca-kaca. Tangan Pak Joko yang gemetaran menerima kue dan susu hangat itu. Wajah kakek yang tadinya tampak lelah mendadak dihiasi oleh ukiran senyum yang sangat tulus dan bahagia.
"Terima kasih banyak, ya Nak," kata Pak Joko dengan suara bergetar. "Kebaikanmu membuat hati Kakek merasa sangat hangat hari ini. Semoga Tuhan Yesus memberkatimu selalu."
Orang-orang tua dan teman-teman yang berdiri di teras melihat perbuatan Maya. Hati mereka tersentuh. Beberapa orang tua kemudian mulai membagikan makanan ringan kepada penjaga sekolah lainnya, dan suasana teras yang tadinya dingin dan mengeluh mendadak berubah menjadi penuh dengan kehangatan dan senyuman.
Hari itu, Maya tidak mengucapkan khotbah yang panjang. Maya hanya membagikan sepotong kue dan sepatah kata ucapan terima kasih. Tetapi perbuatan kecil yang dilakukan Maya telah menjadi cahaya terang yang membuat orang lain merasakan betapa indahnya kasih Tuhan!
Memuliakan Bapa di Sorga
Anak-anak yang dikasihi Tuhan, perhatikan kalimat terakhir dari ayat kunci kita hari ini: "...supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga."
Tujuan utama kita bercahaya dan berbuat baik bukanlah supaya kita dipuji hebat, dikatakan anak yang pintar, atau mendapat hadiah dari manusia.
Tujuan utama kita adalah agar saat orang lain melihat kebaikan, kesabaran, dan kejujuran kita, mereka berkata di dalam hati: "Wah, anak itu luar biasa sekali! Tuhan yang disembahnya pasti sangat hebat dan penuh kasih!"
Saat orang lain memuji Tuhan karena melihat hidupmu yang baik, itulah yang dinamakan memuliakan Bapa di sorga. Kamu menjadi "kaca pembesar" yang membuat kebaikan Tuhan Yesus kelihatan makin jelas di mata dunia.
Jangan pernah ragu untuk berbuat baik, meskipun tempat di sekitarmu terasa dingin atau tidak ramah. Semakin gelap situasi di sekitarmu, semakin dibutuhkan cahaya kebaikanmu! Angkat senter kasihmu, buka ember penutupnya, dan biarkan seluruh dunia melihat betapa indah dan hangatnya terang Kristus di dalam hidupmu.
"Tuhan Yesus yang maha baik, terima kasih karena Engkau telah memilihku dan menaruh cahaya kasih-Mu di dalam hatiku.
Ampunilah aku jika selama ini aku masih sering menyembunyikan cahayaku karena rasa malu, malas, atau egois. Tolong berikan aku keberanian untuk selalu berbuat baik kepada siapa saja—di rumah, di sekolah, maupun di tempat bermain.
Pakailah tangan kecilku ini untuk menolong orang yang membutuhkan, dan pakailah mulutku untuk mengucapkan kata-kata yang menguatkan. Biarlah lewat hidupku sehari-hari, orang lain bisa melihat betapa indahnya kasih-Mu dan memuliakan nama-Mu di sorga. Dalam nama Tuhan Yesus aku berdoa. Amin."
- Cari 1 orang di sekitarmu yang hari ini kelihatan lelah, sedih, atau bekerja keras (Contoh: Ibu yang sedang memasak, Asisten Rumah Tangga, Pak Satpam kompleks, atau teman yang sedang kesulitan).
- Lakukan 1 "Misi Cahaya Rahasia" untuk orang tersebut tanpa diminta (Contoh: Mengambilkan segelas air minum hangat, memberikan ucapan "Terima kasih sudah menjaga kami", atau membantu menyapu lantai).
- Setelah melakukan misi tersebut, tuliskan di dalam buku catatanmu perasaan bahagia yang kamu rasakan saat melihat orang tersebut tersenyum. Ingatlah bahwa kamu baru saja menjadi Lampu Terang Tuhan bagi mereka!
