Oleh Anton Pramono | Diterbitkan dalam Sejarah Gereja & Sejarah Pemikiran Teologi
Pengantar: Jejak Teologis dari Alkitab Ibrani hingga Surat-Surat Paulus
Setelah menelusuri akar etimologis dan pergeseran epistemologis kata anathema dari dunia Helenistik kuno pada bagian sebelumnya, penjelajahan kita kini memasuki ranah teks suci Alkitab. Di dalam lembaran Kitab Suci, kata ini tidak sekadar berfungsi sebagai istilah linguistik atau kosakata sekuler, melainkan membawa beban teologis yang sangat berat menyangkut kekudusan Allah, ketaatan umat, dan batas pemisah antara keselamatan serta kebinasaan.
Banyak pembaca modern sering kali merasa asing atau bahkan tersandung ketika membaca bagian Alkitab yang berbicara tentang penghancuran total atau kutukan mutlak. Untuk memahaminya secara objektif dan mendalam, kita perlu melacak bagaimana konsep Ibrani kuno bernama ḥērem (ח́רֶם) diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani Septuaginta menjadi anathema, serta bagaimana Rasul Paulus memakainya kembali dalam konteks gereja mula-mula di Perjanjian Baru.
1. Konsep Ḥērem (ח́רֶם) dalam Perjanjian Lama: Kekudusan yang Membakar
Untuk memahami bagaimana Perjanjian Baru memandang anathema, kita wajib menengok ke belakang pada akar teologisnya dalam Perjanjian Lama, yakni kata Ibrani ḥērem. Dalam leksikon bahasa Ibrani (seperti Brown-Driver-Briggs), akar kata ini bermakna "memagari", "mengkhususkan", atau "membinasakan secara total".
Dalam masyarakat Israel kuno, ḥērem merujuk pada suatu objek, hewan, kota, atau musuh yang **dikhususkan sepenuhnya bagi Tuhan sedemikian rupa sehingga tidak boleh disentuh, dimanfaatkan, atau diselamatkan oleh manusia**. Ada dua bentuk utama penerapan ḥērem dalam narasi teokratis Israel:
1. Sebagai Persembahan Bakaran Mutlak: Sesuatu yang dikhususkan bagi Tuhan sebagai korban yang tidak dapat ditebus kembali. Contohnya tercatat dalam Kitab Imamat 27:28: "Tetapi segala sesuatu yang dikhususkan oleh seseorang bagi TUHAN dari miliknya, baik manusia maupun hewan atau ladang kepunyaannya, tidak boleh dijual atau ditebus; setiap yang dikhususkan adalah maha kudus bagi TUHAN."
2. Sebagai Penghukuman Ilahi atas Kebejatan Moral: Ketika bangsa Israel memasuki tanah Kanaan, mereka diperintahkan untuk menumpas habis praktik penyembahan berhala yang keji (seperti korban anak dan amoralitas ritual). Kota-kota tertentu dikenakan hukum ḥērem, di mana seluruh harta benda dan penduduknya dibinasakan agar racun rohani tersebut tidak menular kepada umat Israel (seperti yang digambarkan dalam Kitab Yosua).
Ketika para sarjana Yahudi menerjemahkan Alkitab Ibrani ke dalam bahasa Yunani (dikenal sebagai Septuaginta atau LXX) beberapa abad sebelum Masehi, mereka secara konsisten menerjemahkan kata ḥērem menggunakan kata anathema. Dengan demikian, jauh sebelum era gereja Kristen, makna dasar anathema telah terkunci pada gagasan tentang **sesuatu yang berada di bawah murka Allah karena ketidakmurniannya, namun sekaligus menjadi hak mutlak kekudusan-Nya**.
2. Penggunaan Kata Anathema dalam Perjanjian Baru: Otoritas Kebenaran
Dalam teks Perjanjian Baru berbahasa Yunani, kata anathema muncul beberapa kali dengan bobot retoris dan teologis yang sangat kuat, terutama di dalam surat-surat yang ditulis oleh Rasul Paulus. Para teolog mencatat bahwa Paulus menggunakan istilah ini bukan sebagai makian emosional, melainkan sebagai peringatan keras demi menjaga keaslian Injil Yesus Kristus.
Mari kita tinjau beberapa rujukan tekstual kunci di mana kata ini digunakan dalam Perjanjian Baru:
- Galatia 1:8-9: "Tetapi sekalipun kami atau seorang malaikat dari sorga yang memberitakan kepada kamu suatu injil yang berbeda dengan Injil yang telah kami beritakan kepadamu, terkutuklah (anathema sit) dia." Di sini, Paulus menempatkan otoritas Injil di atas segala makhluk, bahkan malaikat. Siapa pun yang merusak inti berita keselamatan Kristus dipisahkan dari persekutuan kasih karunia.
- 1 Korintus 12:3: "Karena itu aku mau meyakinkan kamu, bahwa tidak ada seorang pun yang berkata-kata oleh Roh Allah, dapat berkata: 'Terkutuklah (anathema) Yesus!' dan tidak ada seorang pun dapat mengaku: 'Yesus adalah Tuhan,' selain oleh Roh Kudus." Ayat ini menunjukkan bagaimana kata anathema dipakai untuk menguji pengakuan iman dasar terhadap keselamatan di dalam Kristus.
- 1 Korintus 16:22: "Siapa yang tidak mengasihi Tuhan, terkutuklah (anathema) dia. Maranata!" Sebuah penutup surat yang sangat tegas mengenai pentingnya ketulusan kasih dan komitmen iman kepada Tuhan.
- Roma 9:3: "Sebab aku sendiri dapat berharap, bahwa aku sendiri terpisah dari Kristus (anathema) dan terkutuk demi saudara-saudaraku, kaum sebangsaku secara jasmani." Dalam ayat ini, Paulus menggunakan ungkapan hiperbolis yang memperlihatkan betapa besar kerinduannya agar saudara-saudara seangsanya selamat, bahkan rela menanggung beban keterpisahan yang paling mengerikan sekalipun.
3. Analisis Mendalam: Mengapa Paulus Menggunakan Kata Ini?
Sebagai seorang Farisi yang dididik di bawah didikan Gamaliel, Rasul Paulus sangat akrab dengan Perjanjian Lama dan terjemahan Septuaginta. Ketika jemaat di Galatia disusupi oleh ajaran palsu (kelompok Yudaiser yang mewajibkan hukum Taurat ritual sebagai syarat mutlak keselamatan selain iman kepada Kristus), Paulus melihat ancaman tersebut bukan sekadar perbedaan pendapat minor, melainkan racun rohani yang mematikan tubuh Kristus.
Oleh karena itu, penggunaan kata anathema oleh Paulus mencerminkan prinsip **batas kekudusan teologis**. Keselamatan di dalam Kristus adalah anugerah mutlak; ketika seseorang secara sadar mengubah Injil keselamatan itu menjadi sistem perbuatan manusia, mereka menjauhkan diri dari sumber keselamatan itu sendiri. Dalam konteks ini, *anathema* berfungsi sebagai alarm teologis tertinggi untuk menyelamatkan jemaat dari penyesatan yang merusak kebenaran hakiki.
Kesimpulan Bagian 2: Transisi ke Era Gereja Mula-Mula
Dari penelusuran Perjanjian Lama hingga Perjanjian Baru, kita melihat bagaimana konsep ḥērem bertransformasi menjadi *anathema* rohani di tangan Rasul Paulus. Istilah ini bukan diciptakan untuk menebar kebencian, melainkan untuk mempertahankan integritas kebenaran ilahi di tengah dunia yang rentan terhadap kompromi ajaran.
Fondasi biblika inilah yang nantinya diwarisi oleh para pemimpin gereja pada abad-abad berikutnya untuk membentengi doktrin kekristenan dari perpecahan doktrinal yang lebih luas.
