"Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan."
— Galatia 5:1
Pendahuluan
Adik-adik ingat tidak, saat kalian belajar di sekolah, apa yang diajarkan oleh bapak/ibu guru saat membahas tentang sejarah bangsa Indonesia? Saat itu pasti diterangkan bahwa bangsa kita dijajah oleh bangsa Belanda selama 350 (tiga ratus lima puluh) tahun dan 3,5 (tiga setengah) tahun dijajah oleh Jepang.
Bukanlah perkara yang mudah dan menyenangkan hidup dalam penjajahan. Semua serba banyak aturan yang memberatkan, hidup tersiksa, dan teraniaya oleh penjajah. Itulah sebabnya, para pahlawan kita—didukung oleh seluruh rakyat—berjuang sedemikian rupa, bahkan rela gugur di medan perang demi meraih cita-cita kemerdekaan.
Walaupun perjuangan dilakukan di seluruh wilayah Nusantara, tidak serta-merta kemerdekaan itu diraih dengan mudah, adik-adik. Ada darah dan air mata yang tercurah, serta tidak sedikit dari para pejuang yang terluka dan mengalami cacat tubuh. Dibutuhkan ratusan tahun hingga gerakan perjuangan dapat dipersatukan. Sebagai puncak dan hasil perjuangan yang ada, pada tanggal 17 Agustus 1945 bangsa kita menyatakan kemerdekaan, sehingga mulai saat itu bangsa Indonesia diakui oleh dunia sebagai bangsa yang merdeka.
Tahukah kalian, bahwa tugas kita sekarang sebagai anak bangsa yang hidup di zaman yang sudah merdeka adalah mengisi hari-hari kita dengan sesuatu yang positif? Sebagai anak-anak Tuhan yang merayakan HUT RI ke-81, setiap kita diingatkan untuk tidak hanya mempertahankan kemerdekaan bangsa, tetapi secara rohani kita juga harus mempertahankan kemerdekaan rohani kita.
1. Kemerdekaan Dibeli dengan Harga Mahal
“Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat.” (1 Petrus 1:18–19)
Jika kemerdekaan bangsa Indonesia diraih dengan perjuangan para pahlawan yang gugur di medan perang, tahukah adik-adik dengan apa kita meraih kemerdekaan atas belenggu dosa yang begitu mengikat? Kemerdekaan rohani kita saat ini dibeli bukan dengan darah pahlawan nasional, melainkan dengan darah mahal, yaitu darah Tuhan Yesus yang tercurah di atas kayu salib.
Tuhan tidak menyuruh para malaikat-Nya untuk turun ke dunia membebaskan umat manusia dari belenggu dosa. Sebagai Pribadi yang penuh kasih, Tuhan Yesus hadir sendiri ke dunia ini. Sebagai Tuhan yang Mahakuasa, bisa saja Dia memilih untuk tidak menderita. Namun, karena rasa kasih-Nya yang besar dan kesetiaan-Nya pada janji-Nya, Dia mengambil rupa manusia, hidup taat, bahkan rela menderita sampai mati di atas kayu salib untuk menebus umat-Nya.
Semua itu menunjukkan betapa berharganya kalian dan hidup kalian bagi Tuhan kita Yesus Kristus!
"Seberapa besar saya menghargai pengorbanan Tuhan Yesus bagi hidup saya?"
2. Waspada terhadap Penjajahan Dosa Kembali!
“Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya.” (1 Petrus 5:8)
Tahukah adik-adik asal kata sadar dan berjaga-jaga dalam ayat ini? Kata sadar menggunakan kata nēphō dan berjaga-jaga menggunakan kata grēgoreuō. Jika diartikan, maknanya adalah tersadar dengan pikiran jernih serta memiliki kewaspadaan penuh.
Coba bayangkan seorang tentara yang berseragam lengkap dengan senjatanya. Tentara itu ditugaskan di perbatasan negara. Saat mereka berpatroli, mereka berada dalam kewaspadaan penuh. Jika sewaktu-waktu musuh muncul menyerang, mereka sudah siap dan dapat bereaksi dengan cepat.
Seperti tentara yang sedang berjaga, demikianlah seharusnya hidup kita senantiasa waspada terhadap iblis. Firman Tuhan berkata: “Sesudah Iblis mengakhiri semua pencobaan itu, ia mundur dari pada-Nya dan menunggu waktu yang baik.” (Lukas 4:13).
Iblis menunggu waktu yang baik menurut dia untuk kembali. Kapan itu? Saat kita terlena, saat kita merasa terlalu nyaman dan aman, serta saat kita mulai kendor dalam berjaga-jaga. Di saat itulah iblis datang menyergap untuk berusaha memperbudak kita kembali dalam dosa.
Jangan biarkan diri kalian "dijajah kembali" oleh kebiasaan buruk yang lama, seperti malas berdoa, suka mencontek, suka bertengkar, bikin onar, atau membantah orang tua. Itu sama halnya dengan membuka pintu rumah lebar-lebar dan membiarkan pencuri masuk menjarah.
“Kebiasaan buruk apa yang hari-hari ini masih sering kamu lakukan dan menjajah kehidupan rohanimu?”
Ayo segera sadar! Buang semua kebiasaan buruk yang lama dan mulailah mendisiplinkan diri dengan kebiasaan baru yang baik. Bangun hubungan pribadi dengan Tuhan: rajin membaca Alkitab, berdoa, dan senantiasa memuji Tuhan.
Jika perlu, pasang pengingat/alarm di HP kalian untuk bangun lebih awal setiap pagi. Mulailah hari bersama Tuhan agar kalian diberi kekuatan untuk berdiri teguh melawan setiap godaan iblis!
Penutup
Hiduplah senantiasa dalam kewaspadaan yang penuh, ya adik-adik. Iblis tidak rela kalian hidup kudus, ia selalu mencari cara untuk menjebak kalian kembali. Oleh karena itu, bangunlah kehidupan rohani kalian dengan rajin berdoa dan membaca firman Tuhan.
Doa Kita 🙏
"Tuhan Yesus, kuatkanlah aku agar aku senantiasa berdiri teguh di jalan-Mu dan tidak kembali ke dalam dosa. Amin."
Ayat Hafalan Minggu Ini
"Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan."
— Galatia 5:1