Langsung ke konten utama

Renungan Harian, 3 Juni 2013

Sikap yang Benar

Bacaan hari ini : Maleakhi 3:13 - 18
"Beginilah berbicara satu sama lain orang-orang yang takut akan TUHAN: "TUHAN memperhatikan dan mendengarnya; sebuah kitab peringatan ditulis di hadapan-Nya bagi orang-orang yang takut akan TUHAN dan bagi orang-orang yang menghormati nama-Nya.""
(Maleakhi 3:16)

Diakui atau tidak, disadari atau tidak, mau atau tidak mau, manusia hidup ada aturannya. Saat aturan itu dilanggar, maka pasti terjadi masalah. Memang Allah telah memberikan kepada manusia suatu kehendak bebas (free will), namun hal itu bukan berarti manusia bisa berbuat apa saja tanpa harus bertanggung jawab atas setiap keputusan yang diambilkan.
Sebab akibat, dan hukum tabur tuai itu berjalan dan berlaku bagi setiap manusia. Apa pun yang diperbuat oleh manusia selalu ada konsekuensi yang harus dihadapi dan diterima.
Hari ini kita belajar suatu kebenaran firman Tuhan tentang bagaimana seharusnya sikap setiap orang percaya kepada Allah. Memang benar saat kita menjadi orang percaya kita adalah milik Kristus, bukan lagi hamba dosa, bahkan lebih dari itu kita diangkat sebagai anak.
Namun terkadang, tidak sedikit dari orang yang mengaku dirinya sebagai manusia yang percaya kepada Allah, lupa bahwa Kristuslah yang membuat dirinya dilayakkan, sehingga memiliki sikap hidup, gaya hidup, dan gaya bicara yang sembarangan dan sama sekali tidak menghormati Allah.
Ingat tidak saat Kristus menyembuhkan sekumpulan orang yang sakit kusta, berapa orang yang kembali kepada Yesus? Hanya satu, yang lain kemana? Itu adalah suatu gambaran dari kehidupan seseorang ada yang berorientasi benar-benar pada Allah dan yang lain berorientasi pada dirinya sendiri, sehingga ketika sesuatu yang dibutuhkan telah terpenuhi, ya sudah selesai, tidak perlu diingat kembali.
Saat seseorang dipanggil oleh Allah, menjadi seorang percaya, maka orang tersebut juga terpanggil untuk hidup seturut dengan kehendak Allah. Sama seperti yang Paulus katakan, bahwa "hidupku bukanya aku lagi, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku". Saat kita memahami dengan benar akan posisi kita dihadapan Allah, maka seharusnya kita tidak akan berani untuk bersikap secara sembarangan dihadapan Allah.
Setiap orang percaya terpanggil untuk hidup sebagai orang-orang yang hidup dalam kebenaran Allah, hidup senantiasa takut akan Allah, dan menghormati nama-Nya. Salah satu bukti bahwa orang percaya hidup dalam kebenaran Allah adalah dengan senantiasa hidup sesuai dengan kebenaran firman-Nya dan terlebih lagi menjadi sikap hati dan tutur katanya.
Sering kali orang percaya kurang memperhatikan cara berbicara dengan dalih hanya sekedar bercanda. Namun dalam ayat 13, Allah berbicara dengan tegas agar setiap anak-anaknya berhati-hati dalam setiap perkataan, bahkan surat Yakobus secara khusus membahas tentang masalah ini (Yakobus 3:1-12).
Mulai hari ini jaga hidup kita, jaga hati kita, dan jaga lidah kita jangan sampai keluar kata sia-sia yang tidak berarti, kata-kata kosong tidak bermakna, kata-kata yang melemahkan iman, dan kata-kata sembarangan yang tanpa disadari tidak menyenangkan hati TUHAN.
Dalam segala kondisi dan keadaan, selalu perkatakan firman TUHAN dan lakukan. Sebab dengan demikian, kita membuat diri kita berkenan kepada-Nya. (ap)

Renungan
Mulai saat ini perhatikanlah bagaimana kita hidup, bagaimana sikap hati kita, bagaimana perbuatan kita, bagaimana pola pikir kita, dan bagaimana tutur kata kita, sudahkan semuanya itu memuliakan Allah? Jika masih ada hal yang belum berkenan pada Allah, jangan tunda, sekaranglah waktunya untuk merubah sikap kita, hiduplah sebagai orang yang hidup dalam kebenaran Allah.

Orang benar akan selalu hidup oleh dan dalam firman Allah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kain dan Habel

Kain dan Habel Jika Adam dan Hawa merupakan manusia pertama yang langsung diciptakan oleh Allah sendiri, sedangkan Kain dan Habel merupakan keturunan pertama dari manusia. Walaupun mereka bersaudara, mereka memiliki kebiasaan dan karakter yang berbeda. Kain sang kakak memiliki ketertarikan pada dunia pertanian, sehingga di dalam pekerjaan dia lebih memilih untuk menjadi seorang petani. Berbeda halnya dengan Habel, dia memiliki ketertarikan pada dunia peternakan, sehingga dalam pekerjaan dia memiliki sebagai gembala domba. Pada awalnya diantara kakak beradik ini tidak nampak sama sekali adanya persaingan, permasalahan ataupun perselisihan, hingga suatu ketika tiba waktunya bagi mereka untuk mempersembahkan korban bagi ALLAH (Kejadian 4:3-5). Dalam ayat 3 dikatakan "setelah beberapa waktu lamanya" , jika dilihat dari bahasa aslinya kata ini menggunakan kata miskkets yamim , yang diartikan sebagai at the end of days . Kata tersebut dapat diartikan pertama, mengacu pa...

Renungan Harian, 16 Pebruari 2012

Belajar dari Silsilah Daud 1 Tawarikh 2:1-55; Matius 1:1-17 “Isai memperanakkan Eliab, anak sulungnya, dan Abinadab, anak yang kedua, Simea, anak yang ketiga, Netaneel, anak yang keempat, Radai, anak yang kelima, Ozem, anak yang keenam, dan Daud, anak yang ketujuh;” (1 Tawarikh 2:13-15) Saat kita membaca pasal hari ini kita mungkin merasa binggung, apa maksudnya satu pasal penuh hanya berisi nama-nama orang dan daftar silsilah. Bahkan mungkin kita sempat berfikir bahwa hal tersebut tidaklah penting.  Tetapi jika kita mau belajar kebenaran firman Tuhan dan sesuai apa yang Tuhan Yesus sampaikan bahwa selama bumi masih ada maka satu iota pun tidak akan dihapuskan dari firman Tuhan (Mat 5:18). Satu iota adalah sama dengan satu titik. Hal itu berarti, setiap firman yang dituliskan dalam Alkitab bukanlah sekedar ditulis untuk memenuhi Alkitab, tetapi setiap kata itu memiliki makna dan maksud tersendiri, yang pastinya sangatlah penting. Hal itupun juga berlaku bagi pembaca...

Renungan Harian, 21 Mei 2012

Ketaatan Mutlak Bilangan 15:1-41; Roma 2:6-8 “Maka jumbai itu akan mengingatkan kamu, apabila kamu melihatnya, kepada segala perintah TUHAN, sehingga kamu melakukannya dan tidak lagi menuruti hatimu atau matamu sendiri, seperti biasa kamu perbuat dalam ketidaksetiaanmu terhadap TUHAN” (Bilangan 15:39). Taat dan ketaatan adalah sebuah kata yang sangat mudah untuk dikatakan, tetapi sukar untuk dilakukan. Ada beberapa kata dalam bahasa Yunani yang dapat diartikan dengan kata “taat”. Salah satu dari kata tersebut adalah “pistis”, kata yang sama dengan kata yang berarti “iman”. Dengan demikian, kita kita berbicara masalah ketaatan, maka hal tersebut tidak bisa dipisahkan dari iman, sebab dua-duanya berasal dari akar kata yang sama. Bilangan 15 sangatlah menekankan pentingnya mendengarkan perintah TUHAN dan taat menjalankannya. Ayat 1 sampai 21 menghubungkan ketaatan terhadap perintah Allah dengan korban yang berkenan kepada Tuhan. Ayat 22 sampai 29 membahas bagaimana ketika se...