Langsung ke konten utama

Berlari di atas Kemustahilan

Berlari di atas Kemustahilan

Dilahirkan dengan tidak memiliki tulang fibula sehingga kedua kakinya harus diamputasi tak membuat Aimee Mullins menyesali kondisi tubuhnya. Ini malah menjadi pelecut semangatnya untuk berprestasi mengimbangi bahkan melebihi orang normal.
Sejak masanya belajar berjalan, orangtua Aimee memberikannya kaki palsu, sehingga Aimee bisa berjalan layaknya orang normal. Hal ini terus berlangsung hingga masa sekolah. Meski memakai kaki palsu, Aimee tak merasa minder di sekolah. Ia bahkan berani berpartisipasi di cabang olahraga yang umumnya dihindari banyak gadis. Kemampuan lari dan lompatannya luar biasa.
Ketika masih duduk di SMA, ia mengikuti kompetisi para difabel. Di sini ia dikejutkan oleh kenyataan ada begitu banyak peserta difabel yang berpartisipasi. Selain itu, ternyata hanya dia satu-satunya peserta yang memakai kaki palsu berbahan kayu. Peserta lainnya menggunakan kaki palsu berbahan logam dan karbon yang bisa meredam kejut. Alih-alih minder, Aimee justru terpacu untuk membuktikan, dengan berkaki palsu dari kayu pun ia bisa mengalahkan mereka.
Dorongan semangat itu ternyata menghasilkan kekuatan luar biasa. Aimee tak hanya memenangkan berbagai lomba di kompetisi itu, tapi juga berhasil memecahkan rekor nasional bagi atlet-atlet difabel. Atas prestasinya ini, Aimee mendapat beasiswa penuh dari pemerintah AS. Ia lalu kuliah di Georgetown University. Aimee terus mengukir prestasi saat jadi mahasiswa. Ia dinominasikan menjadi atlet yang mewakili AS untuk Paralympic Games 1996 di Atlanta, Georgia, AS. Untuk itu, ia mendapat sepasang kaki palsu baru yang terbuat dari karbon.
(sumber : http://www.andriewongso.com/artikel/success_story/4573/Aimee_Mullins/ Penulis : Tim AndrieWongso /Selasa, 06 Desember 2011)

Tidak seorangpun berpikir bahwa Aimee suatu hari dapat menjadi sosok yang dikenal oleh banyak orang. Jangankan menjadi sosok yang terkenal, membayangkan dia berlari saja mungkin tidak pernah terbersit dipikiran orang-orang yang berada disekeliking Aimee.
Aimee tidak pernah menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan orang tuanya kepada dirinya untuk bisa berjalan seperti orang normal pada umumnya dengan menggunakan sepasang kaki palsu. Bahkan dia tidak hanya belajar berjalan dengan kaki tersebut, dia mencoba sesuatu yang menurut orang agak aneh yaitu mulai berlari dan berlompat, sampai suatu saat dia memberanikan diri mengikuti perlombaan dan akhirnya berhasil menjadi seorang juara dan meraih berbagai macam penghargaan karena prestasi yang dia raih dalam dunia olahraga.
Di dalam Alkitab ada satu tokoh bernama Gideon. Tidak ada seorang pun yang menyangka dia akan menjadi hakim atas Israel.  Alasan yang diberikan oleh Gideon kepada Malaikat TUHAN secara akal dapat diterima sebab memang dia adalah seorang yang  masih sangat muda dari suku yang kecil dan dari kaum yang terkecil (Hakim-hakim 6:14-15). Dengan kata lain Gideon dimata orang Israel sebenarnya tidak pernah mendapatkan perhatian sebelumnya. Namun karena Gideon mau taat kepada Allah dengan mengindahkan panggilan tersebut, maka Allah melakukan suatu perkara yang luar biasa.
Pasal 7 dalam kitab Hakim-hakim mencatat kisah kepahlawanan Gideon yang hanya dengan 300 orang dapat mengusir musuh dan membebaskan bangsa Israel dari ancaman orang Midian.
Sebuah pelajaran yang cukup berharga dapat kita ambil dari dua kisah di atas baik dari Aimee maupun dari Gideon. Bahwa apa yang sering kali dianggap lemah dan tidak berdaya oleh kebanyakkan orang justru seringkali dipakai oleh Allah untuk menunjukkan bahwa Allah mengasihi setiap orang dan mau memakai semua orang yang mau dipakai oleh dia. Dua kisah tersebut juga memberikan pesan pada setiap kita bahwa Allah tidak menginginkan setiap manusia berfokus pada ketidak mampuan yang dimilikinya, tetapi justru pada setiap potensi yang dapat diraih. (Anton Pramono)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kain dan Habel

Kain dan Habel Jika Adam dan Hawa merupakan manusia pertama yang langsung diciptakan oleh Allah sendiri, sedangkan Kain dan Habel merupakan keturunan pertama dari manusia. Walaupun mereka bersaudara, mereka memiliki kebiasaan dan karakter yang berbeda. Kain sang kakak memiliki ketertarikan pada dunia pertanian, sehingga di dalam pekerjaan dia lebih memilih untuk menjadi seorang petani. Berbeda halnya dengan Habel, dia memiliki ketertarikan pada dunia peternakan, sehingga dalam pekerjaan dia memiliki sebagai gembala domba. Pada awalnya diantara kakak beradik ini tidak nampak sama sekali adanya persaingan, permasalahan ataupun perselisihan, hingga suatu ketika tiba waktunya bagi mereka untuk mempersembahkan korban bagi ALLAH (Kejadian 4:3-5). Dalam ayat 3 dikatakan "setelah beberapa waktu lamanya" , jika dilihat dari bahasa aslinya kata ini menggunakan kata miskkets yamim , yang diartikan sebagai at the end of days . Kata tersebut dapat diartikan pertama, mengacu pa...

Renungan Harian, 16 Pebruari 2012

Belajar dari Silsilah Daud 1 Tawarikh 2:1-55; Matius 1:1-17 “Isai memperanakkan Eliab, anak sulungnya, dan Abinadab, anak yang kedua, Simea, anak yang ketiga, Netaneel, anak yang keempat, Radai, anak yang kelima, Ozem, anak yang keenam, dan Daud, anak yang ketujuh;” (1 Tawarikh 2:13-15) Saat kita membaca pasal hari ini kita mungkin merasa binggung, apa maksudnya satu pasal penuh hanya berisi nama-nama orang dan daftar silsilah. Bahkan mungkin kita sempat berfikir bahwa hal tersebut tidaklah penting.  Tetapi jika kita mau belajar kebenaran firman Tuhan dan sesuai apa yang Tuhan Yesus sampaikan bahwa selama bumi masih ada maka satu iota pun tidak akan dihapuskan dari firman Tuhan (Mat 5:18). Satu iota adalah sama dengan satu titik. Hal itu berarti, setiap firman yang dituliskan dalam Alkitab bukanlah sekedar ditulis untuk memenuhi Alkitab, tetapi setiap kata itu memiliki makna dan maksud tersendiri, yang pastinya sangatlah penting. Hal itupun juga berlaku bagi pembaca...

Renungan Harian, 21 Mei 2012

Ketaatan Mutlak Bilangan 15:1-41; Roma 2:6-8 “Maka jumbai itu akan mengingatkan kamu, apabila kamu melihatnya, kepada segala perintah TUHAN, sehingga kamu melakukannya dan tidak lagi menuruti hatimu atau matamu sendiri, seperti biasa kamu perbuat dalam ketidaksetiaanmu terhadap TUHAN” (Bilangan 15:39). Taat dan ketaatan adalah sebuah kata yang sangat mudah untuk dikatakan, tetapi sukar untuk dilakukan. Ada beberapa kata dalam bahasa Yunani yang dapat diartikan dengan kata “taat”. Salah satu dari kata tersebut adalah “pistis”, kata yang sama dengan kata yang berarti “iman”. Dengan demikian, kita kita berbicara masalah ketaatan, maka hal tersebut tidak bisa dipisahkan dari iman, sebab dua-duanya berasal dari akar kata yang sama. Bilangan 15 sangatlah menekankan pentingnya mendengarkan perintah TUHAN dan taat menjalankannya. Ayat 1 sampai 21 menghubungkan ketaatan terhadap perintah Allah dengan korban yang berkenan kepada Tuhan. Ayat 22 sampai 29 membahas bagaimana ketika se...