Langsung ke konten utama

Renungan Harian, 13 Maret 2012

Tinggi Hati

2 Tawarikh 26:1-23; 1 Timotius 6:17-19
“Setelah ia menjadi kuat, ia menjadi tinggi hati sehingga ia melakukan hal yang merusak. Ia berubah setia kepada TUHAN, Allahnya, dan memasuki bait TUHAN untuk membakar ukupan di atas mezbah pembakaran ukupan.” (2 Tawarikh 26:16)

Penulis kitab Amsal mengatakan, “Kecongkakan mendahului kehancuran, dan tinggi hati mendahului kejatuhan.” (Amsal 16:18). Nampaknya hal itulah yang terjadi pada raja Uzia. Pada masa mudanya, saat pertama kali ia menjabat sebagai raja, ia adalah seseorang yang didapati benar dihadapan Allah, ia mencari Allah selama hidup Zakharia (ayat 5).
Dalam peperangan ia senantiasa menang dan kerajaannya semakin kokoh dan kuat. Ia mendirikan menara, memiliki pasukan yang kuat dan persenjataan yang lengkap. Itu semuanya ia peroleh karena ia adalah seorang raja yang berkenan kepada Allah.
Namun setelah kerajaannya semakin kuat, raja Uzia menjadi tinggi hati dan menjadi sombong. Ia tidak lagi bertanya pada Tuhan akan apa yang ia lakukan, ia bertindak sendiri dan berubah setia kepada TUHAN. Ia melakukan suatu kesalahan yang sangat fatal yaitu membakar ukupan di mezbah Tuhan yang seharusnya hanya boleh dilakukan oleh para imam – persis yang dilakukan raja Saul yang membuat ia ditolak oleh Allah menjadi raja atas Israel – dan sebagai akibatnya ia terkena sakit kusta sampai pada hari matinya.
Sering kali hal yang sama juga terjadi pada setiap orang percaya. Pada waktu seseorang pertama kali percaya pada Yesus, atau sedang berada di dalam permasalahan, orang tersebut akan bersungguh-sungguh mencari Tuhan (kasih mula-mula). Namun setelah lama menjadi orang Kristen dan permasalahannya sudah beres bahkan menjadi orang yang diberkati dan sukses secara finansial mulai lupa dan meninggalkan Tuhan.
Baru setelah tertimpa masalah kembali, baru sadar dan bertobat. Dan anehnya hal tersebut tidak terjadi sesekali, tetapi berulang kali. Itu sebabnya rasul Paulus mengingatkan setiap kita bahwa apa kita miliki saat ini, bukan semata-mata hasil jerih lelah kita smata, tetapi karena berkat Tuhan saja. Paulus menegaskan agar setiap orang percaya tidak menjadi tinggi hati dan sombong saat beroleh pemulihan dan berkat dari Tuhan. Tetapi menggunakan setiap kekayaan yang dimiliki untuk saling membangun dan memuliakan nama Tuhan.

Renungan :
Melalui firman Tuhan hari ini, biarlah saudara diingatkan agar tidak jatuh dalam dosa kesombongan dan tinggi hati. Pergunakan setiap keberhasilan yang saudara miliki untuk membangun saudara yang lain dan memuliakan nama Tuhan.

Tinggi hati adalah awal kehancuran. Waspadalah !

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kain dan Habel

Kain dan Habel Jika Adam dan Hawa merupakan manusia pertama yang langsung diciptakan oleh Allah sendiri, sedangkan Kain dan Habel merupakan keturunan pertama dari manusia. Walaupun mereka bersaudara, mereka memiliki kebiasaan dan karakter yang berbeda. Kain sang kakak memiliki ketertarikan pada dunia pertanian, sehingga di dalam pekerjaan dia lebih memilih untuk menjadi seorang petani. Berbeda halnya dengan Habel, dia memiliki ketertarikan pada dunia peternakan, sehingga dalam pekerjaan dia memiliki sebagai gembala domba. Pada awalnya diantara kakak beradik ini tidak nampak sama sekali adanya persaingan, permasalahan ataupun perselisihan, hingga suatu ketika tiba waktunya bagi mereka untuk mempersembahkan korban bagi ALLAH (Kejadian 4:3-5). Dalam ayat 3 dikatakan "setelah beberapa waktu lamanya" , jika dilihat dari bahasa aslinya kata ini menggunakan kata miskkets yamim , yang diartikan sebagai at the end of days . Kata tersebut dapat diartikan pertama, mengacu pa...

Renungan Harian, 21 Mei 2012

Ketaatan Mutlak Bilangan 15:1-41; Roma 2:6-8 “Maka jumbai itu akan mengingatkan kamu, apabila kamu melihatnya, kepada segala perintah TUHAN, sehingga kamu melakukannya dan tidak lagi menuruti hatimu atau matamu sendiri, seperti biasa kamu perbuat dalam ketidaksetiaanmu terhadap TUHAN” (Bilangan 15:39). Taat dan ketaatan adalah sebuah kata yang sangat mudah untuk dikatakan, tetapi sukar untuk dilakukan. Ada beberapa kata dalam bahasa Yunani yang dapat diartikan dengan kata “taat”. Salah satu dari kata tersebut adalah “pistis”, kata yang sama dengan kata yang berarti “iman”. Dengan demikian, kita kita berbicara masalah ketaatan, maka hal tersebut tidak bisa dipisahkan dari iman, sebab dua-duanya berasal dari akar kata yang sama. Bilangan 15 sangatlah menekankan pentingnya mendengarkan perintah TUHAN dan taat menjalankannya. Ayat 1 sampai 21 menghubungkan ketaatan terhadap perintah Allah dengan korban yang berkenan kepada Tuhan. Ayat 22 sampai 29 membahas bagaimana ketika se...

Renungan Harian, 8 Pebruari 2012

Tidak Memandang Muka 1 Tawarikh 8:1- 40; 1 Timotius 4:12 “Anak-anak Ulam itu adalah orang-orang berani, pahlawan-pahlawan yang gagah perkasa, pemanah-pemanah; anak dan cucu mereka banyak: seratus lima puluh orang. Mereka semuanya itu termasuk bani Benyamin." (1 Tawarikh 8:40) Kita sebagai manusia seringkali ketika berteman atau pun membantu seseorang selalu memandang rupa. Dan hal tersebut juga berlaku ketika kita menilai seseorang. Namun seringkali karena kita salah dalam hal ini. Kita sebagai manusia patutnya mengucap syukur karena ketika Allah memilih kita, Ia bukanlah Allah yang memandang muka. Bagi Dia siapa saja layak untuk jadi umat-Nya dan melayani Dia. Saat kita membaca Firman Tuhan hari ini, semuanya menunjukkan pada keturunan bani Benyamin. Benyamin adalah anak bungsu dari Yakub (Israel). Namun demikian, melalui pembacaan firman Tuhan hari ini kita tahu, bahwa walaupun bani Benyamin merupakan bani yang paling muda, tetapi Allah memakai mereka dengan luar...