Langsung ke konten utama

Renungan Harian, 19 Maret 2012

Penolong SEJATI

Ayub 16:1-22; Ibrani 13:6
“Hal seperti itu telah acap kali kudengar. Penghibur sialan kamu semua!”  (Ayub 16:2)

Setiap orang pasti pernah mengalami permasalahan yang membuat orang tersebut mencapai titik terendah dalam imannya yang membuat ia berada dalam sebuah persimpangan apakah ia akan terus beriman pada Kristus atau memiliki untuk menjadi murtad.
Apa yang Ayub ungkapkan dalam pasal ini adalah bentuk dari tertekannya batin Ayub ditambah dengan perkataan sahabat-sahabatnya yang membuat ia emosi dan semakin lemah imannya.
Hal yang sama bisa jadi juga terjadi dalam kehidupan setiap orang percaya, saat apa permasalahan orang terdekat bukannya menghibur dan menguatkan tetapi justru memperolok dan mempertanyakan iman. Hal tersebut bisa membuat iman down dan marah.
Dalam situasi yang demikian firman Tuhan menasihatkan setiap orang percaya agar menguasai diri dan menjadi tenang (1 Pet 4:7). Menyerahkan segala perkara ke dalam tangan yang tepat yaitu Yesus. Tidak ada pribadi yang lebih tepat daripada Yesus untuk curhat selain Dia yang sanggup menolong dan melepaskan setiap orang percaya dari segala jenis permasalahan.
Yesus selalu membuka tangan-Nya dan siap menyambut setiap orang yang lemah dan lesu dan Ia akan memberikan setiap orang yang datang kepada-Nya (Mat11:28). Kelegaan yang Ia berikan bukanlah kelegaan yang semu dan sementara, tetapi suatu kelegaan yang sejati.
Sebagai Penolong Sejati, Ia bahkan memberikan nyawa-Nya bagi kita untuk memberikan hal yang terpenting dalam kehidupan manusia yaitu keselamatan. Apalagi hal-hal yang lainnya Ia pasti menopang dan menyelesaikan.

Renungan :
Biarlah melalui firman Tuhan hari ini saudara menjadi kuat dan tidak lagi mendengar apa kata orang. Saat permsalahan datang datang saja pada Yesus sebagai Penolong yang sejati, dijamin saudara tidak akan kecewa

Sahabat sejati adalah IA yang memberikan nyawa-Nya bagi sahabat-Nya

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kain dan Habel

Kain dan Habel Jika Adam dan Hawa merupakan manusia pertama yang langsung diciptakan oleh Allah sendiri, sedangkan Kain dan Habel merupakan keturunan pertama dari manusia. Walaupun mereka bersaudara, mereka memiliki kebiasaan dan karakter yang berbeda. Kain sang kakak memiliki ketertarikan pada dunia pertanian, sehingga di dalam pekerjaan dia lebih memilih untuk menjadi seorang petani. Berbeda halnya dengan Habel, dia memiliki ketertarikan pada dunia peternakan, sehingga dalam pekerjaan dia memiliki sebagai gembala domba. Pada awalnya diantara kakak beradik ini tidak nampak sama sekali adanya persaingan, permasalahan ataupun perselisihan, hingga suatu ketika tiba waktunya bagi mereka untuk mempersembahkan korban bagi ALLAH (Kejadian 4:3-5). Dalam ayat 3 dikatakan "setelah beberapa waktu lamanya" , jika dilihat dari bahasa aslinya kata ini menggunakan kata miskkets yamim , yang diartikan sebagai at the end of days . Kata tersebut dapat diartikan pertama, mengacu pa...

Renungan Harian, 21 Mei 2012

Ketaatan Mutlak Bilangan 15:1-41; Roma 2:6-8 “Maka jumbai itu akan mengingatkan kamu, apabila kamu melihatnya, kepada segala perintah TUHAN, sehingga kamu melakukannya dan tidak lagi menuruti hatimu atau matamu sendiri, seperti biasa kamu perbuat dalam ketidaksetiaanmu terhadap TUHAN” (Bilangan 15:39). Taat dan ketaatan adalah sebuah kata yang sangat mudah untuk dikatakan, tetapi sukar untuk dilakukan. Ada beberapa kata dalam bahasa Yunani yang dapat diartikan dengan kata “taat”. Salah satu dari kata tersebut adalah “pistis”, kata yang sama dengan kata yang berarti “iman”. Dengan demikian, kita kita berbicara masalah ketaatan, maka hal tersebut tidak bisa dipisahkan dari iman, sebab dua-duanya berasal dari akar kata yang sama. Bilangan 15 sangatlah menekankan pentingnya mendengarkan perintah TUHAN dan taat menjalankannya. Ayat 1 sampai 21 menghubungkan ketaatan terhadap perintah Allah dengan korban yang berkenan kepada Tuhan. Ayat 22 sampai 29 membahas bagaimana ketika se...

Renungan Harian, 8 Pebruari 2012

Tidak Memandang Muka 1 Tawarikh 8:1- 40; 1 Timotius 4:12 “Anak-anak Ulam itu adalah orang-orang berani, pahlawan-pahlawan yang gagah perkasa, pemanah-pemanah; anak dan cucu mereka banyak: seratus lima puluh orang. Mereka semuanya itu termasuk bani Benyamin." (1 Tawarikh 8:40) Kita sebagai manusia seringkali ketika berteman atau pun membantu seseorang selalu memandang rupa. Dan hal tersebut juga berlaku ketika kita menilai seseorang. Namun seringkali karena kita salah dalam hal ini. Kita sebagai manusia patutnya mengucap syukur karena ketika Allah memilih kita, Ia bukanlah Allah yang memandang muka. Bagi Dia siapa saja layak untuk jadi umat-Nya dan melayani Dia. Saat kita membaca Firman Tuhan hari ini, semuanya menunjukkan pada keturunan bani Benyamin. Benyamin adalah anak bungsu dari Yakub (Israel). Namun demikian, melalui pembacaan firman Tuhan hari ini kita tahu, bahwa walaupun bani Benyamin merupakan bani yang paling muda, tetapi Allah memakai mereka dengan luar...