Langsung ke konten utama

Renungan Harian, 17 Januari 2012

Mintalah Petunjuk dari Allah

Kejadian 24:1-67; Matius 7:7-11
                “Lalu berkatalah ia :”TUHAN, Allah tuanku Abraham, buatlah kiranya tercapai tujuanku pada hari ini, tunjukkanlah kasih setia-Mu kepada tuanku Abraham” (Kejadian 24:12).

Kehidupan merupakan sebuah misteri. Tidak seorang pun tahu akan apa yang akan terjadi di depan. Tahun 2008 telah berlalu dan telah lewat. Sebelumnya para pakar ekonomi sebelum memasuki tahun tersebut berkeyakinan bahwa tahun 2008 perekonomian dunia bertumbuh dengan baik dan menggembirakan. Tetapi ketika memasuki bulan September mulai terasa gejolak ekonomi dan bulan November terjadi krisis keuangan dunia yang luar biasa.
Hari-hari ini dunia semakin tidak menentu dan bergejolak, tidak seorang pun dapat menduga apa yang akan terjadi di depan. Dampak dari krisis bukan saja mempengaruhi orang dunia, kita sebagai orang percaya pun merasakan dampak dari krisis tersebut.
Sebagai orang percaya kita tidak perlu kuatir dan takut dalam menghadapi situasi yang ada. Yang perlu kita lakukan adalah berdoa, bersandar pada Allah dan percaya. Sebab Tuhan sendiri berjanji bahwa ketika kita berdoa dengan sungguh-sungguh dan percaya, maka Ia akan memberikannya pada kita (Markus 11:24).
Jangan pernah mengandalkan kekuatan kita sendiri ketika kita menjalani kehidupan, tetapi hendaklah kita senantiasa berharap dan bersandar pada Allah serta minta pimpinan Roh Kudus. Sebab Roh itu membantu kita berdoa kepada Allah untuk menyampaikan hal-hal yang tidak terkatakan (Roma 8:26).
Kita tidak perlu kuatir dan cemas akan apa pun yang terjadi dan yang kita lihat. Sebagai orang percaya, kita tidak hidup dengan melihat situasi dan kondisi yang ada, tetapi hidup kita hendaknya kehidupan yang bersandar, beriman dan percaya pada Allah (2 Korintus 5:7).
Tetapi Tuhan juga memperingatkan kita agar ketika kita berdoa kepada Allah, kita harus sepenuhnya beriman dan percaya akan kuasa pertolongan Allah yang sanggup menuntun hidup kita. Jangan pernah biarkan kebimbangan dan keraguan itu meruntuhkan iman kita dan menjadi penghalang atas doa-doa kita. Yakobus menuliskan agar kita minta dalam iman dan tidak bimbang. Ketika kita bimbang kita tidak akan pernah menerima jawaban dari doa kita (Yakobus 1:6-7). Sebab ketika kita bimbang, ragu dan kuatir, secara tidak langsung kita menyangkali iman kita sendiri dan meragukan kuasa Allah yang sanggup menolong dan menuntun kita.
Ketika kita berdoa, kita harus benar-benar yakin dan percaya akan kuasa Allah yang sanggup mengubahkan hidup kita. Sebab seperti orang tua, ketika anaknya datang dan meminta pertolongan, pasti orang tua tersebut memberikan pertolongan pada anaknya. Terlebih lagi Bapa kita yang di sorga, ketika kita meminta kepada-Nya dengan sungguh-sungguh dan percaya, Ia pasti memberikan yang terbaik pada kita.

Renungan :
Jika hari-hari ini saudara bimbang dan cemas, hanya ada satu jalan, datanglah  pada Yesus dalam doa dan permohonan. Ia berjanji akan memberikan kelegaan dan jalan keluar. Jangan ragu, percaya saja.

Doa adalah kunci untuk membuka pintu kemustahilan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kain dan Habel

Kain dan Habel Jika Adam dan Hawa merupakan manusia pertama yang langsung diciptakan oleh Allah sendiri, sedangkan Kain dan Habel merupakan keturunan pertama dari manusia. Walaupun mereka bersaudara, mereka memiliki kebiasaan dan karakter yang berbeda. Kain sang kakak memiliki ketertarikan pada dunia pertanian, sehingga di dalam pekerjaan dia lebih memilih untuk menjadi seorang petani. Berbeda halnya dengan Habel, dia memiliki ketertarikan pada dunia peternakan, sehingga dalam pekerjaan dia memiliki sebagai gembala domba. Pada awalnya diantara kakak beradik ini tidak nampak sama sekali adanya persaingan, permasalahan ataupun perselisihan, hingga suatu ketika tiba waktunya bagi mereka untuk mempersembahkan korban bagi ALLAH (Kejadian 4:3-5). Dalam ayat 3 dikatakan "setelah beberapa waktu lamanya" , jika dilihat dari bahasa aslinya kata ini menggunakan kata miskkets yamim , yang diartikan sebagai at the end of days . Kata tersebut dapat diartikan pertama, mengacu pa...

Renungan Harian, 16 Pebruari 2012

Belajar dari Silsilah Daud 1 Tawarikh 2:1-55; Matius 1:1-17 “Isai memperanakkan Eliab, anak sulungnya, dan Abinadab, anak yang kedua, Simea, anak yang ketiga, Netaneel, anak yang keempat, Radai, anak yang kelima, Ozem, anak yang keenam, dan Daud, anak yang ketujuh;” (1 Tawarikh 2:13-15) Saat kita membaca pasal hari ini kita mungkin merasa binggung, apa maksudnya satu pasal penuh hanya berisi nama-nama orang dan daftar silsilah. Bahkan mungkin kita sempat berfikir bahwa hal tersebut tidaklah penting.  Tetapi jika kita mau belajar kebenaran firman Tuhan dan sesuai apa yang Tuhan Yesus sampaikan bahwa selama bumi masih ada maka satu iota pun tidak akan dihapuskan dari firman Tuhan (Mat 5:18). Satu iota adalah sama dengan satu titik. Hal itu berarti, setiap firman yang dituliskan dalam Alkitab bukanlah sekedar ditulis untuk memenuhi Alkitab, tetapi setiap kata itu memiliki makna dan maksud tersendiri, yang pastinya sangatlah penting. Hal itupun juga berlaku bagi pembaca...

Renungan Harian, 21 Mei 2012

Ketaatan Mutlak Bilangan 15:1-41; Roma 2:6-8 “Maka jumbai itu akan mengingatkan kamu, apabila kamu melihatnya, kepada segala perintah TUHAN, sehingga kamu melakukannya dan tidak lagi menuruti hatimu atau matamu sendiri, seperti biasa kamu perbuat dalam ketidaksetiaanmu terhadap TUHAN” (Bilangan 15:39). Taat dan ketaatan adalah sebuah kata yang sangat mudah untuk dikatakan, tetapi sukar untuk dilakukan. Ada beberapa kata dalam bahasa Yunani yang dapat diartikan dengan kata “taat”. Salah satu dari kata tersebut adalah “pistis”, kata yang sama dengan kata yang berarti “iman”. Dengan demikian, kita kita berbicara masalah ketaatan, maka hal tersebut tidak bisa dipisahkan dari iman, sebab dua-duanya berasal dari akar kata yang sama. Bilangan 15 sangatlah menekankan pentingnya mendengarkan perintah TUHAN dan taat menjalankannya. Ayat 1 sampai 21 menghubungkan ketaatan terhadap perintah Allah dengan korban yang berkenan kepada Tuhan. Ayat 22 sampai 29 membahas bagaimana ketika se...