Kamis, 31 Mei 2012

Renungan Harian, 31 Mei 2012


Hidup dan Ketaatan Sejati

Bacaan hari ini: 1 Petrus 1:13-16
“Hiduplah sebagai anak-anak yang taat dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu,”(1 Petrus 1:14)

Tahukah saudara bahwa seorang prajurit harus memiliki ketaatan yang sempurna kepada atasnya. Hal itu sangat mereka butuhkan terutama ketika mereka sedang dalam medan pertempuran. Sebab pada waktu itu seorang prajurit harus benar-benar mendengarkan instruksi dari atasnya supaya bisa berkoordinasi dengan baik dan memenangkan pertempuran. Hal itu akan nampak jelas di jaman sebelum ada peralatan canggih. Koordinasi yang baik dan pembentukan formasi pasukan sangatlah menentukan kemenangan pasukan. Dan untuk itu diperlukan sebuah kata yang harus dituruti oleh setiap prajurit yaitu “KETAATAN” kepada atasan mereka,  supaya formasi mereka sempurna dan dapat memenangkan sebuah pertempuran.
Dari gambaran di atas kita bisa mengetahui tentang pentingnya ketaatan di dalam jiwa seorang prajurit. Itulah sebabnya juga, mengapa ketika seseorang ketika menjadi seorang tentara dia dituntut  untuk terus berlatih dan hidup dalam kedisiplinan.
Ketaatan juga merupakan bagian yang sangat penting bagi kehidupan orang percaya. Saudara adalah prajurit Kristus, dan sebagai prajurit-Nya, Kristus menghendaki saudara untuk senantiasa taat kepada apa yang Ia katakan. Memang untuk mencapai sebuah ketaatan yang sempurna tidaklah instan. Itu sebabnya ketaatan adalah sebuah proses latihan, sama seperti seorang prajurit yang harus terus-menerus melatih dirinya untuk disiplin, sampai kedisiplinan itu menjadi bagian dalam kehidupannya. Demikian halnya saudara sebagai orang percaya harus terus melatih diri saudara untuk hidup dalam ketaatan sampai ketaatan itu menjadi bagian dalam kehidupan saudara.
Dalam 1 Petrus 1:2 ditunjukkan tujuan panggilan hidup orang percaya. Dalam ayat tersebut diungkapkan secara jelas bahwa setiap orang percaya dipanggil untuk “hidup taat kepada KRISTUS”. Itu adalah panggilan sejati orang percaya. Jadi ketaatan bukanlah pilihan, tetapi KEHARUSAN.

Doa :
Biarlah melalui firman Tuhan hari ini kita disadarkan sepenuhnya bahwa ketaatan bukanlah sebuah pilihan yang bisa ditolak, tetapi itu adalah identitas bagi orang percaya sebagai milik KRISTUS

Sebagai prajurit Kristus kita harus senantiasa hidup penuh ketaatan kepada DIA

Jumat, 11 Mei 2012

Renungan Harian, 30 Mei 2012

Bangkit dari Kematian Rohani

Wahyu 3:1-6; 1 Yohanes 1:9
“Bangunlah, dan kuatkanlah apa yang masih tinggal yang sudah hampir mati, sebab tidak satu pun dari pekerjaanmu Aku dapati sempurna di hadapan Allah-Ku.” (Wahyu 3:2)

Segabai orang percaya, kita sangatlah  patut mengucap syukur karena Allah begitu mengasihi kita. Bagaimana tidak ? Dia Allah yang Maha segalanya, sampai rela mati demi untuk menebus setiap orang yang mau beriman dan percaya kepada-Nya (Yohanes 3:16).
Sebagai Allah yang penuh kasih. Ketika Ia mendapati anak-anak-Nya berbuat kesalahan, Allah tidak serta-merta langsung memberikan penghukuman tanpa teguran dan peringatan (Ibrani 12:5-6).
Sebagai Allah yang penuh kasih, Ia senantiasa memperingatkan setiap kita dan menegor ketika kita mulai jauh dari Tuhan. Bahkan ketika kita mau sadar, berbalik pada Tuhan dan bertobat Allah senantiasa setia dan mau memberikan pengampunan-Nya pada kita (1 Yohanes 1:9).
Hari ini kita ditegor akan sikap hidup kita sebagai orang percaya. Tanpa sadar kondisi dunia yang menghimpit membuat iman orang percaya menjadi lemah bahkan mati.
Walaupun nampaknya masih rajin pergi ke gereja, itu hanya sebuah rutinitas, sebab tidak ada iman dan pengharapan didalamnya.
Tanpa sadar kita mulai meragukan dan kehilangan kepercayaan kita terhadap kuasa Allah yang sanggup menolong dan mengubah hidup kita.
Dengan berkata “dengan kondisiku yang begini, bagaimana mungkin aku bisa berhasil, sembuh, sukses, kaya dll”. Sering kali kata-kata itu keluar tanpa sadar bahwa hal tersebut merupakan penyangkalan iman terhadap kuasa Allah yang sanggup mengubahkan dan memberikan terobosan rohani.
Jangan termakan oleh tipu daya iblis, seperti firman Tuhan katakan “bangun”, jangan tinggal dalam keterpurukan rohani. Bangkit dalam iman bahwa kita bisa mengatasi segala perkara sebab kita adalah umat Allah dan lebih dari pemenang.

RENUNGAN :
            Apakah hari-hari ini kita ragu akan kuasa Allah yang sanggup menolong kita ? Jika ya ! Segera bangkit dan jangan mau lagi termakan tipu muslihat iblis. Bangun iman kita kembali dalam Kristus. (ap)

Keraguan dan kekuatiran adalah senjata yang ampuh untuk melemahkan iman. Waspadalah !!!

Renungan Harian, 29 Mei 2012

Sebuah Peringatan

Wahyu 2:1-7; Ibrani 12:5-8
“Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula.” (Wahyu 2:4)

Firman yang terdapat dalam Wahyu 2:1-7, merupakan penglihatan jemaat yang pertama yang Tuhan perlihatkan kepada Yohanes diantara ketujuh jemaat yang ada.
Pada mulanya, melalui penglihatan yang diterima oleh Yohanes, Allah bangga dengan jemaat di Efesus. Allah bangga dengan jerih lelah dan ketekunan mereka (ayat 2).
Allah bahkan sangat bangga kepada mereka, karena mereka sabar menghadapi pendusta dan penyesat, membenci mereka dan bahkan mereka rela menderita karena nama Tuhan (ayat 3, 6).
Dari semua penyataan yang ada sebenernya jemaat di Efesus bukanlah jemaat yang tersesat, atau bahkan berdosa kepada Allah. Akan tetapi kemudian Allah menegor dengan keras sebab mereka telah meninggalkan kasih mereka yang semula (ayat 4).
Dikatakan dalam ayat tersebut bahwa Allah “mencela” mereka. Hal tersebut merupakan sebuah peringatan dan teguran dari Allah yang tidak bisa diremehkan.
Firman ini bukan hanya ditujukan bagi jemaat di Efesus saja, tetapi bagi setiap orang percaya.
Seperti firman Tuhan katakan, bahwa ketika Allah memperingatkan dan menegor, bukan berarti Tuhan benci, tetapi justru karena Allah mengasihi anak-anak-Nya (Ibrani 12:5-6).
Melalui firman Tuhan hari ini, Tuhan mau memperingatkan setiap orang percaya agar tidak meninggalkan kasihnya yang semula.
Mungkin saat ini memang benar saudara masih tetap pada iman saudara, tetap datang ke gereja, ke persekutuan-persekutuan atau bahkan melayani Tuhan. Tetapi tanpa sadar semuanya itu hanya menjadi sebuah rutinitas sebagai seorang kristen – hal itu tidak Tuhan inginkan.
Tuhan mau kehidupan kekristenan setiap orang percaya tidak hanya menjadi sebuah rutinitas dan kehilangan kobaran kasih mula-mula.
Tuhan mau sama seperti ketika setiap orang percaya menerima Kristus pertama kali dalam hidupnya. Kehidupan yang diubahkan yang bergantung kepada Allah sepenuhnya dan mau melakukan apa saja dan taat kepada Allah dengan sungguh-sungguh dengan kerelaand ari dalam hati.

RENUNGAN :
            Perhatikan hidup saudara hari ini dan sedikit menoleh kebelakang ketika pertama kali menerima Kristus, masihkah kasih itu berkobar ?, jika tidak segeralah bertobat dan perbaharui  hubungan saudara dengan Allah. (ap)

Jangan biarkan api kasih itu redup, tetaplahj menyala-nyala dalam Tuhan

Renungan Harian, 28 Mei 2012

Rahasia Hidup Bahagia

Wahyu 1:1-3; Matius 5:6
“Berbahagialah ia yang membacakan dan mereka yang mendengarkan kata-kata nubuat ini, dan yang menuruti apa yang ada tertulis di dalamnya, sebab waktunya sudah dekat.” (Wahyu 1:3)

Hari-hari ini dunia mengalami depresi yang cukup berat. Sebagai akibat resesi dunia dan krisis moneter global semuanya serba tidak menentu.
Krisis kali ini tidak hanya berdampak pada masyarakat kelas bawah, tetapi sudah mencakup seluruh lapisan masyarakat. Bahkan perusahaan-perusahaan besar tidak sedikit yang kolaps gara-gara krisis tersebut.
Di Amerika perusahaan otomotif raksasa seperti GM dan Ford sangatlah terpengaruh dan terancam tutup. Di Jepang sebuah perusahaan elektronik besar seperti Sony yang tidak pernah mengalami kerugian dilaporkan akhir tahun 2008 dan awal tahun 2009 mereka mengalami kerugian.
Demikian halnyua dengan anak-anak Tuhan. Jika anak-anak Tuhan menaruh pengharapan dan kehidupannya pada harta di dunia ini, pastilah akan mengalami kekecewaan, depresi, kehilangan sukacita dan damai sejahtera.
Oleh sebab itu, firman Tuhan melalui Yohanes berkata “berbahagialah ia yang membaca, mendengar dan menuruti” firman Tuhan.
Sepintas jika anak- anak Tuhan membaca ayat ini, mungkin bertanya-tanya. Apakah dengan membaca, mendengar dan menuruti firman Tuhan segalanya langsung berubah ? Harga-harga l;angsung turun dan ekonomi membaik, sehingga tidak perlu pusing-pusing.
Memang benar ketika setiap orang percaya mau merenuhngkan firman Tuhan, tidak serta-merta keadaan secara otomatis membaik, apalagi mengharapkan dunia ini membaik, itu tidaklah mungkin. Sebab memang dunia yang ada saat ini sedang menuju kesudahannya. Yesus sendiri telah menyatakan hal tersebut. (Matius 24-25).
Dengan senantiasa membaca dan merenungkan firman Tuhan, terlebih lagi mentaatinya, hal tersebut akan merubah paradigma dan pola pikir yang selama ini salah.
Alkitab dan setiap firman yang ada didalamnya merupakan penutun kehidupan setiap orang percaya selama masih di dunia ini. Dengan senantiasa membaca dan merenungkan firman-Nya maka setiap orang percaya semakin kuat dalam iman, mengetahui rencana besar Allah dalam hidup setiap orang percaya dan hidup berbahagia.

RENUNGAN :
            Sebagai anak-anak Tuhan, hendaknya kehidupannya tidak bergantung pada apa yang terjadi di dunia, tetapi hidup bergantung dan bersandar pada Allah dengan senantiasa merenungkan firman Tuhan siang dan malam. (ap)

Kebahagiaan tidak dipegnaruhi oleh keadaan dunia, tetapi seberapa kita mau percaya dan bersandar pada Allah

Renungan Harian, 27 Mei 2012

Tahan Uji
Roma 5:1-11; 1 Korintus 3:14
“Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan.”  (Roma 5:3-4)

Setiap orang yang telah percaya kepada Kristus adalah orang-orang yang telah dibenarkan dihadapan Allah. Dan sebagai orang yang telah dibenarkan, Allah menghendaki setiap orang percaya hidup dalam kebenaran tersebut, sebab kebenaran bukanlah sebuah norma atau nilai tetapi Pribadi (Yoh 14:6), yaitu Kristus sendiri.
Allah tidak pernah menjanjikan ketika orang percaya hidup dalam kebenaran, maka kehidupannya akan senantiasa berjalan mulus tanpa ada tantangan sedikitpun. Dalam kehidupan mengikut Kristus tantangan, ujian dan permasalahan itu tetap masih ada. Tetapi dalam hal ini Allah ada dipihak orang percaya, menyertai dan memberikan kemenangan.
Di dalam kehidupan kekristenan ada saat-saat dimana pengujian itu datang. Kehidupan kekristenan seperti sebuah emas yang baru ditemukan dari sebuah penambangan. Emas yang baru ditemukan tidak serta merta langsung mengkilat dan bisa dipakai, tetapi emas itu masih kotor dan butuh proses yang panjang dan lama untuk menghasilkan emas yang murni dan bisa dipakai.
Demikian halnya kehidupan orang percaya setiap ujian yang dihadapi bukanlah dengan maksud untuk menghancurkan kehidupan orang percaya, namun untuk membawa orang percaya semakin murni dan berkenan dihadapan Allah. Sebagaimana emas yang diuji dalam api dengan suhu yang tinggi, dimurnikan, ujian pun memurnikan kehidupan orang percaya.
Ketika ujian itu datang dalam kehidupan kita, janganlah kita menjadi bimbang dan cemas tetapi senantisa berharaplah kepada Allah. Tuhan menjanjikan pada setiap orang percaya, saat sudah melewati ujian ada upah yang menanti. Itulah sebabnya saat ujian datang jangan lekas menyerah dan menyalahkan Tuhan, tetapi anggaplah ujian tersebut sebagai suatu tantangan yang membuat setiap orang percaya semakin dekat dengan Allah.
Renungan :
Biarlah melalui firman Tuhan hari ini saudara semakin diteguhkan dan dikuatkan. Ingatlah janji Tuhan bahwa setiap ujian yang datang tidak akan pernah melebihi kekuatan saudara. Tetap kuat di dalam Tuhan dan jadilah pemenang yang timbul sebagai emas yang murni.
Ujian adalah sarana untuk menunjukkan bahwa saudara benar-benar di jalan Allah!

Renungan Harian, 26 Mei 2012

Mau Dibentuk
Roma 12:1-8
“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. " (Ezra 1:3)

Setiap orang percaya pasti tidak asing dengan kata dibentuk. Kata ini digunakan untuk membentuk sesuatu dari yang tidak ada bentuknya sama sekali menjadi sebuah bentuk yang indah dan dapat dikenal.
Dalam Alkitab kata ini digunakan untuk seorang penjunan yang sedang membentuk tanah liat menjadi sebuah bejana dan benda-benda lain yang berharga. Proses tersebut dimulai dari pemilihan tanah, pembersihan tanah dari kotoran, diproses dengan air, dibentuk dan diselesaikan.
Kehidupan kita orang percaya adalah seperti tanah liat di tangan Allah. DIA adalah sang Maestro yang menghasilkan karya-karya yang terbaik bahkan tidak satu pun dari seniman di dunia ini yang dapat menyamai karya-Nya. Ditangan DIA kita akan dibentuk menjadi sesuatu yang sangat berharga dan mempermuliakan Allah kita Sang pembentuk kehidupan kita.
Firman Tuhan yang kita baca hari ini mengingatkan kepada setiap orang percaya, bahwa di dalam pembentukan karakter Kristus di dalam kehidupan orang percaya perlu adanya kerja sama antara Allah sebagai Pribadi yang membentuk dan kita orang percaya sebagai pribadi yang dibentuk oleh Allah.
Tanpa adanya kemauan dari kita, maka pembentukkan itu tidak akan terjadi, sebab Allah bukanlah Pribadi yang memaksakan kehendak. Itulah sebabnya Rasul Paulus mengingatkan setiap kita orang percaya untuk menyerahkan diri kita sepenuhnya kepada Allah (Rm 12:1), untuk secara sukarela mau dibentuk oleh Allah.
Allah mau kita sepenuhnya mengikuti apa yang Allah mau dalam kehidupan kita dengan tidak menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi hidup sebagaimana firman Tuhan katakan, yaitu hidup taat dan melakukan kebenaran firman Tuhan.
Renungan :
Jika saat ini saudara dalam masa-masa pembentukan oleh Allah. Janganlah saudara mengeraskan hati saudara, sebab hal tersebut akan memperlama proses tersebut. Ikutilah kehendak Allah dengan sepenuhnya tunduk pada kehendak firman-Nya
Jadikan tubuhnya sebagai tanah liat yang mudah dibentuk oleh Allah!

Renungan Harian, 25 Mei 2012

Petunjuk TUHAN

Bilangan 36:1-13; Filipi 4:6-7
“Inilah firman yang diperintahkan TUHAN mengenai anak-anak perempuan Zelafehad, bunyinya : Mereka boleh kawin dengan siapa saja yang suka kepada mereka, asal mereka kawin di lingkungan salah satu kaum dari suku ayah mereka” (Bilangan 36:6).

Dalam menjalani kehidupan kita sebagai orang percaya, terkadang Tuhan mengijinkan sesuatu terjadi di dalam kehidupan kita, tanpa kita tahu bagaimana jalan keluarnya. Demikian halnya yang terjadi atas salah satu kaum dari suku Israel yang diceritakan pada bacaan firman hari ini.
Ada salah satu kaum dari suku Manasye yang tidak memiliki anak laki-laki sama sekali, sehingga harta waris jatuh ke anak perempuan. Yang menjadi permasalahan, ketika mereka menikah, maka milik pusaka mereka akan jatuh pada suku lain dengan siapa mereka menikah, sehingga milik pusaka suku Manasye bisa berkurang.
Suatu pelajaran berharga yang bisa dipetik dari kisah ini, bahwa ketika mereka menghadapi permasalahan tanpa tahu jawabannya, mereka tidak memaksakan diri untuk mencari jalan keluar sendiri, tetapi mereka datang kepada Allah dan meminta petunjuk Allah atas masalah yang mereka hadapi melalui Musa. Saat mereka mau datang kepada Allah, maka Allah memberikan jalan keluar atas masalah yang mereka hadapi.
Itulah sebabnya, jika hari-hari ini saudara mengalami permasalahan hidup dan tidak tahu jalan keluar atas setiap masalah yang saudara hadapi, datanglah kepada Allah dan serahkan semua kekuatiran saudara pada-Nya (1 Pet 5:7), minta petunjuk dan hikmat daripada Allah, maka Ia akan memberikan jalan keluar dan kemenangan atas masalah saudara (Yak 1:5; 3:17; 4:10).
Jika saudara tidak tahu apa yang harus saudara katakan kepada Allah, berdoalah dalam Roh, sebab Ia membantu kita berdoa dalam kelemahan kita akan setiap keluhan dan permasalahan yang tidak terucapkan (Rm 8:26). Dan setelah saudara menyampaikan permohonan saudara dalam doa, percayalah dengan sepenuh hati bahwa Allah telah mendengar semua isi hati saudara dan bersiap menolong dan memberikan jalan keluar pada saudara. Jangan pernah lagi bimbang dan ragu atas doa saudara, sebab jika demikian saudara tidak akan pernah menerima apa-apa (Yak 1:6-7).
Yesus sendiri berkata, “mintalah, dan kamu akan menerimanya” (Yoh 15:7). Itu adalah janji Allah sendiri. Dengan demikian jika saat ini ada masalah, datang pada Tuhan, minta petunjuk-Nya, dan Ia pasti memberikan jalan keluar.

Renungan :
Sadarilah, bahwa bagi Allah tidak ada yang mustahil. Tidak ada perkara apa pun yang sukar bagi Dia. Saat permasalahan datang dalam hidup saudara, datang pada Allah, mohon petunjuk-Nya, Ia pasti memberi jawaban.

Bagi Allah tidak ada jalan buntu, yang ada jalan keluar

Renungan Harian, 24 Mei 2012

Tidak Mementingkan Diri Sendiri

Bilangan 32:1-42; Kisah Para Rasul 4:34-35
“Kami tidak akan pulang ke rumah kami, sampai setiap orang Israel memperoleh milik pusakanya” (Bilangan 32:18).

Dalam Bilangan pasal 32 dikisahkan bagaimana suku Ruben, Gad dan setengah dari suku Manasye meminta milik pusaka mereka sebelum menyeberangi sungai Yordan. Setelah berdiskusi dengan Musa, akhirnya Musa mengijinkan mereka, dengan satu syarat, agar mereka menepati janji mereka untuk tidak menduduki milik pusaka mereka dulu sebelum seluruh orang Israel memperoleh miliki pusaka mereka.
Cerita dalam pasal ini, mengajarkan setiap kita orang percaya untuk tidak bersikap egois dan mementingkan diri sendiri. Melalui firman Tuhan hari ini kita diajarkan bagaimana kita harus memiliki kasih satu sama lain sebagai saudara seiman.
Yesus sendiri mengajarkan pada setiap kita agar kita hidup dalam kasih, supaya nyata bahwa setiap kita adalah murid Kristus. Bahkan Kristus sendiri telah memberikan teladan yang sempurna kepada setiap kita tentang kasih (Yoh 13:34-35; 15:13-14, 17). Saat Yesus mati di atas kayu salib, itu semua Ia lakukan bukan karena iseng, tetapi karena begitu besar kasih-Nya, sehingga Ia  rela mati, supaya setiap kita yang percaya pada Yesus, beroleh keselamatan (Yoh 3:16).
Biarlah setiap kita juga mengikuti teladan dari cara hidup jemaat mula-mula. Mereka tidak hanya bertekun dalam ibadah, pengajaran dan doa – memang hal itu penting untuk pertumbuhan rohani -, tetapi mereka juga bersatu, saling menopang, yang berkelimpahan menjual harta mereka untuk membantu yang berkekurangan dengan kesadaran sendiri tanpa tuntutan (Kis 2:44-45).
Tuhan mau setiap kita orang percaya saling mengasihi dan menopang, bukan saja dalam perkara rohani saja, tetapi juga secara nyata Tuhan mau kita yang kuat secara materi membantu saudara seiman lainnya yang berkekurangan, bukan malah menuduh mereka berkekurangan karena dosa. Dengan cara demikian setiap orang percaya saling membangun dan menopang satu sama lain (Rm 15:1-2).
Tetapi firman Tuhan juga memberikan peringatan yang keras, agar dalam membantu sesama, tidak dilakukan dengan pura-pura dan ada pamrih, sebab hal itu tidak ada gunanya. Tuhan mau, ketika setiap kita memberikan bantuan sebagai tanda kasih, hendaknya hal tersebut dilakukan dengan tulus, sehingga benar-benar menjadi berkat bagi saudara seiman lainnya (Rm 12:9-10, 13).
Dengan demikian, biarlah setiap kita orang percaya mempraktekkan kasih itu dengan tulus, dengan cara saling bertolong-tolongan dan menopang satu sama lain, agar Kristus dimuliakan melalui kehidupan kita, dan nyata bahwa kita benar-benar murid Kristus yang sejati (Gal 6:2).

Renungan :
Tidakkan saudara sadar, bahwa Kristus datang dan mati itu karena kasih? Ia juga menghendaki saudara memiliki kasih dalam kehidupan saudara, bukan kasih yang semu melalui kata-kata, tetapi kasih yang nyata melalui perbuatan saudara terhadap sesama orang percaya.

Kasih itu memberi serta berkorban, dan Kristus adalah teladan kasih yang sejati

Renungan Harian, 23 Mei 2012

Terdaftar di Sorga

Bilangan 26:1-65; Lukas 10:20
“Kepada suku-suku itulah harus dibagikan tanah itu menjadi milik pusaka menurut nama-nama yang dicatat;” (Bilangan 26:53).

Dalam pasal ini, TUHAN memerintahkan Musa dan Eleazar anak imam Harun untuk menghitung seluruh bangsa Israel dari setiap suku dan kaum mereka. Ini adalah kali kedua seluruh bangsa Israel dihitung. Namun penghitungan kali ini berbeda dengan penghitungan yang pertama. Dalam penghitungan yang pertama ada pengangkatan pemimpin setiap suku dan jumlah orang dewasa setiap suku. Sedangkan dalam penghitungan yang kedua, tidak ada lagi pengangkatan pemimpin, namun dari setiap suku, kaum-kaum yang ada disebutkan namanya. Itu semua Tuhan perintahkan bukan tanpa maksud. Jika melihat pada ayat 53 sampai 56, maka nampak jelas bahwa maksud dari penyebutan nama kaum adalah untuk pembagian milik pusaka sesuai dengan nama kaum mereka, pada waktu mereka memasuki tanah Kanaan.
Kita sebagai orang percaya merupakan milik Kristus. Dengan demikian, kita juga keturunan Abraham, bukan secara lahiriah, tetapi tercangkokkan melalui Kristus (Rm 11:17). Dengan demikian kita juga berhak menerima janji Allah, sebab kita telah menjadi ahli waris dalam Kristus (Gal 3:29; 4:7).
Harta waris yang kita terima bukanlah tanah Kanaan lagi, namun lebih daripada itu, yaitu segala berkat rohani dalam kerajaan sorga (Ef 1:3). Oleh sebab itulah firman Tuhan mengingatkan kepada setiap kita orang percaya untuk tidak memusingkan diri dengan perkara-perkara yang ada di dunia ini, sebab semuanya itu sifatnya sementara. Tuhan menghendaki setiap kita memikirkan perkara yang di atas, yang rohani dan sorgawi, yang bersifat kekal (Kol 3:1-2).
Itulah sebabnya Yesus sendiri mengingatkan setiap orang percaya agar di dalam hidupnya tidak berbangga diri atas segala karunia dan tanda-tanda mujizat yang menyertai pelayanan mereka, tetapi mereka harus bersukacita karena nama mereka terdaftar di sorga (Luk 10:20).
Sama halnya dengan harta warisan, yang berhak menerima adalah orang yang namanya ada dan tercantum dalam surat warisan, jika tidak, maka orang itu tidak berhak menerima harta warisan tersebut. Maka kita pun patut bersukacita, bukan karena semua tanda yang menyertai pelayanan dan kehidupan rohani kita, tetapi karena satu hal, yaitu nama kita tercatat di sorga sebagai ahli waris sorgawi.

Renungan :
Jika saat ini saudara berbangga dengan tanda yang menyertai pelayanan dan kehidupan rohani saudara, sadarlah bahwa bukan itu yang penting. Yang terpenting adalah nama saudara tercatat di sorga.

Harta waris sorgawi lebih penting dan berharga daripada segala tanda dan mujizat

Renungan Harian, 22 Mei 2012

Baptisan Pertobatan

Bilangan 19:1-22; Kisah Para Rasul 2:38-40
“Maka seorang yang tahir haruslah mengumpulkan abu lembu itu dan menaruhnya pada suatu tempat yang tahir di luar tempat perkemahan, supaya semuanya itu tinggal tersimpan bagi umat Israel untuk membuat air pentahiran; itulah penghapus dosa” (Bilangan 19:9).

Setiap orang percaya pastilah sepakat bahwa keselamatan itu tidak bisa diperoleh dengan usaha sendiri sebagai manusia. Keselamatan hanya bisa diperoleh oleh karena iman percaya kita kepada Kristus, sebab Kristus telah mati di atas kayu salib untuk menebus dosa setiap kita. Tetapi, tahukah kita kalau keselamatan menyangkut dua aspek? Aspek pertama, yaitu dari pihak Allah yang memberi keselamatan. Allah telah memberikan Anak-Nya yang Tunggal sebagai korban yang sempurna dan menyelamatkan setiap orang yang percaya kepada-Nya. Aspek kedua, yaitu dari pihak manusia yang menerima keselamatan. Keselamatan itu dapat kita terima, jika kita mau mengakui pengorbanan Kristus, mau bertobat dan memberi diri untuk dibaptis.
Dengan demikian, kita yang sudah bertobat dan mengaku Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat kita, maka kita wajib memberi diri untuk dibaptis. Hubungan baptisan dengan pertobatan sama halnya dengan iman dan perbuatan. Jika iman tanpa perbuatan pada hakekatnya iman itu mati, maka pertobatan tanpa baptisan hanyalah omong kosong belaka dan pertobatannya tidak bisa dipertanggungjawabkan. Firman Tuhan sendiri menyatakan, bahwa baptisan merupakan tanda seseorang telah bertobat, mendapat pengampunan dosa dan masuk dalam bilangan orang-orang yang diselamatkan (Mrk 1:4; Kis 2:38-41).
Pertobatan bersifat rohani dan berhubungan dengan hati nurani, sedangkan baptisan merupakan langkah nyata secara lahiriah dari pertobatan tersebut. Selama seseorang belum bertobat dan memberi diri untuk dibaptis, maka tidak ada pengampunan dosa dan orang tersebut belum mendapat bagian dalam keselamatan. Sebaliknya, ia masih berdosa dan masuk daftar orang binasa (Bil 19:13, 20).
Dalam baptisan, kita manunggal dengan Kristus dalam kematian-Nya dan kematian kita atas daging, agar sama seperti Kristus bangkit dari antara orang mati, kita juga dibangkitkan menjadi manusia baru, pribadi yang telah ditebus dan beroleh bagian dalam keselamatan (Rm 6:3-4).
Dengan memberi diri dibaptis, maka pertobatan kita menjadi nyata. Baptisan telah memeteraikan kita dalam keselamatan. Kita bukan lagi budak dosa dan dosa tidak lagi berkuasa atas kita. Kita menjadi pribadi yang merdeka dalam Kristus dan penghukuman maut tidak berlaku lagi atas kita (Rm 8:1-2). Jadi, berilah diri kita untuk dibaptis, supaya keselamatan itu termeterai dalam hidup kita.

Renungan :
Jika saat ini saudara sudah bertobat namun belum dibaptis, biarlah melalui kebenaran firman Tuhan hari ini saudara disadarkan. Jangan lagi tunda waktu, segera berikan diri saudara untuk dibaptis sebagai tanda pertobatan saudara.

Baptisan adalah bukti nyata dari pertobatan

Renungan Harian, 21 Mei 2012

Ketaatan Mutlak

Bilangan 15:1-41; Roma 2:6-8
“Maka jumbai itu akan mengingatkan kamu, apabila kamu melihatnya, kepada segala perintah TUHAN, sehingga kamu melakukannya dan tidak lagi menuruti hatimu atau matamu sendiri, seperti biasa kamu perbuat dalam ketidaksetiaanmu terhadap TUHAN” (Bilangan 15:39).

Taat dan ketaatan adalah sebuah kata yang sangat mudah untuk dikatakan, tetapi sukar untuk dilakukan. Ada beberapa kata dalam bahasa Yunani yang dapat diartikan dengan kata “taat”. Salah satu dari kata tersebut adalah “pistis”, kata yang sama dengan kata yang berarti “iman”. Dengan demikian, kita kita berbicara masalah ketaatan, maka hal tersebut tidak bisa dipisahkan dari iman, sebab dua-duanya berasal dari akar kata yang sama.
Bilangan 15 sangatlah menekankan pentingnya mendengarkan perintah TUHAN dan taat menjalankannya. Ayat 1 sampai 21 menghubungkan ketaatan terhadap perintah Allah dengan korban yang berkenan kepada Tuhan. Ayat 22 sampai 29 membahas bagaimana ketika seseorang secara tidak sengaja melanggar perintah Allah harus bertobat dan memberi korban sebagai pendamaian. Ayat 30 sampai 36 menunjukkan, jika pelanggaran itu disengaja, maka ada penghukuman. Sedangkan ayat 37 sampai 41 membahas tentang jumbai peringatan, supaya setiap orang senantiasa teringat akan perintah Allah dan melakukan semua perintah tersebut.
Perihal ketaatan sangatlah ditekankan dalam pasal ini. Hal tersebut dikarenakan pada pasal sebelumnya, ketidaktaatan bangsa Israel terhadap perintah Allah, membuat sebagian besar dari mereka tidak dapat masuk ke tanah perjanjian (Bil 14:28-33), hanya keturunan mereka yang bisa masuk ke tanah perjanjian dan dua orang diantara mereka, yaitu Yosua bin Nun dan Kaleb bin Yefune (Bil 14:38).
Ketaatan adalah hal yang sangat penting, sebab hal tersebut berkaitan dengan iman percaya kita. Jika kita berkata kita beriman, tetapi kita tidak taat, maka hal itu merupakan sebuah kebohongan. Dengan demikian, jika kita beriman kepada Allah, maka kita pun harus taat kepada Allah dan segala perintah-Nya, jika tidak, maka sama halnya kita menyangkali iman percaya kita sendiri kepada Allah.
Marilah kita belajar pada pribadi Abraham, pribadi yang disebut sebagai “bapa orang beriman”. Predikat tersebut tidak asal melekat pada diri Abraham, sebab dia telah membuktikan imannya dengan tetap berpegang teguh pada janji Allah dan senantiasa melaksanakan perintah Allah, bahkan saat diperintahkan untuk mengorbankan anaknya, ia taat. Dan karena ketaatannya mujizat terjadi dan anaknya tidak jadi mati. Iman dan ketaatan yang sama Allah tuntut ada pada setiap kita sebagai identitas kita sebagai orang percaya (Rm 4:18-25; Kej 22:1-19).
Ketaatan adalah mutlak bagi setiap orang percaya. Kristus sendiri telah memberikan teladan bagi setiap kita perihal ketaatan. Ia taat sampai mati demi menebus setiap kita. Marilah kita ikut teladan Kristus dengan hidup penuh dengan ketaatan terhadap kebenaran firman Tuhan.

Renungan :
Seperti firman Tuhan katakan “janganlah kita menjadi seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif”. Jangan lagi kita menunda-nunda untuk hidup taat, waktu terus bergulir dan kedatangan-Nya semakin dekat, segera ambil komitmen untuk hidup dalam ketaatan mutlak kepada Allah.

Sebagai murid yang baik, maka kita harus mengikuti teladan Guru kita dalam KETAATAN

Learn The Truth of Christian Values Headline Animator

Entri Populer