Sabtu, 07 Juli 2012

Sejarah Penulisan Alkitab Bahasa Indonesia

Part 4


Tahap 16
Kabar baik
Alkitab Kabar BaikKarena banyak orang percaya sadar dan mau membaca Alkitab tetapi kurang mengerti, maka LAI (Lembaga Alkitab Indonesia) menterjemahkan Alkitab ke dalam bentuk bahasa yang lebih sederhana dan mampu dipahami dengan mudah oleh para pembacanya tanpa mengurangi sedikit pun nilai kebenaran firman TUHAN yang terkandung dalam Alkitab tersebut.
Maka mulai tahun 1985 diterbitkanlah Alkitab dalam bahasa keseharian (bahasa sehari-hari). Alkitab tersebut diantaranya BIMK (Bahasa Indonesia Masa Kini), BISD (Bahasa Indonesia Sederhana), KBUA (Kabar Baik Untuk Anak-Anak), KBC (Kabar Baik Ceria), dan PBA (Pembaca Baru Alkitab).

Sejarah Penulisan Alkitab Bahasa Indonesia

Part 3


Tahap 11
perjanjian bharu
shellabearSelanjutnya pada kisaran tahun 1907, karena banyaknya penduduk etnis Cina maka seorang misionaris wanita dari gereja Presbiterian bernama Mc Mahone menterjemahkan Injil Matius dalam bahasa Melayu Bapa (bahasa campuran antara bahasa Cina dan bahasa Indonesia/Melayu). William Shellabear pun bersama beberapa rekannya menterjemahkan Alkitab dalam bahasa Melayu Baba.






Sejarah Penulisan Alkitab Bahasa Indonesia

Part 2


Tahap 5
Pada tahun 1814 William Milne datang ke Indonesia untuk bertemu guru bahasanya Abdullah bin Abdul Kadir untuk merevisi terjemahan Leijdecker. Pada akhirnya yang mendapat tugas revisi tersebut adalah Claudius Thomsen yang dibantu oleh Robert Burns pada tahun 1821 berhasil merevisi kitab Matius dan seluruh Injil beserta Kisah Para Rasul pada tahun 1832 dan dicetak sebanyak 1500 eksemplar.

Tahap 6
Di Pulau Jawa ada Johannes Emde dkk menerjemahkan kitab dalam bahasa Melayu dialek khas Surabaya dan tahun 1835 diterbitkan di Batavia atas biasa anggota perkumpulan Kristen di Surabaya.

Sejarah Penulisan Alkitab Bahasa Indonesia

Part 1

    Setiap orang percaya pasti tahu kalau ditanya apa itu Alkitab? Sebab Alkitab adalah sumber kebenaran firman Allah yang dijilid dalam satu buku, terdiri dari 2 (dua) bagian yaitu Perjanjian Lama serta Perjanjian Baru dan memiliki 66 kitab didalamnya.
   Pada zaman modern sekarang ini, Alkitab tidak hanya berupa buku, namun sudah berupa aplikasi (software), sehingga dalam dibaca pada hampir semua perangkat elektronik, mulai dari komputer sampai ponsel.
    Namun demikian pernahkan kita bertanya dalam diri kita, bagaimana sampai Alkitab dalam terjemahan Indonesia mulai tersusun? Kapan mulai ada Alkitab berbahasa Indonesia? Berkaitan dengan pertanyaan tersebut, tidak banyak orang yang bisa menjawabnya, sebab memang jarang sekali orang mau menyelidiki sejarah penterjemahan Alkitab dalam bahasa Indonesia.

Sabtu, 02 Juni 2012

Dibalik Lagu Amazing Gace


AMAZING GRACE
John Newton

AMAZING GRACE, HOW SWEET THE SOUND
THAT SAVED A WRETCH LIKE ME
I ONCE WAS LOST, BUT NOW I’M FOUND
WAS BLIND, BUT NOW I SEE

amazing grace

‘TWAS GRACE, THAT TAUGHT MY HEART TO FEAR
AND GRACE MY FEAR RELIEVED
HOW PRECIOUS DID THAT GRACE APPEAR
THE HOUR I FIRST BELIEVED


THROUGH MANY DANGERS, TOILS AND SNARES
WE HAVE ALREADY COME
‘TWAS GRACE THAT BROUGHT US SAFE THUS FAR
AND GRACE WILL LEAD US HOME


WHEN WE’VE BEEN THERE TEN THOUSAND YEARS
BRIGHT SHINING AS THE SUN
WE’VE NO LESS DAYS TO SING GOD’S PRAISE
THAN WHEN WE FIRST BEGUN




Siapa sih yang tidak tahu lagu “Amazing Grace”? Semua orang kristen bahkan non kristen pun tahu lagu tersebut, sebab memang lagu tersebut benar-benar populer. Walaupun sudah lebih dari dua abad semenjak lagu itu diciptakan, tetapi semua orang tidak pernah bosan untuk melantunkan lagu tersebut.

Kamis, 31 Mei 2012

Renungan Harian, 31 Mei 2012


Hidup dan Ketaatan Sejati

Bacaan hari ini: 1 Petrus 1:13-16
“Hiduplah sebagai anak-anak yang taat dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu,”(1 Petrus 1:14)

Tahukah saudara bahwa seorang prajurit harus memiliki ketaatan yang sempurna kepada atasnya. Hal itu sangat mereka butuhkan terutama ketika mereka sedang dalam medan pertempuran. Sebab pada waktu itu seorang prajurit harus benar-benar mendengarkan instruksi dari atasnya supaya bisa berkoordinasi dengan baik dan memenangkan pertempuran. Hal itu akan nampak jelas di jaman sebelum ada peralatan canggih. Koordinasi yang baik dan pembentukan formasi pasukan sangatlah menentukan kemenangan pasukan. Dan untuk itu diperlukan sebuah kata yang harus dituruti oleh setiap prajurit yaitu “KETAATAN” kepada atasan mereka,  supaya formasi mereka sempurna dan dapat memenangkan sebuah pertempuran.
Dari gambaran di atas kita bisa mengetahui tentang pentingnya ketaatan di dalam jiwa seorang prajurit. Itulah sebabnya juga, mengapa ketika seseorang ketika menjadi seorang tentara dia dituntut  untuk terus berlatih dan hidup dalam kedisiplinan.
Ketaatan juga merupakan bagian yang sangat penting bagi kehidupan orang percaya. Saudara adalah prajurit Kristus, dan sebagai prajurit-Nya, Kristus menghendaki saudara untuk senantiasa taat kepada apa yang Ia katakan. Memang untuk mencapai sebuah ketaatan yang sempurna tidaklah instan. Itu sebabnya ketaatan adalah sebuah proses latihan, sama seperti seorang prajurit yang harus terus-menerus melatih dirinya untuk disiplin, sampai kedisiplinan itu menjadi bagian dalam kehidupannya. Demikian halnya saudara sebagai orang percaya harus terus melatih diri saudara untuk hidup dalam ketaatan sampai ketaatan itu menjadi bagian dalam kehidupan saudara.
Dalam 1 Petrus 1:2 ditunjukkan tujuan panggilan hidup orang percaya. Dalam ayat tersebut diungkapkan secara jelas bahwa setiap orang percaya dipanggil untuk “hidup taat kepada KRISTUS”. Itu adalah panggilan sejati orang percaya. Jadi ketaatan bukanlah pilihan, tetapi KEHARUSAN.

Doa :
Biarlah melalui firman Tuhan hari ini kita disadarkan sepenuhnya bahwa ketaatan bukanlah sebuah pilihan yang bisa ditolak, tetapi itu adalah identitas bagi orang percaya sebagai milik KRISTUS

Sebagai prajurit Kristus kita harus senantiasa hidup penuh ketaatan kepada DIA

Jumat, 11 Mei 2012

Renungan Harian, 30 Mei 2012

Bangkit dari Kematian Rohani

Wahyu 3:1-6; 1 Yohanes 1:9
“Bangunlah, dan kuatkanlah apa yang masih tinggal yang sudah hampir mati, sebab tidak satu pun dari pekerjaanmu Aku dapati sempurna di hadapan Allah-Ku.” (Wahyu 3:2)

Segabai orang percaya, kita sangatlah  patut mengucap syukur karena Allah begitu mengasihi kita. Bagaimana tidak ? Dia Allah yang Maha segalanya, sampai rela mati demi untuk menebus setiap orang yang mau beriman dan percaya kepada-Nya (Yohanes 3:16).
Sebagai Allah yang penuh kasih. Ketika Ia mendapati anak-anak-Nya berbuat kesalahan, Allah tidak serta-merta langsung memberikan penghukuman tanpa teguran dan peringatan (Ibrani 12:5-6).
Sebagai Allah yang penuh kasih, Ia senantiasa memperingatkan setiap kita dan menegor ketika kita mulai jauh dari Tuhan. Bahkan ketika kita mau sadar, berbalik pada Tuhan dan bertobat Allah senantiasa setia dan mau memberikan pengampunan-Nya pada kita (1 Yohanes 1:9).
Hari ini kita ditegor akan sikap hidup kita sebagai orang percaya. Tanpa sadar kondisi dunia yang menghimpit membuat iman orang percaya menjadi lemah bahkan mati.
Walaupun nampaknya masih rajin pergi ke gereja, itu hanya sebuah rutinitas, sebab tidak ada iman dan pengharapan didalamnya.
Tanpa sadar kita mulai meragukan dan kehilangan kepercayaan kita terhadap kuasa Allah yang sanggup menolong dan mengubah hidup kita.
Dengan berkata “dengan kondisiku yang begini, bagaimana mungkin aku bisa berhasil, sembuh, sukses, kaya dll”. Sering kali kata-kata itu keluar tanpa sadar bahwa hal tersebut merupakan penyangkalan iman terhadap kuasa Allah yang sanggup mengubahkan dan memberikan terobosan rohani.
Jangan termakan oleh tipu daya iblis, seperti firman Tuhan katakan “bangun”, jangan tinggal dalam keterpurukan rohani. Bangkit dalam iman bahwa kita bisa mengatasi segala perkara sebab kita adalah umat Allah dan lebih dari pemenang.

RENUNGAN :
            Apakah hari-hari ini kita ragu akan kuasa Allah yang sanggup menolong kita ? Jika ya ! Segera bangkit dan jangan mau lagi termakan tipu muslihat iblis. Bangun iman kita kembali dalam Kristus. (ap)

Keraguan dan kekuatiran adalah senjata yang ampuh untuk melemahkan iman. Waspadalah !!!

Renungan Harian, 29 Mei 2012

Sebuah Peringatan

Wahyu 2:1-7; Ibrani 12:5-8
“Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula.” (Wahyu 2:4)

Firman yang terdapat dalam Wahyu 2:1-7, merupakan penglihatan jemaat yang pertama yang Tuhan perlihatkan kepada Yohanes diantara ketujuh jemaat yang ada.
Pada mulanya, melalui penglihatan yang diterima oleh Yohanes, Allah bangga dengan jemaat di Efesus. Allah bangga dengan jerih lelah dan ketekunan mereka (ayat 2).
Allah bahkan sangat bangga kepada mereka, karena mereka sabar menghadapi pendusta dan penyesat, membenci mereka dan bahkan mereka rela menderita karena nama Tuhan (ayat 3, 6).
Dari semua penyataan yang ada sebenernya jemaat di Efesus bukanlah jemaat yang tersesat, atau bahkan berdosa kepada Allah. Akan tetapi kemudian Allah menegor dengan keras sebab mereka telah meninggalkan kasih mereka yang semula (ayat 4).
Dikatakan dalam ayat tersebut bahwa Allah “mencela” mereka. Hal tersebut merupakan sebuah peringatan dan teguran dari Allah yang tidak bisa diremehkan.
Firman ini bukan hanya ditujukan bagi jemaat di Efesus saja, tetapi bagi setiap orang percaya.
Seperti firman Tuhan katakan, bahwa ketika Allah memperingatkan dan menegor, bukan berarti Tuhan benci, tetapi justru karena Allah mengasihi anak-anak-Nya (Ibrani 12:5-6).
Melalui firman Tuhan hari ini, Tuhan mau memperingatkan setiap orang percaya agar tidak meninggalkan kasihnya yang semula.
Mungkin saat ini memang benar saudara masih tetap pada iman saudara, tetap datang ke gereja, ke persekutuan-persekutuan atau bahkan melayani Tuhan. Tetapi tanpa sadar semuanya itu hanya menjadi sebuah rutinitas sebagai seorang kristen – hal itu tidak Tuhan inginkan.
Tuhan mau kehidupan kekristenan setiap orang percaya tidak hanya menjadi sebuah rutinitas dan kehilangan kobaran kasih mula-mula.
Tuhan mau sama seperti ketika setiap orang percaya menerima Kristus pertama kali dalam hidupnya. Kehidupan yang diubahkan yang bergantung kepada Allah sepenuhnya dan mau melakukan apa saja dan taat kepada Allah dengan sungguh-sungguh dengan kerelaand ari dalam hati.

RENUNGAN :
            Perhatikan hidup saudara hari ini dan sedikit menoleh kebelakang ketika pertama kali menerima Kristus, masihkah kasih itu berkobar ?, jika tidak segeralah bertobat dan perbaharui  hubungan saudara dengan Allah. (ap)

Jangan biarkan api kasih itu redup, tetaplahj menyala-nyala dalam Tuhan

Renungan Harian, 28 Mei 2012

Rahasia Hidup Bahagia

Wahyu 1:1-3; Matius 5:6
“Berbahagialah ia yang membacakan dan mereka yang mendengarkan kata-kata nubuat ini, dan yang menuruti apa yang ada tertulis di dalamnya, sebab waktunya sudah dekat.” (Wahyu 1:3)

Hari-hari ini dunia mengalami depresi yang cukup berat. Sebagai akibat resesi dunia dan krisis moneter global semuanya serba tidak menentu.
Krisis kali ini tidak hanya berdampak pada masyarakat kelas bawah, tetapi sudah mencakup seluruh lapisan masyarakat. Bahkan perusahaan-perusahaan besar tidak sedikit yang kolaps gara-gara krisis tersebut.
Di Amerika perusahaan otomotif raksasa seperti GM dan Ford sangatlah terpengaruh dan terancam tutup. Di Jepang sebuah perusahaan elektronik besar seperti Sony yang tidak pernah mengalami kerugian dilaporkan akhir tahun 2008 dan awal tahun 2009 mereka mengalami kerugian.
Demikian halnyua dengan anak-anak Tuhan. Jika anak-anak Tuhan menaruh pengharapan dan kehidupannya pada harta di dunia ini, pastilah akan mengalami kekecewaan, depresi, kehilangan sukacita dan damai sejahtera.
Oleh sebab itu, firman Tuhan melalui Yohanes berkata “berbahagialah ia yang membaca, mendengar dan menuruti” firman Tuhan.
Sepintas jika anak- anak Tuhan membaca ayat ini, mungkin bertanya-tanya. Apakah dengan membaca, mendengar dan menuruti firman Tuhan segalanya langsung berubah ? Harga-harga l;angsung turun dan ekonomi membaik, sehingga tidak perlu pusing-pusing.
Memang benar ketika setiap orang percaya mau merenuhngkan firman Tuhan, tidak serta-merta keadaan secara otomatis membaik, apalagi mengharapkan dunia ini membaik, itu tidaklah mungkin. Sebab memang dunia yang ada saat ini sedang menuju kesudahannya. Yesus sendiri telah menyatakan hal tersebut. (Matius 24-25).
Dengan senantiasa membaca dan merenungkan firman Tuhan, terlebih lagi mentaatinya, hal tersebut akan merubah paradigma dan pola pikir yang selama ini salah.
Alkitab dan setiap firman yang ada didalamnya merupakan penutun kehidupan setiap orang percaya selama masih di dunia ini. Dengan senantiasa membaca dan merenungkan firman-Nya maka setiap orang percaya semakin kuat dalam iman, mengetahui rencana besar Allah dalam hidup setiap orang percaya dan hidup berbahagia.

RENUNGAN :
            Sebagai anak-anak Tuhan, hendaknya kehidupannya tidak bergantung pada apa yang terjadi di dunia, tetapi hidup bergantung dan bersandar pada Allah dengan senantiasa merenungkan firman Tuhan siang dan malam. (ap)

Kebahagiaan tidak dipegnaruhi oleh keadaan dunia, tetapi seberapa kita mau percaya dan bersandar pada Allah

Renungan Harian, 27 Mei 2012

Tahan Uji
Roma 5:1-11; 1 Korintus 3:14
“Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan.”  (Roma 5:3-4)

Setiap orang yang telah percaya kepada Kristus adalah orang-orang yang telah dibenarkan dihadapan Allah. Dan sebagai orang yang telah dibenarkan, Allah menghendaki setiap orang percaya hidup dalam kebenaran tersebut, sebab kebenaran bukanlah sebuah norma atau nilai tetapi Pribadi (Yoh 14:6), yaitu Kristus sendiri.
Allah tidak pernah menjanjikan ketika orang percaya hidup dalam kebenaran, maka kehidupannya akan senantiasa berjalan mulus tanpa ada tantangan sedikitpun. Dalam kehidupan mengikut Kristus tantangan, ujian dan permasalahan itu tetap masih ada. Tetapi dalam hal ini Allah ada dipihak orang percaya, menyertai dan memberikan kemenangan.
Di dalam kehidupan kekristenan ada saat-saat dimana pengujian itu datang. Kehidupan kekristenan seperti sebuah emas yang baru ditemukan dari sebuah penambangan. Emas yang baru ditemukan tidak serta merta langsung mengkilat dan bisa dipakai, tetapi emas itu masih kotor dan butuh proses yang panjang dan lama untuk menghasilkan emas yang murni dan bisa dipakai.
Demikian halnya kehidupan orang percaya setiap ujian yang dihadapi bukanlah dengan maksud untuk menghancurkan kehidupan orang percaya, namun untuk membawa orang percaya semakin murni dan berkenan dihadapan Allah. Sebagaimana emas yang diuji dalam api dengan suhu yang tinggi, dimurnikan, ujian pun memurnikan kehidupan orang percaya.
Ketika ujian itu datang dalam kehidupan kita, janganlah kita menjadi bimbang dan cemas tetapi senantisa berharaplah kepada Allah. Tuhan menjanjikan pada setiap orang percaya, saat sudah melewati ujian ada upah yang menanti. Itulah sebabnya saat ujian datang jangan lekas menyerah dan menyalahkan Tuhan, tetapi anggaplah ujian tersebut sebagai suatu tantangan yang membuat setiap orang percaya semakin dekat dengan Allah.
Renungan :
Biarlah melalui firman Tuhan hari ini saudara semakin diteguhkan dan dikuatkan. Ingatlah janji Tuhan bahwa setiap ujian yang datang tidak akan pernah melebihi kekuatan saudara. Tetap kuat di dalam Tuhan dan jadilah pemenang yang timbul sebagai emas yang murni.
Ujian adalah sarana untuk menunjukkan bahwa saudara benar-benar di jalan Allah!

Renungan Harian, 26 Mei 2012

Mau Dibentuk
Roma 12:1-8
“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. " (Ezra 1:3)

Setiap orang percaya pasti tidak asing dengan kata dibentuk. Kata ini digunakan untuk membentuk sesuatu dari yang tidak ada bentuknya sama sekali menjadi sebuah bentuk yang indah dan dapat dikenal.
Dalam Alkitab kata ini digunakan untuk seorang penjunan yang sedang membentuk tanah liat menjadi sebuah bejana dan benda-benda lain yang berharga. Proses tersebut dimulai dari pemilihan tanah, pembersihan tanah dari kotoran, diproses dengan air, dibentuk dan diselesaikan.
Kehidupan kita orang percaya adalah seperti tanah liat di tangan Allah. DIA adalah sang Maestro yang menghasilkan karya-karya yang terbaik bahkan tidak satu pun dari seniman di dunia ini yang dapat menyamai karya-Nya. Ditangan DIA kita akan dibentuk menjadi sesuatu yang sangat berharga dan mempermuliakan Allah kita Sang pembentuk kehidupan kita.
Firman Tuhan yang kita baca hari ini mengingatkan kepada setiap orang percaya, bahwa di dalam pembentukan karakter Kristus di dalam kehidupan orang percaya perlu adanya kerja sama antara Allah sebagai Pribadi yang membentuk dan kita orang percaya sebagai pribadi yang dibentuk oleh Allah.
Tanpa adanya kemauan dari kita, maka pembentukkan itu tidak akan terjadi, sebab Allah bukanlah Pribadi yang memaksakan kehendak. Itulah sebabnya Rasul Paulus mengingatkan setiap kita orang percaya untuk menyerahkan diri kita sepenuhnya kepada Allah (Rm 12:1), untuk secara sukarela mau dibentuk oleh Allah.
Allah mau kita sepenuhnya mengikuti apa yang Allah mau dalam kehidupan kita dengan tidak menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi hidup sebagaimana firman Tuhan katakan, yaitu hidup taat dan melakukan kebenaran firman Tuhan.
Renungan :
Jika saat ini saudara dalam masa-masa pembentukan oleh Allah. Janganlah saudara mengeraskan hati saudara, sebab hal tersebut akan memperlama proses tersebut. Ikutilah kehendak Allah dengan sepenuhnya tunduk pada kehendak firman-Nya
Jadikan tubuhnya sebagai tanah liat yang mudah dibentuk oleh Allah!

Renungan Harian, 25 Mei 2012

Petunjuk TUHAN

Bilangan 36:1-13; Filipi 4:6-7
“Inilah firman yang diperintahkan TUHAN mengenai anak-anak perempuan Zelafehad, bunyinya : Mereka boleh kawin dengan siapa saja yang suka kepada mereka, asal mereka kawin di lingkungan salah satu kaum dari suku ayah mereka” (Bilangan 36:6).

Dalam menjalani kehidupan kita sebagai orang percaya, terkadang Tuhan mengijinkan sesuatu terjadi di dalam kehidupan kita, tanpa kita tahu bagaimana jalan keluarnya. Demikian halnya yang terjadi atas salah satu kaum dari suku Israel yang diceritakan pada bacaan firman hari ini.
Ada salah satu kaum dari suku Manasye yang tidak memiliki anak laki-laki sama sekali, sehingga harta waris jatuh ke anak perempuan. Yang menjadi permasalahan, ketika mereka menikah, maka milik pusaka mereka akan jatuh pada suku lain dengan siapa mereka menikah, sehingga milik pusaka suku Manasye bisa berkurang.
Suatu pelajaran berharga yang bisa dipetik dari kisah ini, bahwa ketika mereka menghadapi permasalahan tanpa tahu jawabannya, mereka tidak memaksakan diri untuk mencari jalan keluar sendiri, tetapi mereka datang kepada Allah dan meminta petunjuk Allah atas masalah yang mereka hadapi melalui Musa. Saat mereka mau datang kepada Allah, maka Allah memberikan jalan keluar atas masalah yang mereka hadapi.
Itulah sebabnya, jika hari-hari ini saudara mengalami permasalahan hidup dan tidak tahu jalan keluar atas setiap masalah yang saudara hadapi, datanglah kepada Allah dan serahkan semua kekuatiran saudara pada-Nya (1 Pet 5:7), minta petunjuk dan hikmat daripada Allah, maka Ia akan memberikan jalan keluar dan kemenangan atas masalah saudara (Yak 1:5; 3:17; 4:10).
Jika saudara tidak tahu apa yang harus saudara katakan kepada Allah, berdoalah dalam Roh, sebab Ia membantu kita berdoa dalam kelemahan kita akan setiap keluhan dan permasalahan yang tidak terucapkan (Rm 8:26). Dan setelah saudara menyampaikan permohonan saudara dalam doa, percayalah dengan sepenuh hati bahwa Allah telah mendengar semua isi hati saudara dan bersiap menolong dan memberikan jalan keluar pada saudara. Jangan pernah lagi bimbang dan ragu atas doa saudara, sebab jika demikian saudara tidak akan pernah menerima apa-apa (Yak 1:6-7).
Yesus sendiri berkata, “mintalah, dan kamu akan menerimanya” (Yoh 15:7). Itu adalah janji Allah sendiri. Dengan demikian jika saat ini ada masalah, datang pada Tuhan, minta petunjuk-Nya, dan Ia pasti memberikan jalan keluar.

Renungan :
Sadarilah, bahwa bagi Allah tidak ada yang mustahil. Tidak ada perkara apa pun yang sukar bagi Dia. Saat permasalahan datang dalam hidup saudara, datang pada Allah, mohon petunjuk-Nya, Ia pasti memberi jawaban.

Bagi Allah tidak ada jalan buntu, yang ada jalan keluar

Renungan Harian, 24 Mei 2012

Tidak Mementingkan Diri Sendiri

Bilangan 32:1-42; Kisah Para Rasul 4:34-35
“Kami tidak akan pulang ke rumah kami, sampai setiap orang Israel memperoleh milik pusakanya” (Bilangan 32:18).

Dalam Bilangan pasal 32 dikisahkan bagaimana suku Ruben, Gad dan setengah dari suku Manasye meminta milik pusaka mereka sebelum menyeberangi sungai Yordan. Setelah berdiskusi dengan Musa, akhirnya Musa mengijinkan mereka, dengan satu syarat, agar mereka menepati janji mereka untuk tidak menduduki milik pusaka mereka dulu sebelum seluruh orang Israel memperoleh miliki pusaka mereka.
Cerita dalam pasal ini, mengajarkan setiap kita orang percaya untuk tidak bersikap egois dan mementingkan diri sendiri. Melalui firman Tuhan hari ini kita diajarkan bagaimana kita harus memiliki kasih satu sama lain sebagai saudara seiman.
Yesus sendiri mengajarkan pada setiap kita agar kita hidup dalam kasih, supaya nyata bahwa setiap kita adalah murid Kristus. Bahkan Kristus sendiri telah memberikan teladan yang sempurna kepada setiap kita tentang kasih (Yoh 13:34-35; 15:13-14, 17). Saat Yesus mati di atas kayu salib, itu semua Ia lakukan bukan karena iseng, tetapi karena begitu besar kasih-Nya, sehingga Ia  rela mati, supaya setiap kita yang percaya pada Yesus, beroleh keselamatan (Yoh 3:16).
Biarlah setiap kita juga mengikuti teladan dari cara hidup jemaat mula-mula. Mereka tidak hanya bertekun dalam ibadah, pengajaran dan doa – memang hal itu penting untuk pertumbuhan rohani -, tetapi mereka juga bersatu, saling menopang, yang berkelimpahan menjual harta mereka untuk membantu yang berkekurangan dengan kesadaran sendiri tanpa tuntutan (Kis 2:44-45).
Tuhan mau setiap kita orang percaya saling mengasihi dan menopang, bukan saja dalam perkara rohani saja, tetapi juga secara nyata Tuhan mau kita yang kuat secara materi membantu saudara seiman lainnya yang berkekurangan, bukan malah menuduh mereka berkekurangan karena dosa. Dengan cara demikian setiap orang percaya saling membangun dan menopang satu sama lain (Rm 15:1-2).
Tetapi firman Tuhan juga memberikan peringatan yang keras, agar dalam membantu sesama, tidak dilakukan dengan pura-pura dan ada pamrih, sebab hal itu tidak ada gunanya. Tuhan mau, ketika setiap kita memberikan bantuan sebagai tanda kasih, hendaknya hal tersebut dilakukan dengan tulus, sehingga benar-benar menjadi berkat bagi saudara seiman lainnya (Rm 12:9-10, 13).
Dengan demikian, biarlah setiap kita orang percaya mempraktekkan kasih itu dengan tulus, dengan cara saling bertolong-tolongan dan menopang satu sama lain, agar Kristus dimuliakan melalui kehidupan kita, dan nyata bahwa kita benar-benar murid Kristus yang sejati (Gal 6:2).

Renungan :
Tidakkan saudara sadar, bahwa Kristus datang dan mati itu karena kasih? Ia juga menghendaki saudara memiliki kasih dalam kehidupan saudara, bukan kasih yang semu melalui kata-kata, tetapi kasih yang nyata melalui perbuatan saudara terhadap sesama orang percaya.

Kasih itu memberi serta berkorban, dan Kristus adalah teladan kasih yang sejati

Renungan Harian, 23 Mei 2012

Terdaftar di Sorga

Bilangan 26:1-65; Lukas 10:20
“Kepada suku-suku itulah harus dibagikan tanah itu menjadi milik pusaka menurut nama-nama yang dicatat;” (Bilangan 26:53).

Dalam pasal ini, TUHAN memerintahkan Musa dan Eleazar anak imam Harun untuk menghitung seluruh bangsa Israel dari setiap suku dan kaum mereka. Ini adalah kali kedua seluruh bangsa Israel dihitung. Namun penghitungan kali ini berbeda dengan penghitungan yang pertama. Dalam penghitungan yang pertama ada pengangkatan pemimpin setiap suku dan jumlah orang dewasa setiap suku. Sedangkan dalam penghitungan yang kedua, tidak ada lagi pengangkatan pemimpin, namun dari setiap suku, kaum-kaum yang ada disebutkan namanya. Itu semua Tuhan perintahkan bukan tanpa maksud. Jika melihat pada ayat 53 sampai 56, maka nampak jelas bahwa maksud dari penyebutan nama kaum adalah untuk pembagian milik pusaka sesuai dengan nama kaum mereka, pada waktu mereka memasuki tanah Kanaan.
Kita sebagai orang percaya merupakan milik Kristus. Dengan demikian, kita juga keturunan Abraham, bukan secara lahiriah, tetapi tercangkokkan melalui Kristus (Rm 11:17). Dengan demikian kita juga berhak menerima janji Allah, sebab kita telah menjadi ahli waris dalam Kristus (Gal 3:29; 4:7).
Harta waris yang kita terima bukanlah tanah Kanaan lagi, namun lebih daripada itu, yaitu segala berkat rohani dalam kerajaan sorga (Ef 1:3). Oleh sebab itulah firman Tuhan mengingatkan kepada setiap kita orang percaya untuk tidak memusingkan diri dengan perkara-perkara yang ada di dunia ini, sebab semuanya itu sifatnya sementara. Tuhan menghendaki setiap kita memikirkan perkara yang di atas, yang rohani dan sorgawi, yang bersifat kekal (Kol 3:1-2).
Itulah sebabnya Yesus sendiri mengingatkan setiap orang percaya agar di dalam hidupnya tidak berbangga diri atas segala karunia dan tanda-tanda mujizat yang menyertai pelayanan mereka, tetapi mereka harus bersukacita karena nama mereka terdaftar di sorga (Luk 10:20).
Sama halnya dengan harta warisan, yang berhak menerima adalah orang yang namanya ada dan tercantum dalam surat warisan, jika tidak, maka orang itu tidak berhak menerima harta warisan tersebut. Maka kita pun patut bersukacita, bukan karena semua tanda yang menyertai pelayanan dan kehidupan rohani kita, tetapi karena satu hal, yaitu nama kita tercatat di sorga sebagai ahli waris sorgawi.

Renungan :
Jika saat ini saudara berbangga dengan tanda yang menyertai pelayanan dan kehidupan rohani saudara, sadarlah bahwa bukan itu yang penting. Yang terpenting adalah nama saudara tercatat di sorga.

Harta waris sorgawi lebih penting dan berharga daripada segala tanda dan mujizat

Renungan Harian, 22 Mei 2012

Baptisan Pertobatan

Bilangan 19:1-22; Kisah Para Rasul 2:38-40
“Maka seorang yang tahir haruslah mengumpulkan abu lembu itu dan menaruhnya pada suatu tempat yang tahir di luar tempat perkemahan, supaya semuanya itu tinggal tersimpan bagi umat Israel untuk membuat air pentahiran; itulah penghapus dosa” (Bilangan 19:9).

Setiap orang percaya pastilah sepakat bahwa keselamatan itu tidak bisa diperoleh dengan usaha sendiri sebagai manusia. Keselamatan hanya bisa diperoleh oleh karena iman percaya kita kepada Kristus, sebab Kristus telah mati di atas kayu salib untuk menebus dosa setiap kita. Tetapi, tahukah kita kalau keselamatan menyangkut dua aspek? Aspek pertama, yaitu dari pihak Allah yang memberi keselamatan. Allah telah memberikan Anak-Nya yang Tunggal sebagai korban yang sempurna dan menyelamatkan setiap orang yang percaya kepada-Nya. Aspek kedua, yaitu dari pihak manusia yang menerima keselamatan. Keselamatan itu dapat kita terima, jika kita mau mengakui pengorbanan Kristus, mau bertobat dan memberi diri untuk dibaptis.
Dengan demikian, kita yang sudah bertobat dan mengaku Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat kita, maka kita wajib memberi diri untuk dibaptis. Hubungan baptisan dengan pertobatan sama halnya dengan iman dan perbuatan. Jika iman tanpa perbuatan pada hakekatnya iman itu mati, maka pertobatan tanpa baptisan hanyalah omong kosong belaka dan pertobatannya tidak bisa dipertanggungjawabkan. Firman Tuhan sendiri menyatakan, bahwa baptisan merupakan tanda seseorang telah bertobat, mendapat pengampunan dosa dan masuk dalam bilangan orang-orang yang diselamatkan (Mrk 1:4; Kis 2:38-41).
Pertobatan bersifat rohani dan berhubungan dengan hati nurani, sedangkan baptisan merupakan langkah nyata secara lahiriah dari pertobatan tersebut. Selama seseorang belum bertobat dan memberi diri untuk dibaptis, maka tidak ada pengampunan dosa dan orang tersebut belum mendapat bagian dalam keselamatan. Sebaliknya, ia masih berdosa dan masuk daftar orang binasa (Bil 19:13, 20).
Dalam baptisan, kita manunggal dengan Kristus dalam kematian-Nya dan kematian kita atas daging, agar sama seperti Kristus bangkit dari antara orang mati, kita juga dibangkitkan menjadi manusia baru, pribadi yang telah ditebus dan beroleh bagian dalam keselamatan (Rm 6:3-4).
Dengan memberi diri dibaptis, maka pertobatan kita menjadi nyata. Baptisan telah memeteraikan kita dalam keselamatan. Kita bukan lagi budak dosa dan dosa tidak lagi berkuasa atas kita. Kita menjadi pribadi yang merdeka dalam Kristus dan penghukuman maut tidak berlaku lagi atas kita (Rm 8:1-2). Jadi, berilah diri kita untuk dibaptis, supaya keselamatan itu termeterai dalam hidup kita.

Renungan :
Jika saat ini saudara sudah bertobat namun belum dibaptis, biarlah melalui kebenaran firman Tuhan hari ini saudara disadarkan. Jangan lagi tunda waktu, segera berikan diri saudara untuk dibaptis sebagai tanda pertobatan saudara.

Baptisan adalah bukti nyata dari pertobatan

Renungan Harian, 21 Mei 2012

Ketaatan Mutlak

Bilangan 15:1-41; Roma 2:6-8
“Maka jumbai itu akan mengingatkan kamu, apabila kamu melihatnya, kepada segala perintah TUHAN, sehingga kamu melakukannya dan tidak lagi menuruti hatimu atau matamu sendiri, seperti biasa kamu perbuat dalam ketidaksetiaanmu terhadap TUHAN” (Bilangan 15:39).

Taat dan ketaatan adalah sebuah kata yang sangat mudah untuk dikatakan, tetapi sukar untuk dilakukan. Ada beberapa kata dalam bahasa Yunani yang dapat diartikan dengan kata “taat”. Salah satu dari kata tersebut adalah “pistis”, kata yang sama dengan kata yang berarti “iman”. Dengan demikian, kita kita berbicara masalah ketaatan, maka hal tersebut tidak bisa dipisahkan dari iman, sebab dua-duanya berasal dari akar kata yang sama.
Bilangan 15 sangatlah menekankan pentingnya mendengarkan perintah TUHAN dan taat menjalankannya. Ayat 1 sampai 21 menghubungkan ketaatan terhadap perintah Allah dengan korban yang berkenan kepada Tuhan. Ayat 22 sampai 29 membahas bagaimana ketika seseorang secara tidak sengaja melanggar perintah Allah harus bertobat dan memberi korban sebagai pendamaian. Ayat 30 sampai 36 menunjukkan, jika pelanggaran itu disengaja, maka ada penghukuman. Sedangkan ayat 37 sampai 41 membahas tentang jumbai peringatan, supaya setiap orang senantiasa teringat akan perintah Allah dan melakukan semua perintah tersebut.
Perihal ketaatan sangatlah ditekankan dalam pasal ini. Hal tersebut dikarenakan pada pasal sebelumnya, ketidaktaatan bangsa Israel terhadap perintah Allah, membuat sebagian besar dari mereka tidak dapat masuk ke tanah perjanjian (Bil 14:28-33), hanya keturunan mereka yang bisa masuk ke tanah perjanjian dan dua orang diantara mereka, yaitu Yosua bin Nun dan Kaleb bin Yefune (Bil 14:38).
Ketaatan adalah hal yang sangat penting, sebab hal tersebut berkaitan dengan iman percaya kita. Jika kita berkata kita beriman, tetapi kita tidak taat, maka hal itu merupakan sebuah kebohongan. Dengan demikian, jika kita beriman kepada Allah, maka kita pun harus taat kepada Allah dan segala perintah-Nya, jika tidak, maka sama halnya kita menyangkali iman percaya kita sendiri kepada Allah.
Marilah kita belajar pada pribadi Abraham, pribadi yang disebut sebagai “bapa orang beriman”. Predikat tersebut tidak asal melekat pada diri Abraham, sebab dia telah membuktikan imannya dengan tetap berpegang teguh pada janji Allah dan senantiasa melaksanakan perintah Allah, bahkan saat diperintahkan untuk mengorbankan anaknya, ia taat. Dan karena ketaatannya mujizat terjadi dan anaknya tidak jadi mati. Iman dan ketaatan yang sama Allah tuntut ada pada setiap kita sebagai identitas kita sebagai orang percaya (Rm 4:18-25; Kej 22:1-19).
Ketaatan adalah mutlak bagi setiap orang percaya. Kristus sendiri telah memberikan teladan bagi setiap kita perihal ketaatan. Ia taat sampai mati demi menebus setiap kita. Marilah kita ikut teladan Kristus dengan hidup penuh dengan ketaatan terhadap kebenaran firman Tuhan.

Renungan :
Seperti firman Tuhan katakan “janganlah kita menjadi seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif”. Jangan lagi kita menunda-nunda untuk hidup taat, waktu terus bergulir dan kedatangan-Nya semakin dekat, segera ambil komitmen untuk hidup dalam ketaatan mutlak kepada Allah.

Sebagai murid yang baik, maka kita harus mengikuti teladan Guru kita dalam KETAATAN

Jumat, 16 Maret 2012

Renungan Harian, 31 Maret 2012

ROH yang Mengubahkan Hidup

1 Samuel 10:1-27; Kisah Para Rasul 1:8
“Maka Roh TUHAN akan berkuasa atasmu; engkau akan kepenuhan bersama-sama dengan mereka dan berubah menjadi manusia lain” (1 Samuel 10:6)

Roh TUHAN, Roh Allah, ataupun Roh Kudus adalah Pribadi ketiga dari Allah Tritunggal. Oleh Roh itu kehidupan setiap orang percaya terus diubahkan sejalan dengan kehendak Allah, sebab Roh itu berasal dari Allah dan Roh itu adalah Allah.
Dalam Perjanjian Lama, Roh Allah bekerja dan berkuasa atas orang-orang pilihan-Nya. Ketika Roh itu berkuasa atas seseorang, maka orang tersebut Allah pakai dengan luar biasa. Roh itu mengubahkan seseorang menjadi pribadi yang berbeda, bernubuat menyampaikan kebenaran Allah, menjadi pribadi yang berani dan siap untuk diutus Allah (Yes 6:6-8; Yer 1:6-9).
Dalam Perjanjian Baru, Yesus sendiri berbicara akan datangnya Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang membimbing dan mengajar setiap orang percaya akan setiap kebenaran firman Allah (Yoh 14:26). Roh itu mengubahkan  kehidupan setiap orang percaya menjadi saksi Kristus (Kis 1:8; 2:4, 14).
Bahkan, lebih dalam lagi firman Tuhan menegaskan bahwa Roh itu, sebagai jaminan akan keselamatan yang telah kita terima. Sebab oleh Roh itulah kita diinsafkan dan mengaku Yesus sebagai Tuhan dan diselamatkan (1 Kor 12:3; 2 Kor 3:17; 2 Tes 2:13). Roh itu memeteraikan keselamatan yang telah kita terima, sehingga kita tetap tinggal dalam keselamatan tersebut (Ef 1:13).
Itulah sebabnya, mengapa Roh Kudus sangat penting dalam kehidupan setiap orang percaya. Hidup tanpa Roh, berarti hidup diluar keselamatan, sebab Roh itu merupakan jaminan keselamatan. Itu sebabnya kita harus hidup dalam Roh, sebab kita bukanlah milik kita lagi melain milik Kristus (Rm 8:4-6, 16; Ef 5:18).
Dengan demikian hendaknya hidup kita senantiasa kita hidup di dalam Roh, dan biarlah Roh itu berkuasa penuh atas kehidupan kita, agar kehidupan kita dibimbing dan semakin dewasa di dalam Kristus.

Renungan :
Biarlah melalui renungan hari ini setiap kita menyadari arti pentingnya Roh Kudus dalam kehidupan kita orang percaya. Serahkan hidupmu dan biarkan Roh itu berkuasa penuh atas dirimu, untuk membawa dirimu semakin berkenan kepada Allah.

Roh Kudus adalah jaminan dan materai KESELAMATAN

Renungan Harian, 30 Maret 2012

Menghormati Hadirat Allah 

1 Samuel 6:1-21; Kisah Para Rasul 19:13-16
“Dan ia membunuh beberapa orang Bet-Semes, karena mereka melihat ke dalam tabut TUHAN; Ia membunuh tujuh puluh orang dari rakyat itu. Rakyat itu berkabung, karena TUHAN telah menghajar mereka dengan dasyatnya” (1 Samuel 6:19)

Allah adalah Pribagi yang sangat konsisten dengan kekudusan. Itulah sebabnya, ketika manusia jatuh dalam dosa, Allah mengusir manusia dari taman Eden, sebab gambaran kekudusan Allah pada manusia saat manusia jatuh dalam dosa telah rusak.
Manusia, tidak dapat lagi dengan leluasa berhubungan dengan Allah. Ada serangkaian syarat dan pra-syarat yang harus dipenuhi sehingga berkenan kepada Allah.
Dalam dunia Perjanjian Lama, ada satu suku yang dikhususkan dari bangsa Israel yang dapat melayani Allah, sebagai imam dan membawa Tabut Perjanjian. Selain suku Lewi, suku lain tidak diperkenankan untuk mendekat pada Tabut tersebut, jika dilanggar maka mereka akan memperoleh penghukuman dari Allah sendiri, yaitu kematian.
Ketika melihat Tabut Allah, orang Bet-Semes sangat bersukacita, namun sebagian dari mereka sangat penasaran dengan apa yang ada di dalam Tabut Allah, sehingga mereka mendekat, dan akhirnya mereka mendapatkan penghukuman dari Allah.
Dalam Perjanjian Baru, juga ada kisah tetang anak-anak Skewa yang bermain-main dengan nama Yesus (Kis 19:13-16), dan akibatnya iblis mempermainkan mereka. Sebab firman Tuhan dengan tegas menyatakan bahwa Allah tidak akan pernah membiarkan diri-Nya dipermainkan (Gal 6:7). Ia memang Allah yang penuh kasih, tetapi Ia juga Allah yang tegas jika berbicara tentang atribut diri-Nya.
Kekudusan sangatlah penting artinya bagi Allah. Itulah sebabnya ada firman yang menyatakan bahwa kita harus “mengejar” kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorangpun dapat melihat Allah (Ibr 12:14). Kekudusan merupakan alat ukur penentu apakah seseorang dapat berkomunikasi dengan Allah.
Sebagai orang percaya kita patut mengucap syukur, sebab detik kita menerima Kristus, kita menerima keselamatan dan “dikuduskan” sehingga dapat berkomunikasi dengan Allah (1 Kor 1:30). Tugas kita adalah menjaga kehidupan kita tetap tinggal dalam kekudusan tersebut.

Renungan :
Biarlah melalui renungan hari ini, kita diingatkan akan pentingnya kekudusan. Kita harus terus tinggal didalamnya dan tidak bermain-main dengan kekudusan.

Kekudusan adalah parameter yang membawa perjumpaan dengan Allah

Renungan Harian, 29 Maret 2012

Bertekun dalam Doa

1 Samuel 1:1-28; Roma 12:12
“dan dengan hati pedih ia berdoa kepada TUHAN sambil menangis tersedu-sedu. … . Maka setahun kemudian mengandunglah Hana dan melahirkan seorang anak laki-laki. Ia menamai anak itu Samuel, sebab katanya: “Aku telah memintanya dari pada TUHAN” (1 Samuel 1:10, 20)

Hana adalah sosok wanita yang luar biasa. Ia adalah wanita yang tegar dalam menghadapi permasalahan di dalam kehidupannya. Walaupun ia diperlakukan secara kurang adil oleh suaminya (1 Sam 1:4-5), dan selalu disakiti oleh madunya (ayat 6) ia tetap tegar dan sabar, serta menaruh semua permasalahan yang ia hadapi dan berserah sepenuhnya pada Allah.
Pada suatu kesempatan, Hana berdoa dengan sungguh-sungguh dengan hati yang pedih ia membawa segala perkaranya kehadapan Allah. Allah melihat kesungguhan hati Hana dan akhirnya memberikan keturunan pada Hana.
Hal yang luar biasa yang dilakukan oleh Hana, ketika dia telah mendapatkan keturunan, ia selalu ingat akan janji dan nazarnya kepada Allah dan menyerahkan anak yang dilahirkannya kepada Allah sesuai nazarnya.
Kita sebagai orang percaya, tidaklah pernah terlepas dari permasalahan. Terkadang masalah itu datang bertubi-tubi dalam kehidupan kita. Membuat seolah-olah kita terjepit, mengalami jalan buntu dan tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan, sama seperti kisah Hana yang mandul dan sesalu diperolok oelh madunya.
Suatu pelajaran berharga yang kita dapatkan dari tindakan Hana adalah ketika masalah itu begitu menjepit, ia sadar ada satu Pribadi yang luar biasa yang sanggup melepaskan dia dari permasalahan yang ia hadapi, Pribadi itu adalah Allah sendiri, itu sebabnya ia berseru dan menyampaikan segala perkaranya kepada Allah.
Biarlah kita, orang percaya mengikuti teladan Hana, ketika masalah datang dan menghimpit kita, kita tidak bersunggut-sunggut dan mengandalkan kekuatan kita untuk menyelesaikan masalah tersebut, tetapi senantiasa bersandar pada Allah, sebab Ia pasti memberikan kelegaan dan jalan keluar atas setiap masalah kita (Mat 7:7-8; 11:28; 21:22).
Ketika kita tidak tahu bagaimana kita harus berdoa, berdoa saja dalam Roh, sebab Roh itu akan membantu kita untuk menyampaikan keluhan-keluhan kita yang tidak terkatakan kepada Allah (Rm 8:26-27). 

Renungan :
Ketika masalah datang kepada saudara, janganlah cemas dan putus asa. Serahkanlah segala kuatirmu kepada Allah, maka Dia Allah yang setia pasti memberikan jawaban serta jalan keluar atas setiap masalah yang saudara hadapi

Doa adalah pendobrak pintu-pintu kemustahilan

Renungan Harian, 28 Maret 2012

Kasih Persaudaraan 

Hakim-hakim 21:1-25; Yohanes 13:34-35
“Orang-orang Israel merasa kasihan terhadap suku Benyamin, saudaranya itu, maka kata mereka: “Hari ini ada satu suku terputus dari orang Israel” (Hakim-hakim 21:6)

Perlulah disadari oleh setiap orang percaya, bahwa inti dari pengajaran seluruh kebenaran firman Tuhan, berbicara tentang “kasih”. Sebab kasih adalah sifat, karakter dan kepribadian Allah (1 Yoh 4:8, 16). Kasih itu menjadi sangat nyata melalui Pribadi Kristus. Ketika Ia datang ke dunia, Ia bukan sekedar bermaksud untuk menunjukkan Kuasa-Nya, tetapi untuk menunjukkan kasih-Nya kepada orang yang percaya kepada-Nya (Yoh 3:16).
Itulah sebabnya juga, Allah mau supaya setiap orang percaya – yang telah menerima kasih Allah melalui pengorbanan Kristus di atas kayu salib, sehingga diselamatkan – hidup di dalam kasih kepada Allah dan kepada sesama manusia.
Sejak dari semula iblis tidak suka melihat hubungan yang harmonis antara Allah dan manusia serta manusia dengan sesamanya. Sehingga ia menggoda manusia yang pertama sampai jatuh dalam dosa, kehilangan kemuliaan Allah serta jauh daripada Allah. Kemudian dalam Kejadian 4, tercatat perselisihan yang pertama antar sesama manusia sampai mengakibatkan kematian Habel adik Kain. Kasus Esau dan Yakub serta Yusuf dan saudara-saudaranya, semua perselisihan itu adalah akibat dosa dari kejatuhan manusia setelah tergoda oleh tipu muslihat iblis.
Sebagai orang percaya, kita harus sadar bahwa Allah menuntut kita untuk senantiasa hidup di dalam kasih (Mat 22?:37-40). Di pihak lain, ada pribadi yang terus berusaha untuk memecah-belah kehidupan setiap orang percaya, supaya tidak ada keharmonisan diantara setiap orang percaya, dan pihak lain itu adalah iblis (Rm 16:17; Yud 19).
Kasih adalah hal yang penting bagi kehidupan orang percaya. Oleh kasih kita telah diselamatkan, itulah sebabnya kita juga dituntut untuk hidup saling mengasihi. Sebab tidak mungkin kita bisa berkata kita mengasihi Allah yang tidak kelihatan, jika kita tidak mengasihi sesama kita yang kelihatan (1 Yoh 4:19-21).
Yesus sendiri menegaskan bahwa hidup dalam kasih adalah ciri orang percaya sebagai murid-murid Kristus yang sejati (Yoh 13:34-35). Jadi tidaklah mungkin kita mengaku sebagai murid Kristus, jika tidak ada kasih dalam kehidupan kita.
Paulus juga mengingatkan bahwa setiap orang percaya adalah bagian dari anggota tubuh Kristus yang harus senantiasa saling menguatkan, menopang dan menghiburkan satu sama lain (1 Kor 1:10; 12:25-27).

Renungan :
Biarlah saudara saat ini diingatkan pentingnya hidup dalam kasih. Kasih adalah identitas orang percaya sebagai murid Kristus. Oleh sebab itu biarlah kasih bukan sekedar slogan, tetapi menjadi gaya hidup dalam kehidupan saudara !

Kasih adalah tali pengikat yang erat dalam tubuh Kristus

Renungan Harian, 27 Maret 2012

Jangan Tergoda

Hakim-hakim 16:1-31; Efesus 6:11
“Maka diceritakannyalah kepadanya segala isi hatinya, katanya: “Kepalaku tidak pernah kena pisau cukur, sebab sejak dari kandungan ibuku aku ini seorang nazir Allah. Jika kepalaku dicukur, maka kekuatanku akan lenyap dari padaku, dan aku menjadi lemah dan sama seperti orang-orang lain” (Hakim-hakim 16:17)

Kisah Simson bukanlah cerita yang asing ditelinga setiap orang percaya. Kisah tersebut menceritakan tentang seorang nazir Allah, yang Allah pakai sebagai Hakim atas bangsa Israel. Jika Superman merupakan manusia yang kuat, namun hanya sebuah cerita fiksi dan bukanlah suatu kenyataan, maka Simson adalah superman yang sebenarnya. Kekuatan yang ia miliki bukanlah hasil dari berlatih, tetapi kekuatan yang melimpah tersebut ia miliki karena Roh Allah berkuasa atas dirinya (Hak 15:14).
Walaupun Simson merupakan manusia yang kuat dan pahlawan Israel yang perkasa, namun ia adaalh pribadi yang mudah jatuh dalam rayuan wanita. Suatu ketika ia bertemu dengan wanita Filistin yang cantik dan ia jatuh cinta kepada wanita tersebut (Hak 16:4), tanpa menyadari bahwa wanita tersebut dipakai sebagai alat untuk menaklukkan dirinya (Hak 16:5).
Ketika Delila merayu Simson terus-menerus (Hak 16:6, 10, 13, 15), akhirnya Simson jatuh dalam rayuan wanita tersebut dan menceritakan letak kekuatannya. Dengan demikian orang Filistin dapat dengan mudah menaklukkan Simson dan membutakan matanya.
Delila adalah lambang dunia, yang dipakai sebagai alat bagi iblis untuk menggoda orang percaya, agar orang percaya jatuh dalam dosa, kehilangan kemuliaan Allah dan jauh dari Allah. Itulah sebabnya mengapa firman Tuhan mengumpamakan iblis sebagai singa yang terus mengaum di sekeliling kita, menanti saat dimana kita terlena dan lengah supaya dapat menelan kita (1 Pet 5:8b).
Itulah sebabnya kita orang percaya harus terus berjaga-jaga (1 Pet 5:8a), supaya kita tidak tergoda dan tertipu oleh iblis. Kita harus senantiasa mengenakan selengkap senjata Allah (Ef 6:11), sehingga ketika iblis datang menggoda dengan rupa-rupa keinginan dunia, kita tidak tergoda serta masuk jebakkan iblis.
Kita perlu untuk selalu menjaga iman kita kepada Yesus, sebab iman itulah benteng pertahanan kita dalam menghadapi serangan tipu muslihat iblis (Ef 6:16; 1 Pet 5:9). Dengan terus membangun iman kita dalam Kristus, maka sama halnya kita membangun sebuah bangunan dengan pondasi yang sangat kuat yang tidak mudah dirobohkan oleh angin tipu muslihat iblis.

Renungan :
Sadarlah, bahwa iblis semakin giat untuk menggoda orang percaya, supaya mereka jatuh dalam dosa, sebab iblis tahu saatnya semakin singkat bagi dia. Oleh sebab itu, berjaga-jagalah dan jangan menjadi lemah !

Iman adalah benteng yang kuat menahan godaan iblis

Renungan Harian, 26 Maret 2012

Memenuhi Nazar

Hakim-hakim 11:1-40; Kisah Para Rasul 18:18
“Demi dilihatnya dia, dikoyakkanlah bajunya, sambil berkata: “Ah, anakku, engkau membuat hatiku hancur luluh dan engkaulah yang mencelakakan aku; aku telah membuka mulutku bernazar kepada Tuhan, dan tidak dapat aku mundur” (Hakim-hakim 11:35)

Saat ini kita belajar dari pribadi yang luar biasa. Pribadi itu adalah Yefta, seorang pahlawan Israel yang luar biasa (Hak 11:1). Ia menjadi Hakim atas Israel, melalui dia Allah mengaruniakan kemenangan yang luar biasa atas bani Amon (Hak 11:32-33).
Sebagai seorang pemimpin dan pahlawan bagi bangsa Israel, Yefta memiliki karakter yang luar biasa. Ia adalah pribadi yang selalu konsisten dengan apa yang dilakukan dan diucapkannya. Ia selalu menepati segala sesuatu yang ia ucapakan.
Sebelum ia berangkat berperang melawan bani Amon, ia mengucapkan suatu nazar kepada Allah, bahwa jika ia menang dalam peperangan, yang pertama kali keluar dari pintu rumahnya akan dikorbankan bagi Allah (Hak 11:31). Ketika ia berkata demikian, Yefta tahu benar bahwa setiap nazar yang keluar dari mulut seseorang haruslah dipenuhi (Bil 30:2), sebab nazaar adalah suatu perjanjian dengan Allah.
Pada waktu berperang, Allah memberikan kemenangan yang luar biasa pada bangsa Israel. Dan ketika Yefta pulang, didapati anak perempuannya adalah yang pertama kali keluar dari pintu rumahnya. Anak itu adalah anak satu-satunya yang dimiliki oleh Yefta. Walaupun ia sempat bersedih, tetapi sebagai hamba Allah, pada akhirnya ia menepati janjinya dengan mempersembahkan anaknya sebagai korban bagi Allah (Hak 11:39).
Kisah tersebut adalah nyata dan tercatat dalam sejarah Alkitab, kisah yang luar biasa yang menunjukkan sebuah komitmen dalam menepati sebuah nazar. Dan dari kisah ini kita belajar suatu kebenaran firman Tuhan, bahwa sebagai anak-anak Tuhan kita patut menjaga setiap perkataan kita. Kita memang boleh saja “bernazar”, tetapi kita harus tahu juga bahwa ketika kita bernazar, kita tidak sedang berjanji pada manusia, tetapi kita sedang berjanji kepada Allah. Akan setiap “nazar” yang keluar dari mulut kita, Allah pasti menuntut pertanggungan jawab kita, atas “nazar” tersebut.
Oleh sebab itu, sebagai orang percaya, janganlah kita mudah sekali mengucapkan suatu “nazar” jika kita tidak dapat memenuhinya, sebab Allah akan memperhitungkannya sebagai sebuah dosa dan kesalahan.

Renungan :
Jika saudara hari ini sadar, bahwa seringkali saudara bernazar kepada Allah dan tidak menepatinya, segeralah bertobat, minta ampun pada Allah dan penuhilah nazar saudara dihadapan Allah, maka Ia Allah yang setia akan mendengarkan doa saudara.

Orang benar selalu setia dalam perkataannya

Kamis, 15 Maret 2012

Renungan Harian, 25 Maret 2012

Persembahan Sulung

Nehemia 10:1-39; Roma 12:1-2
“Lagipula setiap tahun kami akan membawa ke rumah TUHAN hasil yang pertama dari tanah kami dan buah sulung segala pohon. Pun kami akan membawa ke rumah Allah kami, yakni kepada para imam yang menyelenggarakan kebaktian di rumah Allah kami, anak-anak sulung kami dan anak-anak sulung ternak kami seperti tertulis dalam kitab Taurat, juga anak-anak sulung lembu kami dan kambing domba kami.” (Nehemia 10:35-36)

Dalam pasal yang kita baca hari ini, diceritakan bagaimana Nehemia mengikat suatu perjanjian dengan orang Israel untuk hidup berkenan kepada Allah sebagai tanda penyesalan dan pertobatan mereka. Dalam perjanjian tersebut juga disinggung tentang persembahan, baik perpuluhan maupun persembahan sulung.
Melalui firman Tuhan yang kita baca hari ini salah satu point-nya adalah membawa persembahan yang sulung kehadapan Allah. Memang benar di dalam Perjanjian Lama hal tersebut masih tampak samar dari belum jelas kenapa harus yang sulung.
 Tetapi ketika kita melihat ke dalam Perjanjian Baru, barulah kita mengetahui bahwa sebenarnya korban sulung dan persembahan sulung merupakan sebuah gambaran dari pengorbanan Yesus. Sebab Ia disebut sebagai yang “SULUNG” dari Allah. Kata sulung sendiri memiliki arti utama dan yang terbaik. Itu sebabnya dalam adat Israel anak sulung mendapatkan berkat lebih besar dari anak yang lainnya, dan itu juga yang menjadi alasan mengapa hak kesulungan demikian penting.
Yesus sebagai persembahan sulung yang sejati telah mati dan menebus setiap orang yang percaya menjadi orang yang hidup berkemenangan. Sekarang adalah bagian kita orang percaya.
Korban Kristus itu akan berfungsi dalam kehidupan kita, jika kita benar-benar mau mengosongkan diri kita sepenuhnya dan menyerahkan pada Kristus dan membiarkan Ia bertahta dalam kehidupan kita.
 Tanpa adanya penundukan diri kepada Kristus dan menyerahkan seluruh hidup kita sebagai persembahan sejati pada Kristus, maka kita tidak bisa menerima sebagai Tuhan kita. Itulah sebabnya Tuhan menghendaki setiap kita orang percaya mempersembahkan buah sulung kita, yaitu kehidupan kita sendiri, dengan demikian Kristus benar-benar bertahta dalam kehidupan kita dan kita beroleh keselamatan yang sempurna.

Renungan :
Melalui firman Tuhan hari ini saudara diingatkan untuk memberikan diri saudara sepenuhnya pada Kristus. Tanpa itu maka saudara tidak bisa menerima keselamatan yang sejati, jangan tunda lagi berikanlah dirimu sepenuhnya pada Kristus dan biarkan Dia berkarya dalam kehidupan saudara.

Hidup kita adalah persembahan sulung yang sejati bagi Kristus

Renungan Harian, 24 Maret 2012

Disertai oleh Allah

Nehemia 2:1-20; Markus 6:50
“Ketika kuberitahukan kepada mereka, betapa murahnya tangan Allahku yang melindungi aku dan juga apa yang dikatakan raja kepadaku, berkatalah mereka: "Kami siap untuk membangun!" Dan dengan sekuat tenaga mereka mulai melakukan pekerjaan yang baik itu.”  (Nehemia 2:18)

Nehemia adalah seorang yang sehari-hari berhadapan dengan raja. Hal itu dikarenakan dia adalah seorang juru minum bagi raja. Sebagai seorang juru minum raja ia harus meracik dan menyediakan minuman bagi raja. Pekerjaannya adalah sebuah pekerjaan yang sangat beresiko. Jika dia salah meracik minuman yang mengakibatkan raja sakit saja ia bisa kehilangan nyawanya. Bukan itu saja, ketika ia menyajikan minuman di hadapan raja, ia harus menyajikan dengan sukacita dan tidak boloeh sedih atau cemberut sekalipun, sebab itu bisa dianggap mencurigakan dan penghinaan terhadap raja, dan akibatkan dia bisa mendapat hukuman mati.
Pada cerita yang kita baca hari ini, tidak seperti biasanya Nehemia datang kepada raja dengan bersedih, bukan dibuat-buat, tetapi ia benar-benar sedih memikirnya nasib bangsanya. Secara normal, hal itu bisa mendatangkan celaka bagi dirinya, tetapi waktu hati raja diubahkan oleh Allah, ia berbaik hati dan bertanya kepada Nehemia, apa yang membuat hatinya begitu sedih. Yang luar biasanya ketika Nehemia dengan jujur mengatakan alasan yang sebenarnya mengapa hatinya sedih, hal yang tidak diduga oleh Nehemia dilakukan oleh raja. Ia mengijinkan Nehemia untuk pulang dan membangun negerinya.
Setiap kita juga pernah mengalami situasi yang dialami oleh Nehemia. Pada waktu itu pastilah kita menjadi takut dan tidak karuan rasanya. Hal itu pun dirasakan oleh Nehemia. Tetapi pesan firman Tuhan hari ini pada setiap kita adalah dalam situasi yang demikian percayalah bahwa Allah tidak pernah meninggalkan saudara. Asal saja saudara bersikap jujur dan bertindak benar dihadapan Allah, maka pastilah pembelaan Allah itu sempurna dalam kehidupan kita.

Renungan :
Biarlah melalui firman Tuhan hari ini kita dikuatkan dan tidak menjadi takut ketika kita menghadapi situasi yang dilematis. Tetaplah bersandar pada Allah dan lakukan yang benar, maka pastilah penyertaan-Nya sempurna dalam kehidupan saudara.

Orang benar selalu disertai oleh Allah

Renungan Harian, 23 Maret 2012

Menunaikan Tugas Panggilan

Ezra 7:1-28; Titus 3:1
“Maka aku menguatkan hatiku, karena tangan TUHAN, Allahku, melindungi aku dan aku menghimpunkan dari antara orang Israel beberapa pemimpin untuk berangkat pulang bersama-sama aku.”  (Ezra 7:28b)

Setiap orang percaya dipanggil untuk melayani Dia dan menjadi berkat bagi orang disekelilingnya dan memuliakan nama Allah dalam segala aspek kehidupan orang percaya. Termasuk juga kita harus juga menjadi berkat bagi negera kita.
Seringkali kita lebih mudah mengkritik kesalahan dari bangsa kita daripada ambil bagian dalam pemulihan negara kita. Kita sering kali menempatkan diri kita sebagai seorang komentator sebuah pertandingan sepak bola. Kita begitu gencar dan semangat ketika mengomentari setiap pemain sepak bola ketika mereka menendang bola, mengumpan, memasukkan goal, bahkan ketika mereka melakukan sebuah kesalahan.
Kita bahkan menyalahkan pemain tersebut, dan mengatakan bahwa seharusnya tidak demikian harusnya memakai pola tertentu dan komentar-komentar yang mengkriktik lainnya. Padahal jika kita ditempatkan pada lapangan sesungguhnya, pastilah kita tidak bisa berbuat lebih baik, bahkan menendang bola dengan benar pun kita tidak bisa.
Biarlah kita mengikuti teladan Ezra yang perduli akan bangsanya. Ia menguatkan hatinya dan memimpin rakyat Israel untuk kembali ke negerinya dan membangun kembali negerinya tersebut.
Saat ini pun Tuhan tantang setiap kita untuk berbuat sesuatu bagi negeri kita. Sehingga kita bukan hanya bertindak sebagai seseorang yang pandai bicara dan mengritik negara kita saja, tetapi berbuat sesuatu untuk kedamaian negeri kita tercinta ini. Jika saudara kerja di pemerintahan, berikan yang terbaik dan bekerjalah secara jujur, dengan demikian saudara bisa jadi berkat.Banyak hal yang bisa kita lakukan bagi negeri kita sebagai warga negara yang baik. Sudah selayaknya kita berdoa bagi negeri kita.

Renungan :
Melalui firman Tuhan hari ini, biarlah kita diingatkan akan panggilan kita, bukan hanya melayani Allah saja, tetapi juga berbuat yang terbaik bagi negara kita. Berdoalah bagi kesejahteraan negeri.

Allah memanggil setiap orang percaya sebagai terang bagi negerinya !

Learn The Truth of Christian Values Headline Animator

Entri Populer